Semoga curahan hati ini tidak menjadikan tuntutan dilayangkan pada saya atas tuduhan pencemaran nama baik. Pencemaran nama "Supir Angkot" kota tempat saya tinggal saat ini. Tidak semua, lebih baik "Beberapa Supir Angkot".
Entah berapa kali saya mendengar kata "Bego", "Anjing" dan kata bernada tinggi lain terutama yang berbahasa Sunda, yang saya tidak tahu artinya namun terasa kasarnya. Bahkan pernah mendapat cerita, seorang supir pernah melempar uang yang ia terima dari penumpang ke arah penumpang. Jika benar, sungguh kasar. Seperti sore ini, seorang wanita yang mengenakan rok dan jilbab cukup lebar meminta kembalian lebih karena menurutnya belum ada SK kenaikan tarif angkot. Benar, namun jika dipikir, wajar ketika BBM naik supir langsung menaikkan tarif. Sayang, ia tak berpikir demikian.
Namun lebih sayang lagi, tanggapan dari supir. Blablabla...blablabla. Saya lupa kalimatnya. Kata yang saya ingat ditengah kalimatnya adalah : Bego Kamu, Nggak sekolah, apa presiden ngasih SK ke rakyat. Apa? Seorang wanita diperlakukan demikian oleh seorang pemuda umur dewasa dengan kata sekasar itu? Saya memandang wanita itu berjalan menjauh dan menerka-nerka keadaan hatinya. Semoga ia bukan orang yang terlalu sensitif dan pemikir. Pak Supir, Apakah tanggapannya harus seperti itu? Bagaimana jika " Tapi hari ini udah naik neng bensin jadi 8500, kalau nunggu SK lama, nanti rugi".
Sebenarnya saya sudah bersiap-siap untuk kejadian seperti ini hari ini. Demikian juga dengan hari-hari biasanya. Jika harus memberikan gambaran umum mengenai supir angkot di sini, saya akan sampaikan : Kasar dan oportunis. Beberapa.
Jika kami, penumpang, memberi uang yang memerlukan kembalian, hampir pasti tarifnya menjadi lebih dari biasanya. Suatu hari, saya dan beberapa teman naik dari perempatan BIP akan ke Dago. Saya turun di Dukomsel dan memberikan uang yang membutuhkan kembalian. Ya tarif yang diberi menjadi seenak jidat. Padahal tarif itu dapat menjadi tarif dari tempat yang sama ke Pasar Simpang. Ini yang sangat biasa terjadi sehingga banyak orang menyiapkan uang pas khusus untuk ongkos angkot.
Suatu hari pula, sudah tidak ada lagi uang selain uang lima puluh ribuan. Supir memberi kembalian dengan banyak uang 2000an. Supir mengatakan jumlah uang kembalian tersebut sekian. Tak mungkin saya menghitung kembalian yang cukup banyak tersebut saat diberikan di jalan. Mengganggu. Sampai akhirnya saya dapat menghitung, kurangnya Rp3.000. Kelebihan Rp3.000 dalam membayar angkot itu sesuatu. Tak sengaja? Seharusnya berpikir demikian. Berprasangka baik. Namun, sering saya lihat supir telah menghitung (tak hanya sekali) dan menata uangnya. Ditata persepuluh ribu biasanya. Kog bisa selisih tiga ribu. Namun teman saya, tak lebih beruntung dari saya. Katanya dengan kasus yang sama, kekurangan kembalian atau kelebihan membayar angkotnya sampai Rp6.000. Hmm
Berikutnya, ucapan dari supir angkot kerap kasar, bagi orang-orang sensitif, bukan tidak mungkin dapat menjadikan mata berkaca-kaca dan meninggalkan nyeri dalam dada. Pernah, pada kenaikan harga BBM tahun 2013, saya kurang ngeh karena tempat tinggal saya satu tahun sebelumnya sangat dekat ke kampus. Tak perlu angkot. Suatu saat, saya naik angkot dari Gelap Nyawang ke Rumah Sakit Boromeus melewati depan kampus. Ongkos saya ternyata kurang. Supir meminta dengan membentak dan jret.. dalam dada nyeri terasa beberapa menit kemudian. Sebenarnya beberapa detik sebelumnya ada dua ibu-ibu paruh baya yang menyebrang jalan didepan angkot beliau yang sedang melaju. Karena sedikit lambat, supir mengarah ke jendela dan mengatai dua ibu tadi. Menurut saya itu berlebihan mengingat mereka ibu-ibu yang sulit jalan cepat dan tidak terlalu mengganggu laju kendaraan. Hanya perlu sedikit melambat, tak ada kejadian mengagetkan atau seperti akan menabrak. Apa beban hidupnya terlalu mengganggu jiwanya?
Cerita lain lagi, saya naik angkot yang baru kedua kalinya melalui rute tersebut. Diperjalanan saya menerka-nerka harganya. Dalam menentukan saya tidak ingin ambil risiko yang malah dapat menyakiti hati sendiri namun tetap ingin adil dengan memberikan tarif yang sesuai. Saya merasa sudah meberikan dengan pas. Namun ternyata masih kurang. Saya sedikit lama mengambil uang tambahannya karena telah saya simpan dalam tas. Karena merasa terlalu lama, supir membanting uang yang telah saya berikan serta mengeluh kecewa dan kesal lantas akan segera beranjak. Alhamdulillaah sebelum melaju, uangnya dapat saya temukan dan dapat saya bayarkan. Namun, sayatan untuk hati, tetap ada. Tetap nyeri sampai beberapa hari kemudian.
Sebelumnya, diperjalanan, supir tadi sempat turun kemudian menghampiri seseorang yang berada sedikit jauh dari tempat ia memberhentikan angkot. Dari jauh, gelagat tubuhnya dapat dibaca. Ia sedang kesal pada seseorang, menghampiri dan mengatakan sesuatu yang tentu bukan sesuatu yang lembut. Kembali ke depan setir dengan muka masih kesal dan bergumam kesal yang saya tak tahu apa yang ia katakan.
Dari dua pengalaman ini, saya sering menghibur diri agar tak berujung menyalahkan diri sendiri seperti yang sering terjadi. Mereka yang kasar pada saya memang karena mereka yang kasar, bukan saya yang terlalu pelit atau tak punya kelembutan hati. Ya, sedikit hiburan.
Ketiga sikap yang saya katakan aneh di jalan. Pernah supir dari angkot yang saya tumpangi mengatakan "Anjing" dan blablabla pada seorang pengendara mobil yang menghalangi jalannya, menghalangi sebentar. Pengendara mobil memang salah. Ia kurang maju sedikit. Setelah ia memajukan mobilnya, saya kaget dan heran supir angkot meneriaki pengendara mobil dengan kasar tadi. Sikap yang berlebihan menurut saya.
Kemudian yang hampir setiap hari terjadi, seperti di perempatan BIP yang dekat jalan Dago. Angkot ada yang ngetem di tengah jalan. Di tengah jalan. Saya pernah naik saat lampu merah, saya pikir akan jalan saat lampu hijau, ternyata tidak. Dan lama ngetem. Ngetem sampai angkot penuh. Selain khawatir lama ngetem, saya juga merasa bersalah jika harus naik dari tempat ngetem angkot yang sangat salah yaitu di tengah jalan.
Dilain hari, saya mencoba berjalan maju ketempat angkot sering menunggu penumpang. Areanya sedikit menjorok keluar jalan sehingga jika angkot berhenti di sana tidak terlalu mengganggu jalan umum. Namun ternyata di sini, juga sering lama ngetem. Malah lebih mengesalkan karena sering "menipu". Jadi supir memaju-mundurkan angkot seolah akan berangkat. Setelah saya naik, ternyata seperti itu terus sepanjang ngetem. Penumpang tentu akan lebih memilih angkot yang sudah akan berangkat. Jika dinilai akan ngetem lama, biasanya memilih untuk lebih maju memilih tempat menunggu angkot, dengan tujuan dapat naik angkot yang lewat tanpa ngetem. Hari selanjutnya saya memutuskan untuk lebih maju lagi menunggu angkot, angkot yang akan langsung jalan. Namun jika dipikir, berjalan dari BIP sampai ke tempat yang ini, jaraknya cukup jauh.
Saya juga melihat, angkot yang berhenti sembarangan menjadikan antrian kendaraan dibelakangnya cukup panjang. Sering saya lihat di depan Balubur. Hanya karena satu angkot yang berhenti terlalu lama. Suatu hari saya menyaksikan seorang supir membeli rokok di depan Balubur. Beberapa saat ia berhenti, antrian sudah cukup panjang dan klakson mobil tak berhenti dibunyikan untuk meminta supir angkot membuka jalan dengan menjalankan angkotnya. Bayangkan, dengan santai ia menunggu sampai rokok yang ia beli menyala. Sampai lebih dari satu klakson dan tak sebentar klason dibunyikan. Sesantai itukah? setakmendegar itukah? atau seterbiasa itukah? sehingga seolah itu semua tak terdengar. Saya heran.
Pernah, angkot yang saya tumpangi di minta untuk mengantarkan seorang ibu yang hendak melahirkan. Terlihat ibu tersebut sudah sangat kesakitan. Setelah tawar menawar harga, supir bersedia mengantarkan ke sebuah rumah sakit yang menurut saya tak jauh dibandingkan harga yang akan dibayarkan, Rp50.000. Diperjalanan, supir masih menaikkan penumpang dan berjalan dengan santai. Padahal ibu tadi sudah kesakitan dan bukankah angkot tersebut telah disewa. Sampai akhirnya, orang yang turut menemani ibu tadi menegur supir agar tidak menaikkan penumpang karena sudah kesakitan. Mungkin seharusnya saya turun saat ibu tadi naik agar nantinya tidak menita waktu untuk menurunkan saya. Namun terlambat saya menyadarinya, semuanya juga berjalan tanpa dapat saya duga-duga. Akhirnya saya turun di tempat terdekat tempat tujuan saya. Namun kali ini, saya menerka supir hanya kurang ngeh atau lupa saja akan etika tersebut, tak begitu masalah dengan supir namun lebih terpikir rasa dari ibu yang kesakitan tadi.
Sedikit perbandingan dengan kota asal saya. Tarif menjadi lebih ketika membayar tidak dengan uang pas dapat pula terjadi. Namun tak sebegitu terasa seperti di kota yang saya ceritakan ini. Kemudian penumpang "dioper". Yaitu penumpang diminta melanjutkan dengan angkot lain yang sama jurusan. Biasanya karena angkot yang ditumpangi akan pulang atau memiliki kepentingan lain sehingga tidak dapat mengantar penumpang sampai tujuan. Di kota asal saya, biasanya, supir tidak akan meminta ongkos. Ongkos cukup dibayar pada angkot setelah kita dioper. Namun berbeda di sini, hampir selalu penumpang tetap diminta membayar di masing-masing angkot.
Cerita mengenai angkot di sini tak semuanya buruk. Coba saya ceritakan. Saya pulang dari kampus, sudah sedikit malam. Sepanjang perjalanan, dari tempat duduk penumpang di belakang, saya lihat, setiap kali penumpang turun kemudian membayar ongkos, supir mengucapkan terima kasih dengan senyum yang sangat ramah. Saya senang melihatnya. Kala itu, ternyata saya merupakan penumpang terakhir dan ternyata pula supir sudah ingin pulang lantas mengoper saya. Saat saya ingin membayar, supir mengatakan tidak usah. Padahal jujur, saya rela sekali memberikannya. Semoga rizki beliau barakah. Menurut saya, hati supir angkot seperti ini di sini, seperti oase di hamparan luas padang pasir. Sangat sedikit.
Dari banyak cerita kurang menyenangkan yang saya alami berkaitan dengan angkot di kota ini, menjadi salah satu dari dua alasan saya ingin memiliki kendaraan pribadi. Saya tak nyaman naik angkot karena sering menemui supir yang tak ramah. Dua alasan yang berlawanan dengan pendapat saya bahwa kendaraan pribadi terutama mobil memiliki banyak kekurangan. Mahal ongkos bahan bakar dan terutama menambah beban jalan atau lalu lintas. Juga, terlalu sering berada di dalam mobil dapat membuat kita kurang peka akan kondisi sekitar kita, kehidupan jalanan.
Saya sering berpikir, mangapa sikap mereka demikian, sikap yang kurang ramah tadi. Apa pendapatannya begitu kecil? Wajar jika pendapatan kecil kemudian sikapnya demikian. Namun saya pernah mendapat cerita dari teman, pendapatan supir di Bandung sangat lumayan. Ya, bisa dua kali lipat pendapatan kasir minimarket lah. Namun saya kurang tahu, saya belum pernah mendapat data real. Saya pernah mendengar obrolan supir angkot bernada keluh kesah yang satu kalimat saya tangkap "suatu hari mendapat sisa (keuntungan) lima ribu rupiah". Jika demikian setiap hari, saya rasa tidak akan ada yang ingin menjadi supir angkot.
Saya sering berpikir, mangapa sikap mereka demikian, sikap yang kurang ramah tadi. Apa pendapatannya begitu kecil? Wajar jika pendapatan kecil kemudian sikapnya demikian. Namun saya pernah mendapat cerita dari teman, pendapatan supir di Bandung sangat lumayan. Ya, bisa dua kali lipat pendapatan kasir minimarket lah. Namun saya kurang tahu, saya belum pernah mendapat data real. Saya pernah mendengar obrolan supir angkot bernada keluh kesah yang satu kalimat saya tangkap "suatu hari mendapat sisa (keuntungan) lima ribu rupiah". Jika demikian setiap hari, saya rasa tidak akan ada yang ingin menjadi supir angkot.
Berbicara mengenai naik angkot. Jujur, sering saya merasa bingung harus naik angkot dari mana. Pasalnya, di Indonesia saya rasa sangat sangat jarang ada tempat khusus pemberhentian angkot yang didisain sehingga jika ada angkot berhenti tidak mengganggu lalu lintas. Dengan demikian kita hanya dapat meminilaisasi dengan pertimbangan pribadi. Saya cukup nyaman dengan model transportasi Yogyakarta yang menerapkan Bus TransJogja. Tempat naik turun jelas, tarif jelas, tak khawatir kesasar dan yang jelas, keramahannya. Meskipun sesekali menjadi lebih mahal jika sering naik turun dengan jarak dekat, namun tak jadi masalah dengan layanan yang di berikan.
Dalam beberapa kesempatan, terpikir dalam benak. Menagapa saya sebegitu memikirkannya masalah ini. Bahasanya, kurang kerjaan mikirin hal seperti ini. Menyita pikiran bahkan menggaruk bekas luka. Mengapa tak seperti yang lain yang dapat begitu saja berlalu. Membayar sesuai keinginan, jika kurang tinggal menambah, jika dikatai tinggal dengarkan sesaat dan sudah, berlalu. Ya, mungkin itu hanya masalah sifat orang.
Pernah saya temui, dua orang mahasiswi, saya kira mahasiswi baru, membayar Rp1.000 untuk mereka berdua sedangkan telah banyak angkot yang menetapkan tarif minimal Rp2.000. Memang jaraknya sangat dekat dan mungkin mereka belum sadar (atau kurang peka?), namun tetap saja, kurang sedap dirasa-rasa. Penting. Membayar sesuai dengan tarif. Khawatir malah menjadi hutang yang bisa menjadi beban sampai di hari akhir nanti. Jika kenyataan tarif yang diberikan lebih, keikhlasan dapat menjadi penenang. Ikhlas memberi lebih dan semoga menjadi manfaat. Jika kamu memiliki hati yang mudah luka, jagalah baik-baik, mungkin dengan antisipasi memberi tarif aman dan ikhlas tentunya.
Saya harap, semangat pemimpin menjadikan kota ini kota yang ramah, kota yang tidak frustasi terwujud. Aamiiin. Bagaimana jika supirnya seperti foto ini? Perjalanan nampak lebih cerah bukan? Jangankan menjadi supir angkot, menjadi supir bahtera juga bisa. Bahtera rumah tangga maksudnya #eh.
Dalam beberapa kesempatan, terpikir dalam benak. Menagapa saya sebegitu memikirkannya masalah ini. Bahasanya, kurang kerjaan mikirin hal seperti ini. Menyita pikiran bahkan menggaruk bekas luka. Mengapa tak seperti yang lain yang dapat begitu saja berlalu. Membayar sesuai keinginan, jika kurang tinggal menambah, jika dikatai tinggal dengarkan sesaat dan sudah, berlalu. Ya, mungkin itu hanya masalah sifat orang.
Pernah saya temui, dua orang mahasiswi, saya kira mahasiswi baru, membayar Rp1.000 untuk mereka berdua sedangkan telah banyak angkot yang menetapkan tarif minimal Rp2.000. Memang jaraknya sangat dekat dan mungkin mereka belum sadar (atau kurang peka?), namun tetap saja, kurang sedap dirasa-rasa. Penting. Membayar sesuai dengan tarif. Khawatir malah menjadi hutang yang bisa menjadi beban sampai di hari akhir nanti. Jika kenyataan tarif yang diberikan lebih, keikhlasan dapat menjadi penenang. Ikhlas memberi lebih dan semoga menjadi manfaat. Jika kamu memiliki hati yang mudah luka, jagalah baik-baik, mungkin dengan antisipasi memberi tarif aman dan ikhlas tentunya.
Saya harap, semangat pemimpin menjadikan kota ini kota yang ramah, kota yang tidak frustasi terwujud. Aamiiin. Bagaimana jika supirnya seperti foto ini? Perjalanan nampak lebih cerah bukan? Jangankan menjadi supir angkot, menjadi supir bahtera juga bisa. Bahtera rumah tangga maksudnya #eh.
![]() |
| www.tempo.co |

No comments:
Post a Comment