"When your head gets noisy, write it down" turn out it looks like a complaining and crazy blog now. It was blog full of critical thinking, social cause awareness, motivation and other positive energy. But at a point, it flipped 180 degree, there some posts tried to back to those "positive energy only", but not yet succeeded. Keep fall and fall. Anyway, dont you think write down your crazy thoughts here is better than to mainstream social media?

Wednesday, March 20, 2013

You are Completely Beautiful #2 : Ada Seninya Meminta Orang Lain Melakukan Sesuatu

sumber : http://jejak-serikandi.blogspot.com/2011/08/kata-kata-untuk-sahabat.htmlHidup memang berseni. Dalam kehidupan sehari-hari, hampir semua memiliki seni. Seni yang ekspresinya akan berbeda untuk kasus yang berbeda.

Dalam part sebelumnya saya membahas seni dalam memperlakukan/mengolah sampah. Kali ini ada suatu permasalahan yang bagi saya cukup menarik karena ini sangat mengganggu pikiran saya dan hampir setiap hari saya temui. Tentang apa itu?

Meminta orang lain melakukan hal yang kita inginkan

Ini berawal dari ketidaknyaman hati saya pada seseorang yang sepanjang hari memerintah orang lain. Itu berdasar perasaan saya semata. Banyak hal ia komentari dan banyak yang berujung pada keinginan orang lain melakukan sesuatu perintah. Sebenarnya kata yang ia pakai untuk meminta orang melakukan sesuatu (memerintah) cukup banyak yang menggunakan kata ‘tolong’, ’yuk’ atau kata permintaan dan ajakan lainnya. Namun yang saya -dan saya yakin beberapa teman saya juga- rasakan, kalimat-kalimatnya adalah kalimat perintah. Ketidaknyamanan hati yang saya utarakan sebelumnya ya karena saya merasa yang ia lakukan dari pagi hingga pagi lagi kebanyakan adalah memerintah. Perintah melakukan (termasuk berpikir) sesuatu yang dalam sudut pandangnya, itu adalah hal yang seharusnya orang lain lakukan (atau pikirkan).

Sampai saat ini saya masih bingung mengapa kalimat yang dalam teori merupakan kalimat ajakan atau permintaan tolong bisa menjadi kalimat perintah. Ajakan, permintaan tolong dan perintah memang sama tujuannya, agar orang lain melakukan sesuatu yang kita inginkan. Tapi kita sepakat bahwa ketiganya berbeda. Saya belum 100% yakin bahwa yang mempengaruhi hal ini adalah hanya pada nada penyampaian kalimat. Frekuensi sepertinya juga mempengaruhi. Maksudnya, terlalu banyak meminta orang lain melakukan sesuatu dengan bahasa verbal bisa jadi membuat orang muak, capek.

Memikirkan hal ini menjadi cukup menarik karena jika kita bisa menasihati orang lain dengan cara yang baik, tentu kita akan cukup berpengaruh pada orang lain. Menasihati di sini bisa jadi adalah mengingatkan orang lain, memberikan pengertian kepada orang lain sampai meminta orang lain melakukan hal yang kita anggap baik untuk orang tersebut lakukan. Apalagi untuk niat yang baik, jangan sampai niat yang baik disampaikan/diterima dengan tidak baik sehingga hasilnya pun kurang baik bahkan buruk.


Jika kita memiliki banyak hal yang harus diperintahkan kepada orang lain, mungkin bisa ditransform ke permintaan tolong atau ajakan. Tentu dengan bahasa dan nada yang tepat, permintaan tolong/ajakan yang sejati. Untuk ajakan, menurut saya ada cara improvenya lagi yaitu dengan membersamai. Maksudnya, jika kita bayangkan ketika kita mengajak orang lain kita berada didepan, akan lebih baik jika kita merangkul, melakukan hal tersebut bersama-sama sehingga akan mudah dilakukan oleh orang yang kita ajak. Oya, catatan penting juga, sering saya melihat orang yang mengajak, bilang ‘ayo’ tapi dia tidak berada di depan.

Kalimat saya terlalu abstrak mungkin. saya akan memberikan contoh dari pengalaman saya pribadi. Suatu ketika (beberapa kali sebenarnya), teman saya mengajak penghuni asrama untuk sholat di masjid. Ajakannya ia sampaikan dengan suara keras hingga seluruh penghuni asrama mendengar. Namun kenyataan ia tidak bergegas pergi ke masjid bahkan pernah dua kali saya pergoki dia tidak sholat di masjid. Hal ini membuat saya kecewa dan tidak simpati lagi atas ajakannya. Seharusnya, ia menjadi menjadi pendahulu yang datang ke masjid karena dia bilang ‘ayo!’, lain hal jika dia bilang ‘sana!’.

Lebih parahnya, jika apa yang kita lakukan justru berkebalikan dengan apa yang kita ucapkan. Ada contoh nyata lagi meskipun ini bukan saya yang mengalami. Suatu hari, saat adzan berkumandang, X berkata pada Y “kalo udah denger adzan tu bergegas sholat, tinggalkan yang lain, jangan malah menjambil kerjaan” (kalimatnya tidak persis, kira-kira seperti itu). Namun suatu hari ketika X berada sama persis dengan Y (pekerjaan yang dilakukan sama), Y mengingatkan X bahwa sudah adzan dan sudah waktunya sholat. Jawaban si X berkebalikan dengan pernyataannya sebelumnya. Intinya X bilang bahwa selesaikan dulu pekerjaan yang ada, biar tidak terburu-buru. Sejak saat itu, kepercayaan/kepatuhan Y terhadap X luntur.

Konsisten dengan kata-kata sendiri amatlah penting. Saya pribadi pernah menangis saking sakit hatinya saya akan bedanya ucapan dan kenyataan yang ada dari seseorang. Menangis ini sudah lebih dari marah. Konsistensi ini, mungkin belum bisa sempurna, setidaknya terlihat usaha yang lebih dari kita untuk mengamalkan apa yang sudah kita minta orang lain untuk melakukannya. Ya semoga dapat diambil hikmahnya.

Oya, mungkin sedikit kemana-mana ceritanya, tapi ada satu lagi yang penting. Biasakan menggukanan kata ‘minta tolong’ dari pada ‘menyuruh. “oh ya, ntar aku minta tolong temenku...” lebih enak di dengar daripada “oh ya ntar aku nyuruh temenku...”. Saya pernah menggunakan kata menyuruh dan sampai sekarang masih menyesal karena sejatinya saya tidak suka dengan kata tersebut.

Kawan, bayangkan ketika kita bisa dengan cantik meminta/mempengaruhi orang lain, keberhasilan kita mengondisikan keadaan sesuai yang kita inginkan tentu sangat mudah. Kecantikan dalam melakukan hal ini akan sangat penting terutama bagi aktivis-aktivis yang memiliki semangat tinggi melakukan perubahan terhadap lingkungannya. Aktivis, baik itu aktivis kampus, lingkungan, sosial bahkan dakwah.

Seni meminta orang lain berbuat sesuatu ini tidak semata diperlukan untuk hal yang besar. Sekedar meminta orang lain bangun tidur pun ada seninya. Selain agar kita berhasil, juga agar mereka melakukan tanpa rasa susah, tidak sakit hati, legowo. []


Susila Hadiyati

Tipe pengamat yang sering takut mengutarakan apa yang sebaiknya orang lakukan. 

No comments:

Post a Comment