![]() |
| Sumber gambar: himikaung.wordpress.com |
Siang tadi, tidak ada acara lagi yang menurut saya menarik. Akhirnya, agar suasana tak sepi, saya memilih sebuah acara talkshow dengan narasumber seorang psikolog seksual dan seorang ustadz. Dan ternyata sedang membahas mengenai penyimpangan seksual. Ada pengetahuan baru untuk saya mengenai perilaku seks ini, dari sang psikolog ada istilah penyimpangan normal.
Yang termasuk penyimpangan normal ini adalah homoseksual dan biseksual. Homoseksual yaitu penyuka lawan jenis sedangkan biseksual penyuka keduanya baik sesama maupun lawan jenis. Kedua sikap ini hanya masalah orientasi, seperti orang yang suka makan jengkol ditengah kebanyakan masyarakat yang tidak menyukainya. Ya, secara klinis atau psikologis, mereka tidak dianggap menyimpang. Sosial lah yang biasa menganggap itu sebagai penyimpangan. Sosial di mana heteroseksual (menyukai lawan jenis) lah yang menjadi orientasi mayoritas dan yang dianggap normal.
Yang dianggap sebagai penyimpangan seksual dalam psikologi adalah sikap-sikap seperti ekshibionisme, pedofilia, frotteurisme, dan masih banyak yang lainnya. Ada beberapa pesan yang saya ingat dari psikolog tadi. Mengenai ekshibionesme di mana penderita dapat memperoleh kepuasan dengan memperlihatkan alat kelaminnya pada orang lain. Jika menjadi korban oleh penderita ini, disarankan untuk tidak bereaksi berlebihan seperti memperlihatkan kejijikan atau menjerit ketakutan karena dengan demikian pelaku akan sangat senang dan puas.
Mengenai frotteurisme di mana penderita merupakan pria yang suka menggesek-gesekkan alat kelamin ke bagian tubuh wanita (biasanya pinggul) ditempat umum seperti bus atau kereta. Jika menghadapi seperti ini, malah disarankan untuk bereaksi menolak, seperti beranjak bahkan menjerit wajar karena pelaku akan sangat terganggu jika ia ada orang lain yang mengetahui bahkan memergoki.
Kemudian mengenai pedofilia. Pelaku memiliki orientasi seks terhadap anak-anak yang belum akil baligh. Tentu yang menjadi perhatian adalah anak-anak yang menjadi korban. Dalam hal ini termasuk pula kasus-kasus sodomi pada anak-anak yang kasusnya tak sedikit di Indonesia. Anak-anak yang menjadi korban, saat kecil mungkin mereka hanya merasakan sakit fisik. Menginjak remaja, mereka bisa saja mulai berpikir bahwa mereka "kotor" yang kemudian dapat berakibat buruk pada jiwa mereka. Pada mereka, kita disarankan untuk bersikap biasa, memperlakukannya sebagaimana kita memperlakukan yang lain. Jika kita termasuk orang yang dekat, misalkan orang tua, kita bisa yakinkan pada mereka bahwa mereka adalah korban yang sama sekali tidak salah. Mereka harus tetap percaya diri.
Mengenai pendidikan seks pada anak, hal ini penting untuk mencegah terjadinya pelecehan seksual pada anak seperti korban pedofilia tadi. Pendidikan ini bukan lantas mengajarkan mengenai hubungan seks pada anak. Namun lebih ke bagaimana anak-anak diajarkan untuk menghargai tubuh mereka. Mereka memiliki tubuh yang tidak boleh disentuh sembarangan oleh orang lain. Terutama bagian-bagian privat yang tidak sembarang orang boleh menyentuh (seperti menceboki) bahkan sekedar melihatnya. Juga misalkan mengenai toilet laki-laki dan perempuan. Laki-laki tidak dibolehkan memasuki toilet perempuan, juga sebaliknya.
Hal dasar bagi para penderita ini, baik mereka yang menyimpang secara psikologi maupun yang menyimpang normal, adalah kesadaran mereka bahwa apa yang mereka rasakan atau lakukan adalah hal yang tidak baik bahkan dilarang. Dengan demikian tak sekonyong-konyong atau terbuka melakukan aksi menyimpang tadi. Meski ini merupakan bentuk penyimpangan yang diakui, bukan berarti melakukan hal demikian dianggap wajar dan tak diusahakan untuk sembuh.
Penyimpangan normal yang tidak dikategorikan penyimpangan secara klinis pun dapat sembuh. Seperti cerita dalam talkshow tadi, ada orang yang bertekad untuk sembuh yang dilakukan juga dengan cara memilih lingkungan dan pergaulan yang mendukungnya untuk sembuh. Dan seperti pesan dari ustadz yang merupakan narasumber, bahwa meskipun dapat diterima oleh masyarakat, oleh hukum sosial, ada Tuhan yang memiliki hukum yang lebih tinggi.
Saya pribadi kasihan pada mereka yang diberi ujian berupa sifat, rasa atau keinginan berperilaku menyimpang. Saya yakin jika mereka ditanya dari hati ke hati mereka juga ingin berperilaku normal, tak ingin menyimpang. Ya seperti kita tahu melawan diri sendiri itu juga tak mudah. Bukan ujian yang ringan.

No comments:
Post a Comment