"When your head gets noisy, write it down" turn out it looks like a complaining and crazy blog now. It was blog full of critical thinking, social cause awareness, motivation and other positive energy. But at a point, it flipped 180 degree, there some posts tried to back to those "positive energy only", but not yet succeeded. Keep fall and fall. Anyway, dont you think write down your crazy thoughts here is better than to mainstream social media?

Sunday, February 10, 2013

Pusat Pengolahan Sampah ITB - Masih Memiliki Kendala

Sampah merupakan satu masalah yang sampai saat ini dirasa masih belum terselesaikan dengan baik. Sampah masih cukup besar andilnya dalam perusakan lingkungan karena pengolahannya belum maksimal. Kita masih melihat sampah yang menghambat aliran air sehingga sering terjadi banjir, yang betebaran di tempat yang tidak seharusnya, yang tidak termanfaatkan dengan baik seperti untuk kompos, batako, maupun pemanfaatan lain, serta belum terkelolanya sampah yang berbahaya menjadi layak untuk dibuang ke lingkungan.

Adapun dari pengolahan sampah yang tidak dapat membusuk diperoleh hasil pembakaran berupa abu.  Abu yang dihasilkan dari pengolahan sampah selama dua belas jam adalah sebanyak 0,2 m3. Abu tersebut digunakan sebagai bahan dasar pembuatan batako dengan ditambahkan semen. Untuk 1 m3 abu ditambakan 1 sak semen dan ditambah air sesuai takaran. Campuran bahan-bahan tadi dipress dengan alat press. Kualitas batako dapat disesuaikan sengan kebutuhan dengan mengubah kekuatan press/tekanan. Semakin kuat tekanan atau semakin padat batako, semakin bagus kualitasnya.


Kasus sampah yang cukup menjadi sejarah adalah peristiwa ‘Bandung Lautan Sampah’. Yaitu peristiwa menumpuknya sampah diberbagai titik di Bandung karena satu-satunya TPA di Kota Bandung longsor. Peristiwa ini terjadi pada tahun 2005.  Konsekuensi dari longsornya TPA tersebut, sampah tidak bisa dibuang untuk sementara waktu. Melihat kondisi ini, ITB (Institut Teknologi Bandung) berinisiatif untuk mengambil peran dalam mengatasi masalah sampah ini, terutama untuk kawasan di dalam ITB. Akhirnya, ITB membangun Pusat Pengolahan Sampah (PPS) dengan merancang sebuah alat pengolahan sampah yang disebut insinerator.

Tahun lalu, saya beserta dua teman saya, Arkanty Septyvergy dan Firda Fitria berkesempatan melihat langsung kinerja PPS ini, kegiatan observasi ini kami lakukan dalam rangka menyelesaikan tugas salah satu mata kuliah yaitu menyusun karya ilmiah dan tulisan ini banyak mengutip dari hasil susunan makalah kami.

Sebenarnya PPS ITB telah didirikan sejak tahun 2000.  Namun, PPS hanya mengolah sampah yang dapat membusuk untuk dijadikan kompos.  Dengan penambahan insinerator pada tahun 2005, PPS tersebut juga dapat mengolah sampah yang tidak dapat membusuk. Insinerator ITB ini memiliki kapasitas kerja 100 kg sampah yang tidak dapat mebusuk tiap jamnya sehingga dapat membakar sampah sekitar 1,2 ton setiap hari.

Proses Pengangkutan Sampah
Sampah diangkut dari ITB dengan sejumlah kendaraan khusus pengangkut sampah.  Sampah diangkut dua kali sehari, yaitu pada pukul 09.00-10.00 dan pukul 14.00-15.00.  Rata-rata jumlah sampah yang masuk ke PPS ITB sebanyak 20-25 m3 per hari yang setara dengan enam ton sampah. 


Sampah berasal dari fasilitas-fasilitas ITB, yaitu kampus ITB, gedung rektorat, Sabuga, sarana olahraga, masyarakat sekitar, dan sebagian asrama ITB.

Setelah sampai di PPS ITB, sampah dipisahkan menjadi sampah yang dapat membusuk dan tidak dapat membusuk.  Sampah yang dapat membusuk diolah menjadi kompos, sedangkan sampah yang tidak dapat membusuk diolah dengan insinerator. 

Pengolahan Sampah yang Dapat Membusuk

Sampah yang dapat membusuk biasanya berasal dari sampah taman dan limbah kantin.  Sampah yang masuk dicacah hingga halus dengan mesin pencacah.  Setelah itu, cacahan ditumpuk di suatu tempat lalu diberi air dan mikroba dengan takaran tertentu.  Fermentasi sampah dilakukan dengan sistem aerob sehingga dalam prosesnya, oksigen selalu dibutuhkan. Untuk memenuhi kebutuhan oksigen pada setiap bagian bahan, dilakukan pembalikan secara berkala. Saat pembalikan, dilakukan pula pergeseran tempat untuk menyediakan lahan bagi bahan kompos yang baru masuk.
Fermentasi memakan waktu selama satu bulan.  Setelah satu bulan, kompos  diayak dengan mesin pengayak untuk memisahkan bagian yang halus dan bagian yang kasar.  Bagian yang kasar akan dihaluskan kembali dengan mesin pencacah dan mengulangi proses fermentasi dari awal.  Bagian yang telah halus dikemas dalam kemasan plastik.

Pengolahan Sampah yang Tidak Dapat Membusuk
Setelah pemilahan, sampah yang tidak dapat membusuk dibakar di insinerator.  Sampah dimasukkan ke ruang bakar utama dan dibakar dengan suhu antara 800o-1000oC agar terjadi pembakaran sempurna dan bakteri serta racun dalam sampah musnah.  Sebagai pemantik api, digunakan solar kira-kira setengah liter setiap harinya dan api akan bertahan sampai api dimatikan. Hasil pembakaran di ruang bakar utama berupa abu.  
Setelah itu, sampah dilewatkan ke ruang bakar sekunder agar asap yang dihasilkan tidak hitam legam. Pada ruang bakar kedua asap hitam legam itu disempurnakan sehingga tidak terlalu hitam. Setelah keluar dari ruang bakar kedua, asap akan menjadi sangat panas. Asap panas itu dilewatkan ke boiler untuk mendinginkan asap sehingga selang penghubung ke tahap berikutnya tidak cepat rapuh sebab asap itu berkadar asam tinggi dan dapat membuat cerobong cepat berkorosi. Proses dalam boiler memiliki hasil samping uap air murni. Setelah didinginkan di boiler, maka asap akan bergerak ke cyclone dengan bantuan blower yang terdapat di cyclone. 
Dalam asap yang terbawa ke cyclone pasti masih terdapat abu padatan. Abu padatan yang ada di asap itu di jebak di cyclone dengan sistem rotasi oleh angin sehingga abu padatan akan jatuh ke lubang bawah yang ada di cyclone. Akan tetapi dari asap yang dikeluarkan oleh cyclone masih terdapat abu padatan yang lolos. Asap yang mengandung sedikit abu padatan itu masuk ke wet scrubber. 
Di dalam wet scrubber, asap akan disiram oleh air. Abu yang sudah bercampur dengan air akan dialirkan ke suatu bak. Pada akhirnya asap yang dihasilkan akan terbebas dari abu sehingga tidak mencemari lingkungan. Air yang telah tertampung di dalam bak akan dikembalikan ke wet scrubber untuk menyiram asap yang mengandung abu. Begitu seterusnya hingga air dianggap tidak layak untuk digunakan lagi. Jika air sudah tidak layak lagi, maka air akan diganti dengan air yang bersih agar fungsi pengikatan abu pada wet scrubber berjalan dengan baik.



Pemanfaatan Materi Sisa Pengolahan Sampah
Materi hasil pengolahan sampah dari PPS ITB dapat dimanfaatkan.  Kompos hasil pengolahan sampah yang dapat membusuk dijadikan bahan untuk menggemburkan tanah di fasilitas-fasilitas ITB.  Jika masih ada sisa, kompos tersebut akan didistribusikan ke kios-kios bunga di Bandung.  Uang hasil penjualan kompos tersebut masuk ke rekening milik ITB.

Uap air yang berasal dari boiler dimanfaatkan untuk sterilisasi media tanaman jamur. Panas yang dibawa uap air dapat membunuh organisme patogen maupun bibit organisme yang dapat mengganggu pertumbuhan jamur saat ditanam.

Permasalahan dalam Pengolahan Sampah di ITB
Sistem pada insinerator yang telah dirancang sedemikian rupa agar pembakaran sampah berlangsung efisien dan efektif ternyata memiliki banyak kendala dalam pelaksanaannya. Kendala ini menjadikan proses pengolahan dengan insinerator tidak optimal. Ketidakoptimalan proses ini dapat dilihat dari gas buang yang masih berwarna (gas buang yang layak tidak memiliki warna atau transparan).

Gas buang dari insinerator bisa berwarna putih atau hitam. Gas buang atau asap putih menandakan tidak sempurnanya pembakaran pada ruang bakar utama. Hal ini disebabkan karena masih adanya sampah berkadar air tinggi yang masuk ke ruang pembakaran sehingga proses untuk mencapai temperatur ideal (minimal 800oC) menjadi lebih lama. Dampak dari lamanya pencapaian temperatur ideal adalah pembakaran sampah hingga terbakar sempurna lebih lama.  Selanjutnya, kapasitas bakar yang semula 100 kg per jam juga akan mengecil.

Sampah yang berkadar air tinggi seharusnya tidak diolah dengan insinerator tetapi diolah dengan pengomposan.  Oleh karena itu, pemilahan sampah merupakan hal yang krusial dalam hal ini.  
Sebenarnya, sarana dan prasarana telah dibangun sedemikian rupa oleh ITB  untuk memfasilitasi proses pemilahan sampah tersebut.  Mulai dari sepasang tempat sampah berwarna hitam dan putih untuk membedakan tempat sampah membusuk dan tidak membusuk, bak kendaraan pengangkut sampah yang tersekat, hingga tempat pengolahan sampah yang juga terpisah telah dibuat untuk memaksimalkan proses pengolahan sampah.  Hanya saja dalam praktiknya pemilahan sampah belum berjalan dengan baik. 

Hal ini terlihat dari kondisi tempat-tempat sampah di ITB.  Meskipun, tempat sampah untuk sampah membusuk dan tidak membusuk telah dibedakan, namun pada kenyataannya sampah-sampah tersebut masih tercampur.  Tempat sampah warna hitam maupun putih tidak berbeda isinya, ada sampah yang dapat membusuk dan sampah yang tidak dapat membusuk. Saat pengambilan oleh kendaraan pengangkut pun sampah tetap tercampur karena apabila sampah dipilah akan menghabiskan banyak waktu dan tenaga. Sampah tercampur sampai tempat pengolahan sampah ITB. Jika sebelum diolah menjadi kompos atau dibakar dengan insinerator sampah dipilah kembali akan menghabiskan banyak waktu dan tenaga.

Pemilihan sampah sebenarnya bisa dilakukan namun proses ini dinilai mahal karena membutuhkan tenaga dan atau waktu yang akhirnya diperlukan biaya untuk upah pegawai baru dan atau pegawai untuk  jam lembur. Ini terjadi karena kebanyakan sampah tercampur dengan komposisi yang hampir sama. Pada akhirnya pembakaran di insinerator yang seharusnya digunakan hanya untuk sampah kering tercampur dengan sampah yang dapat membusuk (sampah berkadar air tinggi). Jika komposisi tercampurnya sampah hanya sedikit pemilahan sampah masih mungkin untuk dilakukan sehingga sampah dapat dipisahkan menurut jenisnya. Hal ini menjadikan peluang masuknya sampah berkadar air tinggi ke insinerator menjadi lebih kecil.

Gas buang atau asap berwarna hitam biasanya disebabkan oleh bahan-bahan yang sulit diurai seperti karet dan styrofoam. Bahan-bahan ini belum dapat terurai pada suhu 1000oC padahal suhu maksimal yang dapat ditoleransi oleh insineratror adalah 1000oC. Pada akhirnya pembakaran kembali tidak sempurna dan mengemisikan gas buang/asap yang mengandung zat berbahaya seperti dioksin. Dioksin merupakan salah satu zat yang bersifat karsinogenik yaitu zat yang dapat memicu kanker.
Sebenarnya ITB telah menetapkan aturan yang melarang penggunaan styrofoam di kawasan ITB, namun pada praktiknya masih banyak yang menggunakan styrofoam dalam berbagai kegiatan di kampus terutama untuk pembungkus makanan.

Selain pemilahan yang menjadi masalah utama dalam pengolahan sampah di PPS ITB, masalah perawatan juga menjadi hambatan pengoptimalan kinerja insinerator ITB. Ketika ada bagian insinerator yang rusak, perbaikan atau penggantian belum dapat dilakukan dengan segera. Menurut Bapak Apep, Kepala PPS ITB, tindak lanjut terhadap laporan kerusakan masih lama. Birokrasi di ITB beliau nilai masih sulit dan berbelit-belit. Hal ini kembali berdampak pada kerja insinerator yang kurang optimal. Salah satu contoh kerusakan insinerator yang belum ditindaklanjuti adalah bocornya wet scrubber sehingga sirkulasi air terganggu (tidak optimal).

Hambatan yang cukup besar dampaknya adalah tidak sebandingnya sampah yang harus diolah dengan sampah yang masuk ke PPS. Volume sampah yang masuk ke PPS melebihi kemampuan alat yang ada sehingga alat dipaksa mengolah melebihi kapasitas yang dimiliki. Kapasitas insinerator adalah 1,2 ton per hari namun kenyataanya insinerator dipaksa bekerja untuk mengolah 1,5 sampai 1,7 ton per hari. Hal ini juga dapat mengakibatkan kerusakan sehingga mengurangi usia pakai insinerator. Kapasitas 1,2 ton per hari adalah ketika kerja insinerator optimal atau sampah yang masuk sudah sesuai (sampah kering), namun pada kenyataanya kapasitasnya kurang dari 1,2 ton karena masalah pemilahan.

Kesimpulannya, insinerator bekerja untuk 1,5 sampai 1,7 ton adalah suatu pemaksaan yang cukup besar. Dilihat dari waktu pemakaian insinerator, kerja insinerator juga lebih dari jam kerja yang telah ditentukan. Normalnya kerja insinerator adalah duabelas jam, namun yang terjadi selama ini insinerator bekerja kira-kira enambelas jam bahkan jika ITB sedang mengadakan acara besar, pengoperasian insinerator dilakukan hingga 24 jam selama berhari-hari.

Itulah pemaparan tentang pusat pengolahan sampah di ITB, yang pada akhirnya ternyata masih memiliki kendala. Kendala ini menyebabkan ketidakoptimalan kinerja insinerator yang ada. Lantas bagaimana cara mengatasi hal ini?

2 comments:

  1. ijin copas yah :D

    ReplyDelete
  2. Salam Sukses------ Maaf ya Mas apa seksrang sistem scrubber asapnya sudah baikan apa belom ..? mau sedikit sumbang saran: menggunakan sistem Ventury Scrubber memang sulit diharaokan dapat membersihkan asap; kini ada teknologi terkini yaitu generasi terbaru dalam wet scrubber yaitu jenis ekstraktor asap. Teknologi terbaru ini mampu mengubah asap yang hitam pekat menjadi seperti udara/angin yang sama-sekali tidak berwarna dan tidak berbau. Kalo Mas tertarik bisa hubungi saya (DADANG) di 081286088809 atau di 087770744170 atau email alissentosa@gmail.com

    ReplyDelete