Colorfull, Beautiful. Enjoy the view and the coolness of the breeze. Hmmmm... Can I plant it in Indonesia?
"When your head gets noisy, write it down" turn out it looks like a complaining and crazy blog now. It was blog full of critical thinking, social cause awareness, motivation and other positive energy. But at a point, it flipped 180 degree, there some posts tried to back to those "positive energy only", but not yet succeeded. Keep fall and fall. Anyway, dont you think write down your crazy thoughts here is better than to mainstream social media?
Wednesday, December 31, 2014
Kalian Membuat Kami Tak Enak Makan
Kalian membuat kami tak enak makan, pun tak bergairah berbelanja keinginan. Membuat kami menyesal menenteng beberapa kresek makanan penyesak perut, pun menyesal telah memenuhi troli belanja kami dengan kelupaan diri. Membuat kami merasa bersalah saat membuang sisa makanan yang kami anggap tak enak lagi, pun saat membuang belanjaan yang telah kadaluarsa, tak terpakai bahkan terlupa. Bagaimana tidak? Perut kami manja. Tak mau makan secukup kenyang. Nafsu kami memburu. Menuruti keinginan mata membeli ini itu. Belagak punya uang. Padahal uang beasiswa dari negara. Uang yang sebenarnya, kalian juga berhak menikmatinya. Tapi kalian mau mengais sampah. Memilih mana yang bisa berubah menjadi nasi. Tapi kalian mau jualan ecek-ecek sepenuh hari padahal jika sehari tak laku, sehari pula tak makan. Teringat satu warta, bisa jadi uang kalian lebih banyak dari kami. Kalian menabung. Tapi kalian tetap sederhana, tak lantas memanjakan perut dan mata. Terima kasih telah selalu mengingatkan kami. Mengingatkan kami, bahwa kami hidup harus bijaksana.
![]() |
| Sumber gambar: gerak-nafas.blogspot.com |
![]() |
| Sumber gambar: dzihrina.wordpress.com |
Bulimia
![]() |
| Sumber gambar: http://www.joanmartinezcerda.com/ |
Satu kosakata yang saya peroleh dari seorang sahabat. Kembali tertarik membahas karena ternyata artis Tina Toon juga pernah mengalaminya. Awalnya saya tak mengerti maksudnya. Ternyata, Sahabatku tadi seolah menyadari bahwa ada yang namanya "bulimia" dalam dirinya. Saya tak menyangka sejauh itu, yang saya tahu ia sering sekali mengeluh dirinya gendut dan selalu ingin mengontrol jumlah makanan yang masuk. Gendut? terkadang sedikit kesal tak tahu harus bagaimana meyakinkannya bahwa ia tidak gendut, bahkan cenderung kurus. Sampai niat membeli timbangan untuk memantau berat badan. Saya pikir, mungkin karena mau menikah jadi menjaga bentuk tubuh. Kenyataan mungkin sedikit lebih rumit, bulimia. Merasa telah makan dengan jumlah tak terkendali/tak wajar kamudian dengan sengaja merangsang tubuh agar muntah. Sebenarnya ada beberapa kemungkinan perilaku. Artikel lengkap mengenai bulimia ini dapat di baca di sini.
One-day #2: Refreshing Yard
Then lets imagine, we can enjoy the beauty of our flowers garden all day long. Orchids, roses, take care of it every afternoon.. how relaxed. Not only flowers but also the beautiful green leaves of many plant.. is true refreshing.. We can also put some vegetables or herbs like chilies and limes.
![]() |
| This plant reminds me to my childhood. I really wanna have but I dont know the name. Poorly, the internet search engine cant find it by the clues given. Sumber gambar: http://naqiyaaiko.blogspot.com/ |
Tuesday, December 30, 2014
Bahtera Terbaik Menggapai Surga
Selalu saja ada rasa bangga dan haru mendengar, membaca dan menyaksikan pasangan-pasangan yang merayakan kelanggengan rumah tangga mereka. Apakah itu lima, sepuluh atau dua puluh tahun.
Mereka bukan sedang di kapal pesiar. Mereka sedang mengarungi sebuah misi kemanusiaan di sebuah biduk ringkih yang diterpa amuk gelombang sambil berpegang kuat pada seutas tali dari langit.
Sungguh, tak ada manusia perkasa yang sanggup melakukannya. Ini adalah prestasi para hero yang dengan cerdik menyadari bahwa rumahtangga adalah bahtera terbaik menggapai surga.
-Adriano Rusfi-
One-day #1: Fruit Garden
The most thing that I want. Imagine! I can eat fruits as much and as often as I want. No boredom to enjoy, not just the fruits but also the garden view. Oranges, apples, guavas, mangoes and grapes are the most interesting ones. But I wanna plant aaaallll kinds of fruits :)
| Sumber gambar: noertjahyo.wordpress.com |
| Sumber gambar: en.wikipedia.org |
Monday, December 29, 2014
"Satu Dewan Dua Palu"
Sering terngiang pernyataan Gus Dur yang kala itu menyarankan pembubaran anggota dewan. Seperti anak TK katanya. Meskipun perlu pemikiran seribu kali jika saran tersebut harus diambil, saya sering ingin mengiyakan penyamaan tadi. Bagaimana tidak, entah memang sejak dahulu atau baru-baru ini (beberapa bulan ini maksudnya, dulu semasa kecil saya tidak menyukai program berita), kelakuannya suka aneh-aneh. Seperti berita heboh saat DPR memiliki "dua palu". Heran saat mendengar berita yang isinya banting meja, walk out, ricuh, terbagi dua kelompok, sering ada kondom di tempat sampah, tamu wanita nggak jelas, liat gambar porno di ruang rapat, tidur saat rapat, kicauan kasar di twitter, ngotot, korupsi dan berita lainnya. Jika hanya melihat dari sisi ini, memang seperti melihat anak-anak TK. Dewasa memang bukan perkara umur.
Ricuh saat rapat bahkan sampai banting meja. Kabar tidur juga sering. Kepagian bangun? itu.. karena harus ngonde rambut dulu, hehe. Mm mahasiswa juga sering tidur di kelas, alasannya bisa jadi semalam begadang (mengerjakan tugas, menonton film, dll), suara dosen kurang terdengar (bisa memang karena suara dosen, pengeras suara yang kurang bagus atau desain ruangan yang tidak tepat), atau bisa juga karena materinya yang kurang menarik. Yaa sama halnya dengan anggota dewan, kemungkinan alasannya bisa sama dengan mahasiswa yang tidak fokus di kelas tadi. Lihat saja ruang rapat DPR, saya dapat bayangkan kondisinya. Ruangan besar, kursi empuk, jarak antar spot cukup lebar, dingin AC, pembicara di depan jauh sehingga nampak kecil. Kondisi yang cukup mendukung untuk terlelap. Apalagi jika tidak ada kepentingan (antusias) terhadap topik bahasan.
"Ih lo makan mie instan?" - "Woles Keles Bro!"
Pernah ada masa di mana saya anti dengan yang namanya saus, mie instan, msg, jajanan di jalanan dan makanan-makanan yang katanya memiliki dampak-dampak fatal. Bodoh, kanker, keguguran, dan lain sebagainya. Kebanyakan, saya mempercayainya karena cerita tersebut saya peroleh dari guru di sekolah. Sejak akhir masa SD, hal-hal tersebut mulai tertanam. Semakin lama, sebenarnya pandangan tersebut semakin luntur meskipun kebiasaannya masih terbawa. Luntur, karena tanpa sadar, diperlukan bukti, alasan logis bahkan ilmiah untuk menjadikannya hal-hal yang dapat dipercaya. Sampai di tingkat dua kuliah, saya berada pada situasi tak nyaman, di mana cukup banyak orang-orang (baik langsung maupun melalui tulisan) berpendapat ini itu mengenai makanan tanpa memiliki dasar yang jelas bahkan cenderung sok tahu. Apalagi jika memiliki kecenderungan memojokkan konsumen makanan-makanan sejenis. Seperti halnya ini, mm mungkin topiknya sudah basi, mie instan.
"Mengandung lilin berbahaya". Saya penasaran dari mana pemikiran tersebut dapat muncul. Jika saat direbus nampak ada minyak, itu ada pada mie karena mie digoreng saat proses produksinya, agar mie awet dan gurih. Dapat menjadi awet karena kandungan air dalam mie instan sangat rendah yaitu sekitar 4%. Mie menjadi mengandung lemak (minyak goreng) sehingga untuk menghindari oksidasi (tengik), ditambahkan antioksidan seperti TBHQ. Sama seperti makanan instan lain seperti kecap, saus, pasta, keripik, minuman botol, susu, kopi, biskuit, permen dan lain sebagainya, mengandung bahan tambahan pangan (BTP). Termasuk dalam BTP diantaranya adalah antioksidan, penguat rasa, pemanis, pengawet, pewarna, dan lain sebagainya. Mengapa hanya mie instan yang seolah menyeramkan? padahal banyak pula makanan lain yang juga mengandung BTP.
Tuesday, December 23, 2014
Palestina Menunggu Kami?
Lagi-lagi, selalu pusing melihat hal-hal tidak ideal di sekitar namun merasa tak dapat berbuat apa-apa, selain doa. Allaah, ampuni dosa mereka, bebaskan mereka, dari rasa takut, dari rasa was-was karena hiruk pikuk dentuman bom dan brondongan senjata yang selalu menghantui. Beri mereka ketenangan dalam sholatnya, dalam belajarnya, dalam kesehariannya, seperti apa yang kami rasakan di belahan bumi sini. Ubah jeritan dan tangisan rasa takut menjadi keceriaan dan nyanyian kebahagiaan. Ampuni dosa mereka Allaah, beri mereka kebahagiaan dan lebih-lebih, kebahagiaan di kampung akhirat kelak. Aamiiin.
Bagaimana tidak resah? melihat merah darah berceceran, melihat bayi memuntahkan pasir, melihat ibu menangis berlarian melindungi anak mereka, melihat reruntuhan tembok mengubur tubuh, mendengar bisingnya suara senjata, melihat pemuda ditampoli, dan melihat anak menangis meminta mayat ibunya untuk bangun. Tentu kesal. Dan lebih kesal lagi karena serasa tak punya daya mumpuni untuk mengulurkan tangan pada mereka. Benar, ini usikan kemanusiaan, bukan persoalan agama sehingga tak perlu memusingkan kesepahaman agama untuk membela. Jika yang tak seiman dapat terusik dan bergerak maka sepatutnya yang 'satu badan' dan 'satu bangungan' lebih terusik dan lebih tergerak. Aku pusing, aku malu.
Dari membaca tulisan seorang kawan, saya menemukan satu artikel yang kemudian saya kutip dari http://masjidjogokariyan.com.
Ibu
Berapa lama aku harus termangu didepan layar?
Mencari satu kata untuk memulai
Saat sedikit terangkai,
Tidak, bukan seperti ini harusnya
Salah, delete, cari kata lain
Dari mana harus memulai?
Bahkan ceritanya seperti tak punya awal
Selalu ada cerita dibalik cerita, cerita sebelum cerita
Apa yang harus aku uraikan mengenai satu kata itu?
Toh sudah banyak insan menguraikan.
Kau ingat keterangan Anna Althafunnisa dalam novel Ketika Cinta Bertasbih mengenai satu kata bernama "Cinta"?
“Mmm… cinta! Menurutku,
Sekalipun cinta telah kuuraikan dan kujelaskan panjang lebar.
Namun jika cinta kudatangi aku jadi malu pada keteranganku sendiri.
Meskipun lidahku telah mampu menguraikan dengan terang.
Namun tanpa lidah,
cinta ternyata lebih terang
Sementara pena begitu tergesa-gesa menuliskannya
Kata-kata pecah berkeping-keping
begitu sampai kepada cinta
Dalam menguraikan cinta, akal terbaring tak berdaya
Bagaikan keledai terbaring dalam lumpur
Cinta sendirilah yang menerangkan cinta
Dan percintaan!”
Mungkin seperti itu pulalah jika aku ingin menguraikan kata "Ibu", kata "Ibu" itu sendiri telah menerangkan.
Monday, December 22, 2014
Wanita, dari Tulang Rusuk.
Allah tidak ciptakan wanita dari tulang ubun-ubun, karena ia bukan untuk di junjung di agung-agungkan serta dipuja puja
Allah juga tidak menciptakan wanita dari tulang kaki karena wanita tak pantas untuk diinjak-injak dan direndahkan
Tapi Allah ciptakan wanita dari tulang rusuk, dekat ke hati untuk dicintai dan dekat ke tangan untuk didekap diijaga
-udashidiq.tumblr.com-
"Idealisme yang Sia-sia" #2 : Pemakmur atau Perusak Bumi? : Sampah
Terngiang celetukan ibu saya semasa saya kecil. "Iya tempat dia bersih, tapi kan kotornya ketetangga" kurang lebih demikian maksudnya ketika mengkritik seorang tetangga yang membuang sampah di sungai yang terletak di depan rumah tetangga yang lain. Ya, saya menangkapnya. Kurang bijak hanya memikirkan "yang penting tempatku bersih" tanpa tahu lantas ke mana sampah tersebut berlabuh, ke mana sampah tersebut lalu menjadi pengotor.
Ibu saya membuang sampah dapur di sawah. Untuk pupuk katanya. Sampah plastik ia gunakan sabagai bahan bakar saat memasak di tungku. Sampah plastik ada pula yang dikumpulkan. Sampah yang beliau kira dapat menjadi bahan kerajinan. Bungkus kopi misalnya, bungkus kopi dibuka dengan meminimalkan plastik yang tersobek sehingga terjaga keutuhannya dan menjadi bagus ketika dibuat kerajinan tangan. Sampah sisanya dibuang kesebuah tempat yang menjadi tempat pembuangan sampah umum. Meskipun mungkin ada kekurangan, seperti pembakaran plastik yang dapat menjadi pencemar udara dan tempat pembuangan sampah umum yang perlu ditinjau kembali, konsep tersebut menurut saya merupakan pemikiran yang sangat cerdas dan mulia. Hal ini mengingat ibu saya yang bahkan SD saja belum lulus. Tak pernah mendapatkan orientasi wawasan kebangsaan atau lingkungan. Sangat saya sayangkan melihat beberapa sarjana dari institusi pendidikan ternama, ketika diingatkan mengenai memilah sampah jawabnya, "ah cuma dikit ini", "ah ntar juga di campur lagi", "aku jadiin satu aja Susi, biar praktis, nggak repot". Saya salut ibu saya masih sempat memikirkan hal-hal seperti itu padahal pekerjaan rumahnya tiada henti dari bangun tidur sampai tidur lagi.
Coba kita bayangkan gambar ini.
![]() |
| Sumber gambar: wikimedia.org |
Saturday, December 13, 2014
Tutupen Botolmu - Mati Konyol
Beberapa hari yang lalu, ramai pemberitaan mengenai korban minuman keras. Belum lama. Terakhir yang saya dengar, di satu kawasan di sebuah kota, dari 20 penenggak, sudah 17 korban yang meninggal. Belum lagi berita dari kota yang lain. Saya heran, sedari dulu, sudah berapa korban meninggal karena miras oplosan. Bahkan ada korban wanita dan anak SD. Untuk data realnya mungkin bisa di cari di Internet. Kenapa masih saja coba-coba?
Ingin rasanya mengatakan be*o. Bayangkan, saat pemberangkatan jenazah ke pemakaman, mana bisa pembawa acara menyatakan orang yang bersangkutan memiliki riwayat hidup yang baik, meninggalnya saja karena minuman keras. Dan bagaimana cerita itu akan tetap ada, bahwa ayah, kakek atau anak keluarga bersangkutan meninggal karena miras murahan, miras oplosan. Malu-maluin deh.
Saturday, December 6, 2014
Bagian Menghenyak dari Film
Mungkin, detik yang "dimiliki" oleh setiap penonton dalam film, drama atau sejenisnya itu berbeda-beda. Detik yang guwe banget. Entah itu karena pernah mengalami, merasa diingatkan, merasa jleb, menguak kenangan, atau apapun.
Seperti saya yang terhenyak saat Cinta dalam film AADC hanya menjawab dengan tangisan kala ditanya oleh teman-temannya ia menyukai Rangga atau tidak. Atau seperti adegan Azam dalam film KCB yang bersujud syukur seraya berucap "aku lulus". Tak dapat di rasakan? wajar. Ya, karena latar belakang dan pengalaman setiap orang berbeda dan itu yang juga akan menentukan di mana sudut pandang setiap orang saat mengikuti sebuah cerita.
Diri, Di Lembah Kelalaian
Ada saat ketika harap sudah melambung, seketika ia runtuh. Karena ternyata, sama sekali tanpa kita tahu, kesempatan itu sedang perlahan ditutup seiring bertambahnya keyakinan diri akan pencapaiannya.
Ada saat ketika keyakinan akan kemampuan diri begitu tegas, seketika kegagalan menghantam tanpa ampun.
Ada saat ketika kebahagiaan akan masa depan telah tergambar, seketika terperangah karena ternyata, itu hanya angan kosong.
Diri itu lalai, lalai akan KuasaNYA.
Berkali-kali harus diingatkan. Berkali-kali harus terjatuh. Berkali-kali harus kecewa. Karena lupa diri, lupa bahwa diri itu harus menginjak bumi, bukan sedang terbang diatas awan. Diri itu hanya manusia lemah yang sering terjatuh dalam lembah kesombongan. Ternyata, dengan sesama insan saja, diri itu hanya remah tak terpandang, apalagi dengan TUHAN?
Rangkaian kekecewaan itu, rentetan kejatuhan itu, di mana pelipurnya?
“... Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (Qs. ar-Ra’du: 28).
![]() |
| Sumber gambar: iluvislam.com |
Lirik yang terlantun ini, coba resapi. Rindu memadu kasih denganNYA disepertiga malam, demikian jugakah?
Friday, December 5, 2014
Menyepelekan Nyawa Orang Lain
![]() |
| Sumber gambar: rudysoul.com |
Keterangan dari seorang warga, kejadian berlokasi di sebuah tikungan. Saat itu, ada sebuah truk yang menyalip korban yang sedang berboncengan mengendarai motor. Diduga karena kaget, korban banting stir ke sisi yang berlawanan dengan keberadaan truk hingga terjatuh ke jurang. Saat berita ditayangkan, truk bersangkutan masih dalam pencarian oleh polisi. Entah tidak sadar ada yang terjatuh karena ia menyalip atau memang ingin menghindari perkara.
Wednesday, December 3, 2014
Menanti Cinta
Saya sedang mendengarkan playlist lagu Indonesia saya saat saya mendengar ada lirik yang cukup menggelitik. Judulnya "Menanti Cinta", dinyanyikan oleh Krisdayanti. Saya yakin lagu ini mewakili cukup banyak orang. Terbukti dari banyaknya meme, update status, candaan bahkan postingan mengenai ini, mengenai Penatian Cinta. Apalagi untuk wanita yang sering lebih memilih untuk menunggu pangeran berkuda putih menjemputnya ke pelaminan, aih. Untungnya, wanita ini memiliki lebih banyak rasa malu sehingga sering tak diungkap, berbeda dengan laki-laki.
Unggahan foto liburan berduaan, foto menjadi pendamping wisuda, undangan walimahan, foto akad nikah bahkan unggahan foto anak setelah lahiran. Dari teman sebangku sekolah, teman masa kecil, kenalan diorganisasi atau tetangga kosan. Mungkin akan sedikit mengusik. Terpikir pula jika sudah tingkat akhir kuliah? Katanya, probabilitas mendapat jodoh di kampus itu lebih besar dari pada di luar (ya diluar tetap ada probabilitasnya). Ditambah jika ada pertanyaan mengenai pasangan dari keluarga atau saudara, kalau keseringan menjawab "belum", gatel juga ya. Santai saja, nggak sendirian kog, banyak yang gitu juga #eh.
Menurut saya, adanya rasa terusik itu, benar-benar tidak menunjukkan kalau yang bersangkutan lantas ingin segera mengunggah foto yang sama dengan yang dilihat. Maksudnya belum tentu ingin memiliki komitmen (yang tentu ada konsekuensinya) pada lawan jenis dalam naungan "cinta". Belum tentu lantas ingin segera menikah, apalagi memiliki anak. Coba saja jika Anda termasuk orang-orang yang dinilai galau karena sering bercanda mengenai jodoh, apakah jika saat ini ada laki-laki yang meminang, Anda lantas menerima dan mau menikah meski Anda sreg dengannya? Tak semudah itu saya kira :)
Oke, back to the topic. Ini lirik mengenai "Menanti Cinta"nya Krisdayanti
"Idealisme yang Sia-sia" #1
Suatu hari saya nyeletuk pada seorang teteh yang menyampaikan rencananya akan pindah ke Jakarta. Jangan ke Jakarta teh, udah penuh, kasihan. Kurang lebih jawaban beliau seperti ini, ah enggak, cuma nambah satu, lagian aku kan kecil. Sebenarnya saya sedang tidak terlalu serius, namun entah mengapa saya sedikit tersinggung atas jawaban beliau. Mengapa begitu enteng menjawabnya. Setidaknya ada kek rasa bersalah, apalagi sebagai orang yang berkesempatan mengenyam pendidikan tinggi. Atau tambahkan jawaban yang mengindikasikan bahwa yang bersangkutan tidak hanya memikirkan diri sendiri, masih peduli akan masalah sosial atau lingkungan disekitarnya. Apalagi jika ternyata kita punya andil akan masalah tersebut. Ya, setiap orang memiliki kepentingan masing-masing, tak bisa dijudge begitu saja. Namun, jika memang harus, at least itu tadi, rasa bersalah.
Di lain sisi, seorang narasumber di suatu kegiatan menyampaikan, beliau telah resmi menjadi warga Yogyakarta setelah pindah dari Jakarta dengan memboyong anggota keluarganya. Semuanya lima orang jika saya tidak salah ingat. Peliknya masalah di ibu kota karena jumlah penduduk yang membludak, berkurangkah dengan pindahnya 5 orang? Lima orang dari BELASAN JUTA warga. Ngefek?
Di lain sisi, seorang narasumber di suatu kegiatan menyampaikan, beliau telah resmi menjadi warga Yogyakarta setelah pindah dari Jakarta dengan memboyong anggota keluarganya. Semuanya lima orang jika saya tidak salah ingat. Peliknya masalah di ibu kota karena jumlah penduduk yang membludak, berkurangkah dengan pindahnya 5 orang? Lima orang dari BELASAN JUTA warga. Ngefek?
Monday, December 1, 2014
Sunday, November 30, 2014
Satu Saja Kesempatan
Hari minggu bukan hari menyenangkan untuk menonton acara televisi. Untung ada dua acara yang masih cukup menarik untuk saya. Ini Talkshow yang seru dan On the Show yang hostnya kece, ia salah satu entertainer idola saya, Ananda Omesh. Ah tak penting. Ada hal serius yang kembali diingatkan saat menonton acara On The Show episode kali ini.
![]() |
| Sumber gambar: http://www.multyshades.com |
Dapatkah kau bayangkan keadaan itu? Atau malah pernah merasakan saat-saat seperti itu? Saat-saat di mana tubuh serasa tak bertulang. Tak cukup tenaga untuk sekedar menggerakkan lengan atau bahkan untuk sekedar mengembangkan dada, menjejakkan nafas. Berkelebat wajah orang-orang terdekat, terutama orang tua. Orang-orang yang belum siap kita tinggalkan. Tuhan. Siapa lagi yang bisa diingat? Siapa lagi yang kita harap kehadirannya? Ya, Tuhan. Bahkan orang atheis pun, mungkin demikian. Mencari yang punya kuasa. Mencari Tuhan.
Tuhan, aku akan berubah. Ampuni dosaku. Aku akan menjadi orang baik. Beri aku kesempatan sekali lagi. Selamatkan aku Tuhan. Beri aku kesempatan sekali lagi. Sekali lagi. Sekali lagi...
"Hingga apabila telah datang kematian kepada seorang dari mereka, dia berkata, “Ya Rabbku kembalikanlah aku (ke dunia) agar aku beramal shalih terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkan saja. Dan dihadapan mereka ada barzakh sampai hari mereka dibangkitkan.” (Al Mukminun: 99-100)"
Paras ini ada Akhirnya
![]() |
| Sumber gambar: desicomments.com |
Itu wajah dahulu. Bertahun-tahun yang lalu. Saat dewasa, parasnya menjadi cantik. Halus, cerah, kencang. Selamanya? Tentu tidak. Pasti akan berakhir. Wajah cantik itu, akan sayu, akan keriput. Tak halus lagi, tak kencang lagi, tak cantik lagi. Dan yang lebih pasti, pasti akan membusuk. Busuk. Suatu saat. Pasti.
![]() |
| Sumber gambar: wisegeek.net |
Ikan Kembung
Dari menonton tayangan ILK di Hari Ikan Nasional, saya baru tahu ikan kembung ini memiliki kandungan omega-3 yang sama dengan ikan salmon. Bahkan ada yang mengatakan lebih. Omega-3 yang sangat diunggulkan dari produk ikan salmon yang cukup berkelas ini bermanfaat untuk kesehatan otak seperti kecerdasan dan ingatan, jantung, menurunkan kadar kolesterol jahat, mengurangi risiko pembekuan darah, bagus untuk retina, perkembangan janin, dan lain sebagainya. Ya, omega-3 ini dapat diperoleh dengan jauh lebih murah dari ikan kembung. Selain untuk kesehatan diri, dengan banyak mengkonsumsi ikan lokal ini, kita juga turut membantu menggeliatkan perekonomian Indonesia dari jual-beli hasil ikan kita. Selamat hari ikan, kita punya lautan gizi :)
![]() |
| Sumber gambar: myliad.blogspot.com |
Penyimpangan Normal
![]() |
| Sumber gambar: himikaung.wordpress.com |
Siang tadi, tidak ada acara lagi yang menurut saya menarik. Akhirnya, agar suasana tak sepi, saya memilih sebuah acara talkshow dengan narasumber seorang psikolog seksual dan seorang ustadz. Dan ternyata sedang membahas mengenai penyimpangan seksual. Ada pengetahuan baru untuk saya mengenai perilaku seks ini, dari sang psikolog ada istilah penyimpangan normal.
Yang termasuk penyimpangan normal ini adalah homoseksual dan biseksual. Homoseksual yaitu penyuka lawan jenis sedangkan biseksual penyuka keduanya baik sesama maupun lawan jenis. Kedua sikap ini hanya masalah orientasi, seperti orang yang suka makan jengkol ditengah kebanyakan masyarakat yang tidak menyukainya. Ya, secara klinis atau psikologis, mereka tidak dianggap menyimpang. Sosial lah yang biasa menganggap itu sebagai penyimpangan. Sosial di mana heteroseksual (menyukai lawan jenis) lah yang menjadi orientasi mayoritas dan yang dianggap normal.
Tuesday, November 25, 2014
Harusnya Sudah Berakhir
Tak perlu banyak penjelasan. Satu kalimat tersebut pasti punya banyak penjelasan bagi yang pernah mengalaminya. Hehe
Also About Others
Yes, I Agree..
“Allah says that rizq, sustenance, and money will come, and even more of it will come, IF your concern is not only for yourself. Your concern also has to be about others.
Islam isn’t against having wealth. Islam is against wealth that serves and benefits only you.”
-Nouman Ali Khan Indonesia-
“Allah says that rizq, sustenance, and money will come, and even more of it will come, IF your concern is not only for yourself. Your concern also has to be about others.
Islam isn’t against having wealth. Islam is against wealth that serves and benefits only you.”
-Nouman Ali Khan Indonesia-
Merdeka itu Bukan Seenak Jidat
MERDEKA. Dahulu, kata merdeka, dalam benak saya, identik dengan makna yang disampaikan para guru sejarah, merdeka itu bebas dari penjajah. Tidak ada makna lain yang tergambar.
Suatu ketika, untuk pertama kalinya, saya menyaksikan arak-arakan wisuda di ITB. Berkali-kali saya mendengar kata merdeka di pekikkan oleh masa kampus. Pertama kali mendengar pekikkan tersebut, saya tertawa, tertawa. Merasa lucu saja, ngapain teriak-teriak "merdeka", pokoknya terdengar lucu. Namun pada pekikkan berikutnya, saat kata merdeka kembali dipekikkan dengan kepalan tangan dan dengan semangat penuh energi, saya tersentak. Entah mengapa dan bagaimana bisa, saya terhenyak, sedikit merinding dengan merasakan makna kata 'merdeka'. Bahwa kami, mahasiswa/pemuda yang merdeka memiliki kebebasan. Kebebasan berekspresi, kebebasan berpendapat, kebebasan bergerak sesuai apa yang mereka yakini itu benar. Jangan mau di kekang. Kurang lebih demikian.
Menurut saya, meski demikian, kemerdekaan ini bukan tak terbatas. Bisa dibatasi oleh hak orang lain, perjanjian dengan orang lain, integritas bahkan etika. Seorang penghuni asrama berhak memakai segala fasilitas yang ada di dalamnya. Pun demikian dengan penghuni lain. Sehingga perlu untuk memastikan fasilitas tersebut kembali seperti semula agar pemakai berikutnya tak direpotkan.
Menurut saya, meski demikian, kemerdekaan ini bukan tak terbatas. Bisa dibatasi oleh hak orang lain, perjanjian dengan orang lain, integritas bahkan etika. Seorang penghuni asrama berhak memakai segala fasilitas yang ada di dalamnya. Pun demikian dengan penghuni lain. Sehingga perlu untuk memastikan fasilitas tersebut kembali seperti semula agar pemakai berikutnya tak direpotkan.
Saturday, November 22, 2014
Mengajarkan dengan Keteladanan
![]() |
| Sumber gambar: http://www.hidupkatolik.com/ |
Bersikap tenang setelah mengambil wudlu, guru yang membersihkan sendiri ruangannya, teman yang selalu berprasangka baik, adik yang menjaga senyumnya, semangat kakak dalam memberikan bantuan, kebijaksanaan saudara, keistiqomahan seseorang, orang yang tak tanggung-tanggung menyisihkan uang untuk sedekah, sahabat yang begitu hemat, dan masih banyak lagi yang lain. Masih banyak. Sangat mungkin hasilnya akan berbeda jika semua itu disampaikan secara lisan atau bahkan jika diperlihatkan dengan sengaja.
Hal-hal baik yang kita lakukan, selain baik untuk kita sendiri, bisa jadi pula menjadi nasihat untuk orang lian. Nasihat yang powerfull. Teruntuk semua kalian yang telah memberikan nasihat untuk saya melalui apa yang kalian lakukan, mungkin kalian sama sekali tak sadar. Namun nasihat itu sungguh berharga, terima kasih. Semoga akan kembali sebagai peringan di hari nanti.[]
Kebutuhan yang Diciptakan
Terngiang pemaparan seorang dosen mengenai satu pelajaran disela kuliah mengenai limbah. Tentang cepatnya release produk-produk teknologi baru yang disambut meningkatnya daya beli masyarakat. Smartphone, tab, powerbank, dan sejenisnya yang dari waktu ke waktu kecanggihannya selalu bertambah. Hubungannya dengan limbah, meningkatnya pembelian oleh konsumen akan produk-produk tersebut juga akan menambah limbah/sampah yang perlu dipikirkan bagaimana pengolahannya.
![]() |
| Sumber gambar: www.soft32.com |
Bukan tentang limbah yang ingin dibahas di sini, namun mengenai tren pembelian oleh masyarakat yang melejit akan benda-benda tersebut. Benda-benda yang memang dapat mempermudah pekerjaan manusia. Namun apakah memang harus dibeli? Banyak orang mengatakan membutuhkan barang-barang seperi dalam gambar. Namun ternyata kata "butuh" ini bisa relatif, menurut saya dapat dilihat dari seberapa besar dampak positif atas produktivitas seseorang dalam menggunakan barang tersebut. Akan sangat mengefektifkan waktu, tenaga dan pikiran sehingga lebih produktif atau sebenarnya itu hanya keinginan memiliki semata sehingga tak begiu berdampak positif. Ya keinginan semata yang dibalut kata "butuh".
Wednesday, November 19, 2014
Kota ini Someah? Tidak untuk Supir Angkotnya
Semoga curahan hati ini tidak menjadikan tuntutan dilayangkan pada saya atas tuduhan pencemaran nama baik. Pencemaran nama "Supir Angkot" kota tempat saya tinggal saat ini. Tidak semua, lebih baik "Beberapa Supir Angkot".
Entah berapa kali saya mendengar kata "Bego", "Anjing" dan kata bernada tinggi lain terutama yang berbahasa Sunda, yang saya tidak tahu artinya namun terasa kasarnya. Bahkan pernah mendapat cerita, seorang supir pernah melempar uang yang ia terima dari penumpang ke arah penumpang. Jika benar, sungguh kasar. Seperti sore ini, seorang wanita yang mengenakan rok dan jilbab cukup lebar meminta kembalian lebih karena menurutnya belum ada SK kenaikan tarif angkot. Benar, namun jika dipikir, wajar ketika BBM naik supir langsung menaikkan tarif. Sayang, ia tak berpikir demikian.
Namun lebih sayang lagi, tanggapan dari supir. Blablabla...blablabla. Saya lupa kalimatnya. Kata yang saya ingat ditengah kalimatnya adalah : Bego Kamu, Nggak sekolah, apa presiden ngasih SK ke rakyat. Apa? Seorang wanita diperlakukan demikian oleh seorang pemuda umur dewasa dengan kata sekasar itu? Saya memandang wanita itu berjalan menjauh dan menerka-nerka keadaan hatinya. Semoga ia bukan orang yang terlalu sensitif dan pemikir. Pak Supir, Apakah tanggapannya harus seperti itu? Bagaimana jika " Tapi hari ini udah naik neng bensin jadi 8500, kalau nunggu SK lama, nanti rugi".
Sunday, November 2, 2014
I Hear Your Voice, yang Pahit Tak Selalu Obat
![]() |
| Sumber gambar: http://nanhiko.over-blog.com |
Pernah nonton drama korea I Hear Your Voice? Entah di episode keberapa, ada adegan di mana tokoh pemuda yang dapat mendengar suara batin orang, sadar bahwa memang tak semua hal harus diungkap. Cukup terasa esensinya ketika melihat adegan tersebut. Dalam situasi-situasi tertentu kita harus mengatakan bagus, padahal dalam hati ingin mengatakan kalau itu norak. Kadang harus mengiyakan ajakan padahal sedang sangat malas. Kadang harus tetap tersenyum, padahal merasa sangat dongkol.
Bahkan terkadang harus menahan keinginan bertanya padahal keinginan klarifikasi sudah memuncak. Menahan keinginan menjelaskan panjang lebar padahal berada dalam posisi tersudut bahkan terfitnah. Terkadang pula hanya perlu menerka kemudian langsung bertindak. Menerka isi pikirannya, seolah mendengar suara batinnya. Semua untuk menjaga. Menjaga hati agar tak tersakiti, menjaga pertalian agar tak serta merta putus. Menjaga situasi agar tetap kondusif, nyaman untuk semua orang berada di sana.
Saturday, November 1, 2014
Mahasiswa Teknik Kimia Diwisuda Bukan untuk Sekedar jadi Ibu Rumah Tangga
![]() |
| Sumber gambar: http://pemudawirausaha.com/ |
Misal saja untuk keahlian bidang Teknik Kimia. Mahasiswa teknik kimia diberi fasilitas bahkan dibiayai untuk mempelajari ilmu tersebut dengan harapan nantinya dapat menjadi process engineer yang bermanfaat untuk negeri. Dapat menciptakan proses pengolahan sumber daya alam menjadi produk yang ekonomis dan tentu dengan proses yang ramah lingkungan. Dampak akhirnya ya untuk kesejahteraan negeri. Demikian pula untuk bidang studi lain. Namun, begitu terbataskah cara kita menebar manfaat?
Tuesday, October 28, 2014
Menilai dari Posisi yang Benar
![]() |
| Sumber gambar: www.gendhizshop.com |
Suatu hari, sambil menuju kekelas untuk kuliah, seorang teman bercerita pada saya. Saya lupa detailnya namun coba saya ceritakan apa yang saya ingat. Sebut saja namanya Mawar. Ia menceritakan kejadian yang menimpanya. Seorang teman Mawar (yang juga temanku), katakanlah namanya Bintang, menanyakan sesuatu pada Mawar. Mengenai kabar miring yang Bintang dengar dari teman yang lain lagi, sebut saja ia Melati. Dari Mawar aku tahu bahwa itu hanya kesalahpahaman Melati atas Mawar.
Mawar merasa kesal pada Bintang, mengapa ia berkata demikian (menanyakan sesuatu tadi) padahal ia tak tahu betul duduk perkaranya. Bahkan Mawar sampai menulis status di Facebook yang intinya mengingatkan orang untuk kalo nggak tau permasalahaanya itu jangan ikut campur. Ya karena bisa salah dan bisa menyakiti korban meskipun hanya dalam bentuk kata bahkan hanya pertanyaan. Pertama, tahu telah dipandang negatif atas berita miring tadi, kedua merasa digunjing dibelakang, belum lagi jika ternyata ada orang lain yang tahu namun klarifikasi tak sampai pada orang lain itu.
Wednesday, October 22, 2014
Mengumbar Kemesraan, "Gaya Pengen Dijitak"
![]() |
| Sumber gambar: http://www.theholidaystravel.com/ |
Friday, October 17, 2014
Ambilah Mutiara, Bukan Ikan Meski Ia Tampak Lebih Elok
![]() |
| Sumber gambar: http://www.desktopaper.com/ |
![]() |
| Sumber gambar: http://www.desktopaper.com/ |
Ini mengenai orang yang sedang berada di bawah laut. Ia hendak mencari mutiara. Mutiara yang cukup berharga. Dalam penyelamannya mencari mutiara, ia melihat begitu rupa ikan. Banyak, beragam dan sangat indah, sangat menarik. Penyelam tadi lantas menangkap beberapa
ekor ikan hingga waktu menyelam habis. Ia harus naik ke daratan dan menyetorkan apa yang ia peroleh.
Dunia Tempat Sendau Gurau
Ketahuilah, sesungguhanya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurauan, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam tanamannya mengagumkan para petani; kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu.
Thursday, October 16, 2014
Kebaikan Hatimu sangat Bergantung kepada Kebaikan Pikiranmu - MT
Kendalikan dirimu dengan pikiranmu, tapi kendalikanlah sesamamu dengan hatimu.
Segala sesuatu dalam hidupmu ditentukan oleh kebaikan hatimu, tapi kebaikan hatimu sangat bergantung kepada kebaikan pikiranmu.
Mario Teguh - Loving you all as always
Hidup ini untuk Bahagia - MT
Anak muda yang mudah tersinggung, pemarah, selalu mengeluh, suka menyalahkan orang lain - mana mungkin bisa hidup mesra, dengan siapa pun, dan sampai kapan pun?
Hidup ini untuk berbahagia, bukan untuk galau-galauan.
Stay happy!!!
Mario Teguh – Loving you all as always
Hidup ini untuk Bahagia demikian pula yang selalu ingin saya tanamkan dalam diri. Namun masih sulit untuk benar-benar mengakar, saya terlalu pemikir. Saya juga sangat sensitif sehingga mudah tersinggung. Pesan Pak Mario ini akan jadi pengingat juga.
Wednesday, October 15, 2014
Lupa Tak Selamaya Dapat Dimaklumi, Hutang akan Terbawa sampai Mati
![]() |
| Sumber gambar: http://onlinebiz.kr/ |
Lupa.
Saat kita puasa, sempat lupa lantas makan, puasa kita tidak batal.
Saat kita harus sholat namun kita lupa, kita cukup melaksanakannya ketika ingat.
Saat kita lupa, banyak hal dapat dimaafkan.
Namun bagiku, tidak semua. Karena kita bisa berusaha untuk tidak lupa.
Yang namanya lupa itu harusnya sesekali, kecuali kita telah pikun. Selain dari itu, saya yakin kebanyakan masalah utamanya adalah meremehkan bukan lupa. Jika ada hal-hal yang rawan lupa, sebaiknya kita lebih tanggap untuk mengantisipasinya.
Misal beli pulsa lewat sms, ambil danusan atau jualan yang tidak ada penjaganya kemudian menunda pembayaran, pinjam alat tulis ke temen, dan lain sebagainya. Lupa membayar atau mengembalikan akan sangat merugikan si empunya hak, juga kita yang akan terbebani hingga di akhirat nanti. Dan jangan-jangan jika ia dalam bentuk makanan atau minuman itu akan terhitung haram, yang bagi muslim, amalnya tidak akan diterima selama 40 hari.
Misal beli pulsa lewat sms, ambil danusan atau jualan yang tidak ada penjaganya kemudian menunda pembayaran, pinjam alat tulis ke temen, dan lain sebagainya. Lupa membayar atau mengembalikan akan sangat merugikan si empunya hak, juga kita yang akan terbebani hingga di akhirat nanti. Dan jangan-jangan jika ia dalam bentuk makanan atau minuman itu akan terhitung haram, yang bagi muslim, amalnya tidak akan diterima selama 40 hari.
Wednesday, October 8, 2014
Soal Rok Mini
![]() |
| Sumber: http://cdn.ar.com/ |
Soal rok mini ini memang menggelitik. Saya sendiri di dalam dilema yang besar. Alasannya, pertama karena saya laki-laki. Kedua, karena saya belum pernah memakai rok mini. Sebagai orang berpendidikan, saya khawatir perspektif saya terhadap rok mini ini menjadi sangat subyektif, dipenuh asumsi, dan ngawur.
Tapi sebenarnya saya selalu ingin mengajukan pertanyaan kepada setiap pengguna rok mini atau celana super pendek di area publik demi mendapat sudut pandang yang obyektif dari si pemakai agar saya tidak salah sangka:
1. "Mbak-mbak, boleh tau apakah dengan rok mini yang mbak pakai itu, saya atau kami boleh menikmati paha mbak?"
2. "Kalau boleh, apakah mbak memang sengaja agar kami melihatnya? atau malah risih kalau kami melihatnya?"
3. "Atau tolong jelaskan kepada kami, bagaimana seharusnya kami boleh menikmati paha mbaknya biar mbak merasa nyaman dan kita bisa sama-sama menikmati, agar saya merasa aman dalam menikmati, dan mbaknya nikmat juga dilihati?"
Sunday, October 5, 2014
Nikah Muda

Ini bukan mengenai galau, bukan pula mengenai galau dan bukan juga mengenai galau. Ini mengenai menikah muda. Pernikahan yang di pandang sebagai sesuatu yang berani bahkan nekat malahan ada beberapa hal negatif menjadi prasangka atasnya.
Apa tidak senang jika dapat membesarkan anak dari sejak energi kita masih full? Masih darah muda. Apa tidak senang dapat lebih cepat melihat kesuksesan mereka? Jika dalam keluarga harus ada penyesuaian, apa tidak senang hidup dalam keluarga yang sinerginya lebih awal? Saya terbayang kebahagiaan yang lebih cepat datang dan lebih lama dirasakan.
Bumi ini membutuhkan insan-insan yang hebat. Jika kita yakin dapat menumbuhkan anak-anak hebat yang dapat menjadi pemakmur bumi, mengapa tidak dipercepat? Mengapa memberikan hanya sedikit? Kita yakin kan dapat mendidik anak-anak kita menjadi orang yang bermanfaat untuk sekitar? Bantulah memenuhi bumi ini dengan orang-orang yang baik sehingga lambat laun orang-orang yang tak baik menjadi pencilan. Tinggalkanlah dunia bersamaan dengan meninggalkan anak-anak soleh.
Monday, September 29, 2014
Pacaran itu... Geuleuh #3 - End
Selain yang katanya untuk motivasi belajar dan untuk lebih mengenal lawan jenis, mungkin masih ada alasan lain yang dimiliki mereka yang memilih untuk pacaran. Sebagai jalan memilih pasangan hidup mungkin, atau sekedar temen curhat? apapun itu. Sungguh saya ingin mengatakan pada mereka: bilang aja pengen.
Sebenarnya apa sih yang ada pada pacaran sehingga ia begitu meng-geuleuh-kan? Pertama ya memang karena niat atau alasan yang tidak jelas tadi. Dan yang jauh lebih penting adalah mengenai apa yang dilakukan saat kegiatan pacaran, yang nyata, sering pula diisi dengan hal-hal yang diinginkan (oleh mereka dan setan) atau kegiatan-kegiatan menggeuleuhkan lain seperti smsan alay.
Sering kita dengar orang mengatakan bahwa pacaran itu haram, dosa. Saya tidak pernah mengatakan bahwa pacaran itu haram. Saya rasa kalimat tersebut tidak dengan to the point menyampaikan sebenarnya apa yang menjadikan pacaran dipandang tidak baik terutama dari sisi agama. Pada kenyataannya tidak ada istilah pacaran dalam agama sehingga tidak ada pula ayat yang langsung menyebut kata pacaran.
Subscribe to:
Posts (Atom)


































