"When your head gets noisy, write it down" turn out it looks like a complaining and crazy blog now. It was blog full of critical thinking, social cause awareness, motivation and other positive energy. But at a point, it flipped 180 degree, there some posts tried to back to those "positive energy only", but not yet succeeded. Keep fall and fall. Anyway, dont you think write down your crazy thoughts here is better than to mainstream social media?

Wednesday, February 11, 2026

Aku merasa tugasku cuma supply uang

Dari kuliah aku terbiasa ngepos2in uang, direncanakan. Terutama sejak mulai kerja asisten lab gaji dua juta pas lulus s1. Prioritas pertama: hutang (kalau ada), kedua: kebutuhan wajib (misal kosan), tiga: kirim rumah meskipun 200-300 rb. Dulu aku mikir, kalau nunggu kaya buat ngasih uang ke ortu, khawatir pas udah ada ternyata ortu udah banyak pantangan gabisa makan ini itu, uangnya ga gt guna. Jadi kirim aja dulu meskipun kecil.

Waktu gaji mulai lebih (dari di korea), aku mulai kirim lebih, 1.5-1.8jt (diluar kebutuhan khusus kayak bayar sekolah adik, renov rumah, puasa/hari raya yg ku kirim lebih). Dulu, mereka suka bertengkar masalah uang, terutama ibuku yg suka komplain kalo bapak lagi ada uang lebih, jarang di bagi lebih ke ibuku. Jadi aku bagi dua, rekening bapak, rekening ibuk. Sampai aku tahu, bapak aku sakit, masih kenceng ngerokok, aku sedih di sana. Aku pernah cuma kirim semuanya ke rekening ibuk, biar buat makan aja.

Aku selalu semangat kirim uang ke rumah, mikirnya: biar pada seneng, biar makan ga sulit. Aku tanggalin dan hampir ga pernah telat. Bisa ditanya ke adik aku yg paling kecil, waktu dia 2 thn kuliah, aku kirim uang tiap bulan, tiap tgl 9 atau 10, berapa kali aku lupa? Mungkin 1 kali.

Aku kirim, kirim aja, ga pernah cerewet uangnya buat ini itu. Ga pernah nanya uangnya buat apa aja. Ngasih ya ngasih. Tapi kayaknya aku salah. Harapan aku uangnya di pakai apa, belum tentu mereka pakai sesuai harapan aku. Ga semua orang bisa ngatur uang. Atau belum bisa. Ada masanya uang yg cuma sejuta dua juta sebulan itu jadi konflik di rumah. Ngga kebayang kalau Allah kasih lebih.

Setelah bapak ngga ada, aku kirim cuma ke rekening ibuku. Tiap kirim, aku konfirmasi lewat adikku supaya di bilang ke ibuku (takut gagal kirim juga kan). Sampai aku tahu, ada masa ternyata ga disampain. Kalau ditanya niatnya mungkin baik: mereka merasa ibuku ga pakai uang secara maksimal untuk kebutuhan rumah, jadi dibelanjain sendiri. Terlepas dari benar salah, aku kecewa. Idealnya kalau memang ada komplain, bilanglah ke aku, cari jalannya, bukan merasa benar sendiri dan bertindak sendiri.

Aku juga pernah merasa kecewa soal HP, aku beliin ibuku HP biar bisa nelpon anak2nya, dan bisa punya hiburan sendiri, ngga ketinggalan teknologi terlalu jauh di banding anak2nya. Tapi pas hp nya gabisa dipakai (rusak kalau ga salah), bukannya di bantuin biar ibuku bisa pakai lagi, malah di pakai anaknya. Mending kalau pakainya karena ga ada hp, tapi itu jadi hp ke dua yg dipakai. Baru setelah aku komplain, HP itu di balikin.

Udah hampir 10 tahun aku bantu keluarga aku di rumah, mungkin ga 100% tiap bulan aku kirim uang, ada masa aku merasa di rumah lagi banyak uang, jadi ga perlu. Bahkan ketika aku ga kerja sekian tahun, aku masih kirim, pakai uang tabungan, karena kalau aku ga kasih, gimana ibuku makan? Siapa yang ngasih? cukup ga? anaknya memang banyak, tapi ga semua punya kemampuan (atau kemauan). Ada 300an uang asuransi, makan apa 300-400 ribu sebulan? belum uang sosial, belum kalau barang rumah ada yg rusak, kebutuhan pakaian dalam gt2 ada ga yg kepikiran ngebeliin ibuk?

Aku yg dulu semangat bayarin hutang bapak aku, nyari2 hutangnya buat di bayar biar tenang, ga ada dosa hutang yg dibawa. Entah udah berapa sering aku dapat pesan wa isinya minta dikirim uang. Uang transport, laptop, nambahin beli motor, renov rumah, uang semesteran, bayar ijazah yg ditahan. Tiap ada minta uang dan make sense, ga pernah sekalipun aku bilang engga, selalu iya. Aku seneng bisa bantu, aku seneng ada masalah di keluarga yg bisa aku bantu selesaiin. Ketika aku ngepos2in uang yg aku dapet, selalu ada keluarga aku di list. Ketika uang yg ada mepetpun, aku mikir keras gimana biar kebutuhan dasar terpenuhi, mana yg harus distop, dikurangin, atau tetap harus ada. Dan aku coba buat ngrencanain itu panjang ke depan, kayak aku hitung uang aku ga cukup buat adik aku kuliah juga aku wanti-wanti satu semester sebelumnya.

Tapi ketika ada uang masuk ke keluarga aku, apa aku diajak ngomong? ketika mau pakai uang aku utuk tujuan yg bukan default, apa aku diajak ngomong?

Seingetku aku jg ga pernah cek atm ibuku, apalagi ngambilin uang, pernahnya cuma ngisi aja, bertahun-tahun. Ada sekali aku kirim nomor rekening ke keluarga aku. Dapat uang 10 juta, warisan yg dibagi rata. Itu masih ada di rekening dan balik lagi ke keluarga aku, buat bayar masuk kuliah adik aku.

Ketika aku kesulitan uang, apa aku bisa minta tolong? Atau ada ga yg bisa gantiin ngasih uang makan ke ibuk?

No comments:

Post a Comment