Aku ingat, waktu itu, aku masih kelas 1 SMP. Sejak berbulan-bulan yang lalu (aku rasa sudah lebih dari satu tahun), aku berpikir, mencoba mengingat-ingat apa alasanku ingin pergi ke sana. Aku tak menemukan jawabannya, yang aku ingat, saat itu aku suka baca komik conan yang settingnya memang di Jepang. Hanya komik itu yang menghubungkanku dengan Jepang, itupun dulu. Tapi aku tetap tak bisa mengatakan dengan tegas itu adalah alasannya.
Saat masih SMP juga, aku sempat berpikir aku adalah orang yang durhaka pada Indonesia jika aku tetap menyukai Jepang. Jepang pernah menjajah kita kawan, dan penjajahan mereka diceritakan cukup menakutkan. Tapi aku dulu juga berpikir, bukankah penjajahan itu dulu, sekarang buat apa menutup diri kalo toh kita bisa dapat manfaat dari sekedar menyukai Jepang.
Keinginanku pergi ke sana sering aku pikir hanya akan menjadi keinginan sesaat. Akan dilalui waktu. Ternyata tidak. Aku masih ingin pergi ke sana. Tanpa alasan yang jelas. Keinginan itu tidak membesar maupun membulat, tapi tetap ada. Lingkungan saat aku masih SMP, membuatku merasa bahwa keluar negeri adalah sesuatu yang jauh, yang hampir tidak mungkin, yang tidak umum, yang membuatku berpikir pergi ke Jepang hanyalah bisa dilakukan oleh orang-orang luar biasa atau orang yang mendapat keajaiban. Yang mendapat rizki tak terduga seperti yang ada di film/sinetron.
Aku ingat-ingat dengan samar-samar, saat kelas tiga SMP, aku berpikir, jika aku ke Jepang, mungkin kulitku bakal seputih orang-orang di sana. Ah tapi guru IPA/biologi ku berkata bahwa warna kulit itu karena gen. Nggak bisa dirubah dan aku percaya.
Saat kelas satu SMA, aku mendengar cerita kesuksesan orang yang bekerja di Jepang. Yang hanya dengan berjualan tempe di sana, ia bisa membangun rumah. Ya, ini juga aku dengan dari televisi. Cerita ini membuatku merasa semakin dekat dengan Jepang, dengan keinginan ke sana.
Saat kelas dua SMA, aku menemukan sebuah majalah yang banyak bercerita tentang Jepang. Tentang perkuliahan di Jepang, tentang kehidupan mahasiswa Indonesia di sana dan tentang beasiswa. Aku cari tau betul waktu itu. Aku persiapkan betul untuk bisa mendapat beasiswa ke sana. Yang paling penting waktu itu adalah nilai. Ya, aku jaga nilai raportku dan di kelas tiga SMA, aku berusaha agar nilai ujian akhirku memenuhi.
Semua persyaratan administratifku memenuhi. Tapi entah mengapa, saat tiba waktu pendaftaran, aku lupa. Aku sendiri lupa, apakah waktu itu aku memang lupa mendaftar atau memang greget keinginan itu sedang tidak ada.
Semester ke dua di ITB, aku kembali teringat akan Jepang. Aku berniat untuk apply lagi. Aku sudah download formulir dan sudah sedikit aku isi. Namun tak selesai. Aku disibukkan dengan rutinitas di kampus. Ah rutinitas? alibi. Aku memang belum punya tekad yang kuat untuk mewujudkan keinginanku. Dan ya, memang tak ada alasan kuat yang mendorongku untuk berusaha keras.
Tapi aku masih ingin ke sana. Entah apa yang akan aku kerjakan. Aku rasa tidak ada salahnya ke sana sekedar keinginan tanpa urgensitas. Sekarang, aku akan berusaha untuk itu. Serius. Bismillah.[]