I still remember the 8 years ago is October 5th 2018. I avoid to tell what was going on as an event for different people might hit differently (I am just worry people will mock me for being weak haha). Well as you see, overall, its positive. I make a positive progress tho I still dont find myself as I was.
Serpihan Mozaik Kehidupan
Pengalaman pribadi dan potret sekitar untuk nasihat diri
"When your head gets noisy, write it down" turn out it looks like a complaining and crazy blog now. It was blog full of critical thinking, social cause awareness, motivation and other positive energy. But at a point, it flipped 180 degree, there some posts tried to back to those "positive energy only", but not yet succeeded. Keep fall and fall. Anyway, dont you think write down your crazy thoughts here is better than to mainstream social media?
Friday, July 3, 2026
Psikiater
After holding it for years, I decided to come to psychiatrist, last 3 weeks. I didnt decide whether to come to psychologist or psychiatrist. I just came to physician and they referred me there. I believe Susi 7 years ago was the one needs the psychiatrist the most, or better 2 years ago when she arrived back to this country. I keep going as maybe if I hold more, later I might say today's Susi was the one need it more.
I am still figuring it out. Is this the right decision? Do I really need it? Am I being too much?
How to answer?
Thursday, July 2, 2026
Caring for Inner Wounds
I once hold my intention to check this out from my shopping basket in an e-commerce. I thought this might just talk about a wound in the past and how to get over it. Until I need a book to reduce my doomscrolling and this book is the closest I can think of. Turned out its the best decision.
I havent done, maybe half I read now. It talks about depression (one of the words I hate, I always try to avoid to use this word). It gives me perspective, in a rational and scientific way how brain, thought and feeling work for people with depression.
It gives me kinda validation of what I feel and think. I feel understood. No no, its not that self diagnose to label my self with certain label to be cool. I just want a better life, a better me. I see in the last half, it also gives some ways to train our brain to get out from depression.
Thursday, June 11, 2026
Kebiasaan ngomong sendiri
Sebenarnya kebiasan ngomong sendiri (entah di ucap atau dalam pikiran), ngebayangin lagi ngomong sama orang atau ngebayangin ada di situasi tertentu udah jadi kebiasaanku dari kecil. Paling mengganggu waktu aku kuliah s1 dan beberapa tahun terakhir. Kemarin aku sampai literally mau muntah karena capek sama diri sendiri yang menghabiskan hampir semua waktu terjaga dengan berkhayal dan ngomong sendiri. Menurutku sudah di tahap mengganggu aktivitas. Aku yakin ga cuma aku yg suka ngomong/berkhayal sendiri.
Aku coba searching gimana cara biar ngga kayak gitu. Karena aku ngerasa udah terlalu sering dan sudah mengganggu aktivitas. melelahkan.
Aku coba searching gimana cara biar ngga kayak gitu. Karena aku ngerasa udah terlalu sering dan sudah mengganggu aktivitas. melelahkan.
- Teknik grounding. 5-4-3-2-1. Sebutkan 5 benda yang dilihat, 4 yg bisa disentuh, 3 suara yang didengar, 2 aroma yg dicium dan 1 rasa di lidah.
- Tuliskan isi pikiran. Pindahkan percakapan imaginer ke tulisan. Which is ini yg sedang saya lakukan dan sebenarnya sudah saya lakukan sejak blog ini ada (16 thn lalu) terutama beberapa tulisan terakhir. itu isi pikiran saya yg saya tumpahkan.
- Alokasikan 10 menit untuk melamun lalu larang diri untuk melakukan di luar waktu tersebut.
Yg pertama masih agak bingung sih, itu di sebutin aja apa beneran di sentuh? dua paling bisa saya lakukan saat ini. tiga kayaknya ga bisa deh, selama ini saya melarang diri untuk berimaginasi, tapi susahnya minta ampun.
Yang baru saya notice di umur saya 33 thn ini: Isi percakapan yang saya bayangkan adalah percakapan yang sy ingin itu terjadi, yg saya ingin ucapkan ke orang-orang tapi tidak kesampean atau tidak saya lakukan atau tidak bisa saya lakukan. Misal saya ada keluhan ke adik saya, saya pengen protes soal A, B, C tapi saya ngga bisa. Maka saya membayangkan saya lagi ngomong sama adik saya soal A, B dan C itu. Atau pernah saya ingin bapak saya tu tau kalau saya sebagai anaknya sedih karena marahan-marahan dia, yang saya bayangkan (dan ini betul saya bayangkan waktu saya masih kecil, masih sekolah). Saya bayangkan bapak saya ada diruangan, di paksa duduk di kursi oleh sebuah makhluk, didepannya ada tv tabung banyak, dan diputar kejadian-kejadian di mana...
------ you know what? aku baru saja ngomong sendiri (dan saya peragakan), saya lagi ngomong sama psikiater soal saya ingin sembuh. Bukan tentang ngomong sendiri ini sih, tapi ttg hal lain ------
ya, bahkan ketika sedang menumpahkan apa yang sedang saya pikirkan, saya bisa terdistraksi memikirkan, membayangkan, ngomong sendiri, berimaginasi dengan pikiran yang lain.
Lanjut ya..
dan diputar kejadian-kejadian di mana bapak saya lagi marahin saya atau berbuat yang menyakiti saya, dia lihat perasaan yang saya rasakan setelah itu dan dia jadi mengerti bahwa tindakannya itu bikin saya sedih.
Lanjut ya..
dan diputar kejadian-kejadian di mana bapak saya lagi marahin saya atau berbuat yang menyakiti saya, dia lihat perasaan yang saya rasakan setelah itu dan dia jadi mengerti bahwa tindakannya itu bikin saya sedih.
Tuesday, May 12, 2026
Allah di mana
Sebetulnya saya mau percaya Allah itu maha Kaya, Maha pengasih, Maha adil, Maha mengabulkan doa. Katanya Allah penuh kasih sayang.
Kenapa aku dibiarkan menderita segini lamanya? Salah aku apa?
Sunday, May 10, 2026
Suffering Alone
Ya mungkin emang sengga penting itu sih aku. Ditanyain, ditanggepin, kalo lagi butuh dana aja.
Kepala selalu penuh mikirin orang lain, tapi kok hidup berasa sendiri.
Monday, April 6, 2026
Wednesday, February 11, 2026
Aku merasa tugasku cuma supply uang
Dari kuliah aku terbiasa ngepos2in uang, direncanakan. Terutama sejak mulai kerja asisten lab gaji dua juta pas lulus s1. Prioritas pertama: hutang (kalau ada), kedua: kebutuhan wajib (misal kosan), tiga: kirim rumah meskipun 200-300 rb. Dulu aku mikir, kalau nunggu kaya buat ngasih uang ke ortu, khawatir pas udah ada ternyata ortu udah banyak pantangan gabisa makan ini itu, uangnya ga gt guna. Jadi kirim aja dulu meskipun kecil.
Waktu gaji mulai lebih (dari di korea), aku mulai kirim lebih, 1.5-1.8jt (diluar kebutuhan khusus kayak bayar sekolah adik, renov rumah, puasa/hari raya yg ku kirim lebih). Dulu, mereka suka bertengkar masalah uang, terutama ibuku yg suka komplain kalo bapak lagi ada uang lebih, jarang di bagi lebih ke ibuku. Jadi aku bagi dua, rekening bapak, rekening ibuk. Sampai aku tahu, bapak aku sakit, masih kenceng ngerokok, aku sedih di sana. Aku pernah cuma kirim semuanya ke rekening ibuk, biar buat makan aja.
Aku selalu semangat kirim uang ke rumah, mikirnya: biar pada seneng, biar makan ga sulit. Aku tanggalin dan hampir ga pernah telat. Bisa ditanya ke adik aku yg paling kecil, waktu dia 2 thn kuliah, aku kirim uang tiap bulan, tiap tgl 9 atau 10, berapa kali aku lupa? Mungkin 1 kali.
Aku kirim, kirim aja, ga pernah cerewet uangnya buat ini itu. Ga pernah nanya uangnya buat apa aja. Ngasih ya ngasih. Tapi kayaknya aku salah. Harapan aku uangnya di pakai apa, belum tentu mereka pakai sesuai harapan aku. Ga semua orang bisa ngatur uang. Atau belum bisa. Ada masanya uang yg cuma sejuta dua juta sebulan itu jadi konflik di rumah. Ngga kebayang kalau Allah kasih lebih.
Setelah bapak ngga ada, aku kirim cuma ke rekening ibuku. Tiap kirim, aku konfirmasi lewat adikku supaya di bilang ke ibuku (takut gagal kirim juga kan). Sampai aku tahu, ada masa ternyata ga disampain. Kalau ditanya niatnya mungkin baik: mereka merasa ibuku ga pakai uang secara maksimal untuk kebutuhan rumah, jadi dibelanjain sendiri. Terlepas dari benar salah, aku kecewa. Idealnya kalau memang ada komplain, bilanglah ke aku, cari jalannya, bukan merasa benar sendiri dan bertindak sendiri.
Aku juga pernah merasa kecewa soal HP, aku beliin ibuku HP biar bisa nelpon anak2nya, dan bisa punya hiburan sendiri, ngga ketinggalan teknologi terlalu jauh di banding anak2nya. Tapi pas hp nya gabisa dipakai (rusak kalau ga salah), bukannya di bantuin biar ibuku bisa pakai lagi, malah di pakai anaknya. Mending kalau pakainya karena ga ada hp, tapi itu jadi hp ke dua yg dipakai. Baru setelah aku komplain, HP itu di balikin.
Udah hampir 10 tahun aku bantu keluarga aku di rumah, mungkin ga 100% tiap bulan aku kirim uang, ada masa aku merasa di rumah lagi banyak uang, jadi ga perlu. Bahkan ketika aku ga kerja sekian tahun, aku masih kirim, pakai uang tabungan, karena kalau aku ga kasih, gimana ibuku makan? Siapa yang ngasih? cukup ga? anaknya memang banyak, tapi ga semua punya kemampuan (atau kemauan). Ada 300an uang asuransi, makan apa 300-400 ribu sebulan? belum uang sosial, belum kalau barang rumah ada yg rusak, kebutuhan pakaian dalam gt2 ada ga yg kepikiran ngebeliin ibuk?
Udah hampir 10 tahun aku bantu keluarga aku di rumah, mungkin ga 100% tiap bulan aku kirim uang, ada masa aku merasa di rumah lagi banyak uang, jadi ga perlu. Bahkan ketika aku ga kerja sekian tahun, aku masih kirim, pakai uang tabungan, karena kalau aku ga kasih, gimana ibuku makan? Siapa yang ngasih? cukup ga? anaknya memang banyak, tapi ga semua punya kemampuan (atau kemauan). Ada 300an uang asuransi, makan apa 300-400 ribu sebulan? belum uang sosial, belum kalau barang rumah ada yg rusak, kebutuhan pakaian dalam gt2 ada ga yg kepikiran ngebeliin ibuk?
Aku yg dulu semangat bayarin hutang bapak aku, nyari2 hutangnya buat di bayar biar tenang, ga ada dosa hutang yg dibawa. Entah udah berapa sering aku dapat pesan wa isinya minta dikirim uang. Uang transport, laptop, nambahin beli motor, renov rumah, uang semesteran, bayar ijazah yg ditahan. Tiap ada minta uang dan make sense, ga pernah sekalipun aku bilang engga, selalu iya. Aku seneng bisa bantu, aku seneng ada masalah di keluarga yg bisa aku bantu selesaiin. Ketika aku ngepos2in uang yg aku dapet, selalu ada keluarga aku di list. Ketika uang yg ada mepetpun, aku mikir keras gimana biar kebutuhan dasar terpenuhi, mana yg harus distop, dikurangin, atau tetap harus ada. Dan aku coba buat ngrencanain itu panjang ke depan, kayak aku hitung uang aku ga cukup buat adik aku kuliah juga aku wanti-wanti satu semester sebelumnya.
Tapi ketika ada uang masuk ke keluarga aku, apa aku diajak ngomong? ketika mau pakai uang aku utuk tujuan yg bukan default, apa aku diajak ngomong?
Seingetku aku jg ga pernah cek atm ibuku, apalagi ngambilin uang, pernahnya cuma ngisi aja, bertahun-tahun. Ada sekali aku kirim nomor rekening ke keluarga aku. Dapat uang 10 juta, warisan yg dibagi rata. Itu masih ada di rekening dan balik lagi ke keluarga aku, buat bayar masuk kuliah adik aku.
Ketika aku kesulitan uang, apa aku bisa minta tolong? Atau ada ga yg bisa gantiin ngasih uang makan ke ibuk?
Sunday, February 1, 2026
Gray hair
Its a reminder that your time to meet your Lord is getting nearer (as it always). You will get asked or even yourself will ask what did you do with your time, your health, your youth.
Its also a reminder for a woman who aim to build her own family to not welcome a boy coming with an offer: "lets see where it goes". Or "before a serious gentlemen come to take you, let me use your time, I am lonely here"
Saturday, January 31, 2026
Ngga kuat
Allah, ngga kuat, pengen udahan. Tapi kalo selesai apa iya aku masuk surga, kalau masuk neraka, aku bakal tambah tersiksa. Allah, udah, hamba capek.
Subscribe to:
Posts (Atom)


