Bus merupakan alat transportasi yang sudah umum digunakan di Indonesia. Bus memiliki kapasitas yang cukup besar dan lajunya pun cukup kencang sehingga untuk perjalanan yang cukup jauh, bus menjadi salah satu pilihan masyarakat.
Karena banyaknya peminat untuk transportasi ini dan kadang dihadapkan pada kuantitas bus yang tidak mencukupi, terkadang bahkan sering orang harus berdiri sepanjang perjalanan karena tempat duduk dalam bus telah terisi penuh.
Berbicara mengenai tempat duduk yang penuh dan penumpang yang harus berdiri dalam perjalanan, ada satu hal yang cukup menjadi sorotan saya. Hal tersebut terkait etika dalam memprioritaskan penumpang untuk duduk.
Beberapa bus menempelkan notice pada kaca depan bus yang kurang lebih berisi himbauan agar penumpang yang cacat, ibu hamil/menyusui, dan lansia mendapat prioritas utama untuk mendapat tempat duduk. Itu artinya meskipun orang-orang yang disebutkan tadi datang belakangan, penumpang yang memiliki tempat duduk hendaknya memberikan tempat duduknya untuk mereka. Mengapa harus demikian, tentulah setiap dari kita dapat memahaminya, ini terkait dengan keadaan mereka.
Semasa saya SMA, di Magelang, hampir setiap hari saya naik minibus ke sekolah. Perjalanan dengan bus ini memakan waktu 40 menit sampai satu jam. Saat jam keberangkatan sekolah, kebanyakan bus penuh sehingga banyak penumpang yang harus berdiri. Budaya memberikan tempat duduk kepada orang yang lebih tua sudah cukup bagus. Bahkan laki-laki memberikan tempat duduknya untuk perempuan. Baik itu laki-laki ataupun perempuan, akan ada yang memberikan tempat duduknya kepada nenek-nenek atau ibu-ibu atau orang yang lebih tua yang baru naik dan tidak mendapat tempat duduk. Memang tidak semua orang di sana memiliki habit ini namun setelah menyaksikan keadaan di wilayah lain, habit tersebut di Magelang masih lebih baik.
Saya pernah berada dalam suatu bus yang penuh sesak. Banyak penumpang yang harus bediri. Kebetulan saya mendapat tempat duduk, saya tidak memberikan tempat duduk saya karena saya merasa orang-orang yang berdiri jauh lebih kuat dari saya yang saat itu sedang sakit kaki. Namun saya sangat heran melihat seorang lelaki disebelah saya, yang juga dekat dengan perempuan yang berdiri, diam saja. Tidak ada inisiatif untuk memberikan tempat duduknya pada perempuan yang sedang berdiri. Bahkan saat saya memberikan tempat duduk saya kepada seorang ibu yang membawa dua anak laki-laki, saya tidak melihat ada rasa malu dihidungnya. Ya saya memang tidak tahu isi hatinya tapi tetap saja saya heran.
Lelaki yang duduk diseberang-depan saya adalah pemuda yang rapi tampilannya dan kekar badannya. Di depannya berdiri seorang perempuan, disebelahnya berdiri seorang perempuan juga dan seorang ibu yang membawa anak kecil. Sampai suatu ketiga perempuan tadi duduk dibawah, disebelah pemuda kekar tadi karena sudah lelah berdiri. Saya tidak tahu apa yang ada dalam hati pemuda tersebut, saya bertanya-tanya mengapa tidak ada rasa peka dalam dirinya. Ingin sekali saya memberitahu si pemuda kekar bahwa ada tiga perempuan yang duduk dibawahnya dan alangkah baiknya kalau dia mau memberikan tempat duduknya. Tapi ternyata saya tidak memiliki cukup keberanian.
Ibu yang duduk dibawah yang saya ceritakan sebelumnya, duduk disamping bagian bawah sandaran tempat duduk si pemuda kekar. Jadi sebagian tubuh ibu tersebut berada disamping blok kursi penumpang dibelakang kursi si pemuda kekar. Hal yang mengecewakan lagi, orang yang duduk dibelakang pemuda kekar adalah dua orang wanita kalem (lemah-lembut) yang berpakaian tidak ketat, bawahan rok dan kerudung yang lebar, kenampakannya adalah akhwat, muslimah. Mereka pun ternyata juga tidak peka akan sekitarnya. Ada seorang ibu yang duduk dibawah mereka dan saya yakin mereka tahu, tapi mereka tidak punya kepekaan hati untuk memberikan tempat duduk meraka kepada ibu tersebut. Mungkin terkesan menjudge, tapi ya saya hanya menyampaikan apa yang saya lihat. Saya harap pembaca pun dapat menanggapi dengan bijaksana.
Saat saya menengok kebelakang, ternyata ada beberapa ibu yang berdiri dan dalam waktu yang bersamaan, banyak pemuda/pemudi yang duduk. Lagi-lagi saya heran dan kecewa. Memberikan tempat duduk dalam bus kepada orang yang dirasa lebih membutuhkan, seperti orang yang lebih tua, anak kecil dan orang yang sakit, merupakan suatu etika. Memang ini bukan peraturan, tidak memiliki sangsi atas pelanggarannya. Namun hal ini saya pikir mencerminkan kepribadian dan tatanan masyarakat. Tatanan masyarakat yang baik menjadikan kehidupan berjalan lebih indah, harmonis. Dan sejatinya itu diinginkan oleh semua orang.
Tidak semua orang peduli akan lingkungannya. Tidak semua orang memiliki cukup kepekaan. Tidak di semua tempat suatu habit terbudayakan. Tidak semua pemuda/pemudi memiliki jiwa ksatria.
Susila Hadiyati
-Terinspirasi dari perjalanan Jatinangor-Bandung di siang yang terik dengan bus yang penuh sesak, 2 Maret 2013-
Karena banyaknya peminat untuk transportasi ini dan kadang dihadapkan pada kuantitas bus yang tidak mencukupi, terkadang bahkan sering orang harus berdiri sepanjang perjalanan karena tempat duduk dalam bus telah terisi penuh.
Berbicara mengenai tempat duduk yang penuh dan penumpang yang harus berdiri dalam perjalanan, ada satu hal yang cukup menjadi sorotan saya. Hal tersebut terkait etika dalam memprioritaskan penumpang untuk duduk.
![]() |
| sumber: sayhitohenny.blogdetik.com |
Semasa saya SMA, di Magelang, hampir setiap hari saya naik minibus ke sekolah. Perjalanan dengan bus ini memakan waktu 40 menit sampai satu jam. Saat jam keberangkatan sekolah, kebanyakan bus penuh sehingga banyak penumpang yang harus berdiri. Budaya memberikan tempat duduk kepada orang yang lebih tua sudah cukup bagus. Bahkan laki-laki memberikan tempat duduknya untuk perempuan. Baik itu laki-laki ataupun perempuan, akan ada yang memberikan tempat duduknya kepada nenek-nenek atau ibu-ibu atau orang yang lebih tua yang baru naik dan tidak mendapat tempat duduk. Memang tidak semua orang di sana memiliki habit ini namun setelah menyaksikan keadaan di wilayah lain, habit tersebut di Magelang masih lebih baik.
Saya pernah berada dalam suatu bus yang penuh sesak. Banyak penumpang yang harus bediri. Kebetulan saya mendapat tempat duduk, saya tidak memberikan tempat duduk saya karena saya merasa orang-orang yang berdiri jauh lebih kuat dari saya yang saat itu sedang sakit kaki. Namun saya sangat heran melihat seorang lelaki disebelah saya, yang juga dekat dengan perempuan yang berdiri, diam saja. Tidak ada inisiatif untuk memberikan tempat duduknya pada perempuan yang sedang berdiri. Bahkan saat saya memberikan tempat duduk saya kepada seorang ibu yang membawa dua anak laki-laki, saya tidak melihat ada rasa malu dihidungnya. Ya saya memang tidak tahu isi hatinya tapi tetap saja saya heran.
Lelaki yang duduk diseberang-depan saya adalah pemuda yang rapi tampilannya dan kekar badannya. Di depannya berdiri seorang perempuan, disebelahnya berdiri seorang perempuan juga dan seorang ibu yang membawa anak kecil. Sampai suatu ketiga perempuan tadi duduk dibawah, disebelah pemuda kekar tadi karena sudah lelah berdiri. Saya tidak tahu apa yang ada dalam hati pemuda tersebut, saya bertanya-tanya mengapa tidak ada rasa peka dalam dirinya. Ingin sekali saya memberitahu si pemuda kekar bahwa ada tiga perempuan yang duduk dibawahnya dan alangkah baiknya kalau dia mau memberikan tempat duduknya. Tapi ternyata saya tidak memiliki cukup keberanian.
Ibu yang duduk dibawah yang saya ceritakan sebelumnya, duduk disamping bagian bawah sandaran tempat duduk si pemuda kekar. Jadi sebagian tubuh ibu tersebut berada disamping blok kursi penumpang dibelakang kursi si pemuda kekar. Hal yang mengecewakan lagi, orang yang duduk dibelakang pemuda kekar adalah dua orang wanita kalem (lemah-lembut) yang berpakaian tidak ketat, bawahan rok dan kerudung yang lebar, kenampakannya adalah akhwat, muslimah. Mereka pun ternyata juga tidak peka akan sekitarnya. Ada seorang ibu yang duduk dibawah mereka dan saya yakin mereka tahu, tapi mereka tidak punya kepekaan hati untuk memberikan tempat duduk meraka kepada ibu tersebut. Mungkin terkesan menjudge, tapi ya saya hanya menyampaikan apa yang saya lihat. Saya harap pembaca pun dapat menanggapi dengan bijaksana.
Saat saya menengok kebelakang, ternyata ada beberapa ibu yang berdiri dan dalam waktu yang bersamaan, banyak pemuda/pemudi yang duduk. Lagi-lagi saya heran dan kecewa. Memberikan tempat duduk dalam bus kepada orang yang dirasa lebih membutuhkan, seperti orang yang lebih tua, anak kecil dan orang yang sakit, merupakan suatu etika. Memang ini bukan peraturan, tidak memiliki sangsi atas pelanggarannya. Namun hal ini saya pikir mencerminkan kepribadian dan tatanan masyarakat. Tatanan masyarakat yang baik menjadikan kehidupan berjalan lebih indah, harmonis. Dan sejatinya itu diinginkan oleh semua orang.
Tidak semua orang peduli akan lingkungannya. Tidak semua orang memiliki cukup kepekaan. Tidak di semua tempat suatu habit terbudayakan. Tidak semua pemuda/pemudi memiliki jiwa ksatria.
Susila Hadiyati
-Terinspirasi dari perjalanan Jatinangor-Bandung di siang yang terik dengan bus yang penuh sesak, 2 Maret 2013-

No comments:
Post a Comment