"When your head gets noisy, write it down" turn out it looks like a complaining and crazy blog now. It was blog full of critical thinking, social cause awareness, motivation and other positive energy. But at a point, it flipped 180 degree, there some posts tried to back to those "positive energy only", but not yet succeeded. Keep fall and fall. Anyway, dont you think write down your crazy thoughts here is better than to mainstream social media?

Saturday, November 22, 2014

Kebutuhan yang Diciptakan

Terngiang pemaparan seorang dosen mengenai satu pelajaran disela kuliah mengenai limbah. Tentang cepatnya release produk-produk teknologi baru yang disambut meningkatnya daya beli masyarakat. Smartphone, tab, powerbank, dan sejenisnya yang dari waktu ke waktu kecanggihannya selalu bertambah. Hubungannya dengan limbah, meningkatnya pembelian oleh konsumen akan produk-produk tersebut juga akan menambah limbah/sampah yang perlu dipikirkan bagaimana pengolahannya.

Sumber gambar: www.soft32.com

Bukan tentang limbah yang ingin dibahas di sini, namun mengenai tren pembelian oleh masyarakat yang melejit akan benda-benda tersebut. Benda-benda yang memang dapat mempermudah pekerjaan manusia. Namun apakah memang harus dibeli? Banyak orang mengatakan membutuhkan barang-barang seperi dalam gambar. Namun ternyata kata "butuh" ini bisa relatif, menurut saya dapat dilihat dari seberapa besar dampak positif atas produktivitas seseorang dalam menggunakan barang tersebut. Akan sangat mengefektifkan waktu, tenaga dan pikiran sehingga lebih produktif atau sebenarnya itu hanya keinginan memiliki semata sehingga tak begiu berdampak positif. Ya keinginan semata yang dibalut kata "butuh".

Saya sering mendengar alasan biar gampang buat baca slide kuliah, jadi nggak perlu bawa laptop atau ngeprint kalo mau ujian. Ya, mungkin juga karena memang banyak fiture yang dapat dinikmati seperti internet yang lebih nyaman daripada mengunakan HP biasa, medsos-medsos tertentu, kamera, dan lain-lain. Atau alasan apapun itu. Saya tidak mengatakan itu salah, namun sebegitu membantukah? Setarakah dengan harga yang harus di bayarkan untuk mendapat gadget yang dimaksud. Saya sangat menyayangkan bahkan ada yang bela-belain menghutang ke teman untuk mendapatkannya, dan mengalokasikan uang beasiswa untuk membayar hutangnya tadi. Dengan seorang teman curhat saya, kami sepakat ada beberapa orang yang sebenarnya termakan "gengsi", kasian orang-orang seperti ini.

Fitur gadget maupun aksesoris gadget semakin berkembang atau bahkan aneh-aneh. Power bank dan tongsis misalnya. Sekali keluar langsung booming. Dari sisi limbah, barang-barang yang sebenarnya tak begitu diperlukan tersebut tak sebanding dengan pecemaran atau pengolahan limbahnya yang sulit. Kemudian mengenai fitur yang aneh-aneh. Smartphone yang dapat melacak si pencuri, kemudian yang dapat memotret hanya dengan mengatakan "ciiis", yang kameranya dapat berputar, dan lain-lain. Bisa jadi, hanya karena satu fitur baru, orang tergerak untuk membeli gadget yang baru.

Dapat dipikirkan, karena kemampuan ekonomi setiap orang yang juga berbeda, apakah manfaat yang diperoleh setara dengan harga yang harus dibayarkan? setarakah dengan pengorbanan menyisihkan keperluan lain? Coba renungkan, berpikir dengan pemikiran dan hati terbuka, menyingkirkan segala bentuk pembenaran. Sebenarnya apa alasan dan tujuan yang sebenar-benarnya? Butuh atau tidak? Baik atau tidak? Jika baik, ya mengapa tidak? jika ternyata tidak, ya santai saja untuk tidak memilikinya. 

No comments:

Post a Comment