Saya tidak tahu, apakah saya dilahirkan memang sebagai seorang observer atau lingkungan saya yang membentuk saya seperti itu. Saking pengamatnya, banyak hal kecil yang saya lihat. Terkadang saya tidak terima dengan sifat saya itu.
Kenapa saya harus lihat dan tahu hal-hal kecil gini sih, kenapa nggak kayak yang lain, yang diurus adalah hal-hal yang besar, punya kontribusi untuk lingkungan diluar; Iih kenapa harus sadar hal-hal kayak gitu sih, kan jadi pikiran. Satu contoh kecil adalah tentang kebersihan/kerapian kamar. Banyak aktivis yang dikamarnya, bajunya nglempuruk, bukunya numpuk tak beraturan, sampah dimeja/kasur dan barang-barang lain yang tidak pada tempatnya. Dalam benak saya, apa sih arti ketidakrapian kamar mereka dibanding dengan produktivitas mereka diluar? Kamar mereka memang tidak rapi, tapi kontribusi mereka banyak, di organisasi, di masyarakat, mereka pekerja keras untuk hal akademik, hafalan surat mereka banyak, area dakwah dimana-mana. Ya udah sih, nggak rapi juga.
Namun belakangan, saya berpikir kembali, mereka, orang-orang yang memang adalah aktivis, entah aktivis kampus, aktivis sosial, aktivis dakwah, atau apapun. Apakah mereka tidak sempat merapikan kamar mereka memang murni karena kesibukan mereka? Atau karena rapi memang bukan kebiasaan mereka? Untuk kebanyakan orang (tidak hanya aktivis), menurut saya pribadi, alasan kedua memiliki andil besar.
Masih banyak hal yang menjadi pengamatan saya, bisa dikatakan sebagian besarnya, tidak sengaja teramati, artinya melihat dan terpikirkan, tidak menyengaja mencari-cari. Masalah kerapian diatas hanyalah contoh dari hal-hal kecil yang harusnya tiap orang sudah terampil akan hal tersebut. Hal-hal yang mendasar dalam kehidupan sehari-hari.
Perihal sampah
Baik di daerah yang telah memiliki pengolahan sampah secara massal maupun belum, memilah sampah adalah hal yang sangat penting. Krusial. Dengan terpilahnya sampah, pengolahannya akan sangat mudah. Saat masa orientasi di kampus dulu, kami peserta, diperlihatkan bagaimana sampah sangat menumpuk di TPA. Berton-ton sampah harus diolah di sana dalam sehari. Dapat dibayangkan bagaimana sampah harus diolah jika semua jenis sampah tercampur. Untuk skala kampus, ITB (tempat saya kuliah) memiliki tempat pengolahan sampah. Dan menurut hasil wawancara, masalah utama di sana adalah tidak terpilahnya sampah. Karena tidak terpilahnya sampah, waktu dan tenaga dikeluarkan lebih dan hasil olahannya tidak maksimal. Sampah yang dibuang bisa jadi belum bisa diterima lingkungan dengan baik dan sampah yang harusnya bisa dimanfaatkan terpaksa dibuang juga.
Pekerjaan di TPA atau PPS (Pusat Pengolahan Sampah) akan menjadi sangat mudah, sangat mudah, ketika kita mau membuang sampah menurut jenisnya. Di tempat saya tinggal sekarang, tempat sampah telah digolongkan menjadi sampah yang mudah membusuk dan yang sulit. Letaknya berdekatan. Namun ketik saya buka, masih terdapat sisa bahan makanan ditempat sampah yang sulit membusuk dan masih terlihat plastik ditenpat sampah yang mudah membusuk. Ketika di tempat sampah diberi tulisan peringatan untuk membuang sampah dengan benar pun, kesalahan masih terjadi. Parahnya, ketika saya melihat ada yang salah membuang sampah dan diperingatkan, jawaban mereka “yah udah kelewat” “aduh nanggung ini ngupasnya dikit lagi” “ya ela cuma dikit ini”. Jujur saya sedikit sakit hati mendengar jawaban-jawaban itu, kesalahan yang mereka sadari namun tidak ada rasa bersalah/penyesalan.
Ya, sepertinya memang karena mereka belum melihat wajah-wajah lelah para pengolah sampah, belum bisa memaknai sabar, sehingga tidak menyadari bahwa mau membuang sampah ditempat yang benar juga memerlukan kesabaran. Tidak relevan ketika diluar kita berdakwah menyampaikan keharusan manusia memiliki sifat sabar namun tidak mau melangkah barang 2 meter (saya rasa kurang dari ini) menuju tempat sampah yang tepat dengan sampah yang dimiliki. Tidak mau memilah sampah yang hendak dibuang kemudian membuangnya ditempat yang berbeda sesuai jenis sampah. Melakukan hal-hal tersebut hanya butuh berapa detik? Mau sedikit memberikan effort untuk melakukan hal benar, tidakkah termasuk kesabaran?
Di tempat saya tinggal dulu, saat tingkat satu kuliah, tidak ada penggolongan jenis sampah. Saya merasa tidak nyaman membuang segala jenis sampah dalam satu tempat. Menyesalnya saya, saat itu tidak inisiatif untuk mengusulkan pemisahan sampah.
Mungkin karena saya tipe input (seseorang mengatakan saya tipe input, intinya, menyimpan segala yang bisa disimpan), saya menyimpan segala sampah yang bisa disimpan dan dipikir-pikir bakal bisa dimanfaatkan, mungkin nanti bisa dimanfaatkan oleh para pecinta lingkungan yang suka mengolah sampah menjadi kerajinan atau bisa dijual. Semua botol bekas dan sejenisnya : botol kecap, saus, sabun, kosmetik, dll. Kardus : kardus makanan dan minuman. Segala jenis plastik : bungkus susu kering, mie instant, makanan ringan, bungkus baju atau pembungkus barang-barang yang baru dibeli. Segala kertas yang sudah tidak terpakai, ballpoint yang tintanya telah habis, plastik kresek yang diperoleh ketika membeli makanan atau dari belanja ke swalayan, dll.
Suatu hari, semuanya telah menumpuk dan menghabiskan tempat sehingga mengganggu pandangan. Akhirnya saya memutuskan untuk membuang semuanya. Membuang dalam keadaan telah terpilah dengan baik. Kertas sendiri, botol sendiri, semua terpisah menurut jenisnya. Rasanya senang sekali bisa membuang sampah dengan keadaan terpilah dengan baik. Jika sampah itu dibutuhkan petugas sampah, akan sangat mudah diambil, jika tidak pengolahan di PPS pun mudah. Terlepas dari ‘apalah arti seuprit sampah yang terpilah dibanding segunung sampah yang campur baur’.
Saya berpikir, jika ini benar-benar diterapkan dalam kehidupan, tentu akan sangat memudahkan dan menguntungkan. Yaa bayangannya seperti ketika menceritakan Jepang. Telah ada jadwal membuang sampah menurut jenisnya. Sehingga truk pengangkut bisa langsung menuju tempat pengolahan sampah khusus jenis tertentu. Sangat optimal bukan?
Oya, sedikit nimbrung, penting juga bagi perempuan untuk memisahkan sampah pembalut/pentiliner. Selain bau, sampah ini mengandung banyak bakteri. Pengolahannya pun tidak mudah, sulit disatukan dengan bahan lain, karena dia sulit membusuk namun basah.
Panjang dan lebar memang jika berbicara mengenai pemilahan sampah. Selain memilah, hal kecil yang mendasar dan baiknya dimiliki setiap orang adalah kerapian dalam membuang sampah. Benar-benar membuang seluruh sampah kedalam tempat sampah (tidak terserak). Tempat sampah sekarang banyak yang dilengkapi dengan penutup, terutama tempat sampah yang diletakkan di dalam rumah. Menutup penutup tempat sampah dengan benar merupakan keharusan. Tak layak ini dijadikan peraturan. Kebiasaan ini haruslah melekat pada setiap orang, orang-orang yang memiliki kepribadian yang cantik.
Ada dua kemungkinan ketika melihat penutup sampah tidak tertutup dengan baik. Pertama karena tidak sempurananya si pembuang sampah saat membuang sampah, sampah tidak benar-benar masuk dalam tempat sampah. Tentu ini tidak dapat dibenarkan, sama seperti memilah, membuangsampah dengan benar hanya memerlukan waktu beberapa detik. Kedua karena tempat sampahnya telah penuh. Ini juga tidak dapat dibenarkan. Jika seseorang peka, ketika melihat tempat sampah yang telah penuh, ia tidak akan membuang sampahnya ditempat tersebut atau jika tempat sampah tersebut merupakan tanggungjawabnya ya akan segera membersihkannya.
Berhubungan dengan menutup sampah dengan baik, saya masih sering mendapati orang-orang yang tidak sabar dalam membuang sampah sehingga sampah tidak terbuang dengan baik. Membuang sampah asal nyangkut. Atau ketika sampah penuh, masih dipaksakan. Padahal tempat sampah tersebut merupakan tempat sampah bersama yang mereka pun memiliki tanggungjawab untuk membersihkannya. Yang peka kemudian membuangnya ya orang-orang tertentu dan orang itu lagi orang itu lagi. Masih sering pula mendapati tempat sampah yang aturannya harus dialasi dulu dengan plastik/trashbag, ketika tempatnya sedang dibersihkan dan belum diberi plastik, dipakai oleh orang-orang yang kurang kesadarannya untuk membuang sampah. Bahkan terkadang tempat sampah yang dibalik agar tidak dipakai dulu karena belum diberi plastik, dibalik oleh orang-orang tertentu dan langsung digunakan untuk membuang sampah. Saya heran mengapa orang-orang yang usianya adalah usia dewasa masih bisa melakukan hal-hal seperti itu.


Sepertinya terlalu panjang lebar hanya membicarakan bagaimana membuang sampah dengan benar. Sebenarnya praktiknya sangat simpel, sekali lagi sangat simpel. Jika belum menjadi kebiasaan ini memang akan sulit. Namun kebiasaan tidaklah datang tiba-tiba, harus dilatih. Dan setiap orang harus bisa melakukan hal sesepele ini. Apalagi, perlu digarisbawahi jika Anda seorang INTELEK. Mahasiswa/i seperti orang-ornag dilingkungan saya misalnya.
Semoga tulisan ini bermanfaat untuk kita. Untuk tatanan masyarakat yang lebih indah. Dimulai dari hal yang kecil.
Jadilah aktivis yang giat pula memilah sampah. Jadilah pemimpin yang bisa memberi contoh kepada krunya, rapi dalam mebuang sampah. Jadilah orang yang peka dan peduli akan lingkungan.[]
Susila Hadiyati
Teknik Kimia ITB 2011
Kenapa saya harus lihat dan tahu hal-hal kecil gini sih, kenapa nggak kayak yang lain, yang diurus adalah hal-hal yang besar, punya kontribusi untuk lingkungan diluar; Iih kenapa harus sadar hal-hal kayak gitu sih, kan jadi pikiran. Satu contoh kecil adalah tentang kebersihan/kerapian kamar. Banyak aktivis yang dikamarnya, bajunya nglempuruk, bukunya numpuk tak beraturan, sampah dimeja/kasur dan barang-barang lain yang tidak pada tempatnya. Dalam benak saya, apa sih arti ketidakrapian kamar mereka dibanding dengan produktivitas mereka diluar? Kamar mereka memang tidak rapi, tapi kontribusi mereka banyak, di organisasi, di masyarakat, mereka pekerja keras untuk hal akademik, hafalan surat mereka banyak, area dakwah dimana-mana. Ya udah sih, nggak rapi juga.
Namun belakangan, saya berpikir kembali, mereka, orang-orang yang memang adalah aktivis, entah aktivis kampus, aktivis sosial, aktivis dakwah, atau apapun. Apakah mereka tidak sempat merapikan kamar mereka memang murni karena kesibukan mereka? Atau karena rapi memang bukan kebiasaan mereka? Untuk kebanyakan orang (tidak hanya aktivis), menurut saya pribadi, alasan kedua memiliki andil besar.
Masih banyak hal yang menjadi pengamatan saya, bisa dikatakan sebagian besarnya, tidak sengaja teramati, artinya melihat dan terpikirkan, tidak menyengaja mencari-cari. Masalah kerapian diatas hanyalah contoh dari hal-hal kecil yang harusnya tiap orang sudah terampil akan hal tersebut. Hal-hal yang mendasar dalam kehidupan sehari-hari.
Perihal sampah
Baik di daerah yang telah memiliki pengolahan sampah secara massal maupun belum, memilah sampah adalah hal yang sangat penting. Krusial. Dengan terpilahnya sampah, pengolahannya akan sangat mudah. Saat masa orientasi di kampus dulu, kami peserta, diperlihatkan bagaimana sampah sangat menumpuk di TPA. Berton-ton sampah harus diolah di sana dalam sehari. Dapat dibayangkan bagaimana sampah harus diolah jika semua jenis sampah tercampur. Untuk skala kampus, ITB (tempat saya kuliah) memiliki tempat pengolahan sampah. Dan menurut hasil wawancara, masalah utama di sana adalah tidak terpilahnya sampah. Karena tidak terpilahnya sampah, waktu dan tenaga dikeluarkan lebih dan hasil olahannya tidak maksimal. Sampah yang dibuang bisa jadi belum bisa diterima lingkungan dengan baik dan sampah yang harusnya bisa dimanfaatkan terpaksa dibuang juga.
Pekerjaan di TPA atau PPS (Pusat Pengolahan Sampah) akan menjadi sangat mudah, sangat mudah, ketika kita mau membuang sampah menurut jenisnya. Di tempat saya tinggal sekarang, tempat sampah telah digolongkan menjadi sampah yang mudah membusuk dan yang sulit. Letaknya berdekatan. Namun ketik saya buka, masih terdapat sisa bahan makanan ditempat sampah yang sulit membusuk dan masih terlihat plastik ditenpat sampah yang mudah membusuk. Ketika di tempat sampah diberi tulisan peringatan untuk membuang sampah dengan benar pun, kesalahan masih terjadi. Parahnya, ketika saya melihat ada yang salah membuang sampah dan diperingatkan, jawaban mereka “yah udah kelewat” “aduh nanggung ini ngupasnya dikit lagi” “ya ela cuma dikit ini”. Jujur saya sedikit sakit hati mendengar jawaban-jawaban itu, kesalahan yang mereka sadari namun tidak ada rasa bersalah/penyesalan.Ya, sepertinya memang karena mereka belum melihat wajah-wajah lelah para pengolah sampah, belum bisa memaknai sabar, sehingga tidak menyadari bahwa mau membuang sampah ditempat yang benar juga memerlukan kesabaran. Tidak relevan ketika diluar kita berdakwah menyampaikan keharusan manusia memiliki sifat sabar namun tidak mau melangkah barang 2 meter (saya rasa kurang dari ini) menuju tempat sampah yang tepat dengan sampah yang dimiliki. Tidak mau memilah sampah yang hendak dibuang kemudian membuangnya ditempat yang berbeda sesuai jenis sampah. Melakukan hal-hal tersebut hanya butuh berapa detik? Mau sedikit memberikan effort untuk melakukan hal benar, tidakkah termasuk kesabaran?
Di tempat saya tinggal dulu, saat tingkat satu kuliah, tidak ada penggolongan jenis sampah. Saya merasa tidak nyaman membuang segala jenis sampah dalam satu tempat. Menyesalnya saya, saat itu tidak inisiatif untuk mengusulkan pemisahan sampah.
Mungkin karena saya tipe input (seseorang mengatakan saya tipe input, intinya, menyimpan segala yang bisa disimpan), saya menyimpan segala sampah yang bisa disimpan dan dipikir-pikir bakal bisa dimanfaatkan, mungkin nanti bisa dimanfaatkan oleh para pecinta lingkungan yang suka mengolah sampah menjadi kerajinan atau bisa dijual. Semua botol bekas dan sejenisnya : botol kecap, saus, sabun, kosmetik, dll. Kardus : kardus makanan dan minuman. Segala jenis plastik : bungkus susu kering, mie instant, makanan ringan, bungkus baju atau pembungkus barang-barang yang baru dibeli. Segala kertas yang sudah tidak terpakai, ballpoint yang tintanya telah habis, plastik kresek yang diperoleh ketika membeli makanan atau dari belanja ke swalayan, dll.
Suatu hari, semuanya telah menumpuk dan menghabiskan tempat sehingga mengganggu pandangan. Akhirnya saya memutuskan untuk membuang semuanya. Membuang dalam keadaan telah terpilah dengan baik. Kertas sendiri, botol sendiri, semua terpisah menurut jenisnya. Rasanya senang sekali bisa membuang sampah dengan keadaan terpilah dengan baik. Jika sampah itu dibutuhkan petugas sampah, akan sangat mudah diambil, jika tidak pengolahan di PPS pun mudah. Terlepas dari ‘apalah arti seuprit sampah yang terpilah dibanding segunung sampah yang campur baur’.
Saya berpikir, jika ini benar-benar diterapkan dalam kehidupan, tentu akan sangat memudahkan dan menguntungkan. Yaa bayangannya seperti ketika menceritakan Jepang. Telah ada jadwal membuang sampah menurut jenisnya. Sehingga truk pengangkut bisa langsung menuju tempat pengolahan sampah khusus jenis tertentu. Sangat optimal bukan?
Oya, sedikit nimbrung, penting juga bagi perempuan untuk memisahkan sampah pembalut/pentiliner. Selain bau, sampah ini mengandung banyak bakteri. Pengolahannya pun tidak mudah, sulit disatukan dengan bahan lain, karena dia sulit membusuk namun basah.
Panjang dan lebar memang jika berbicara mengenai pemilahan sampah. Selain memilah, hal kecil yang mendasar dan baiknya dimiliki setiap orang adalah kerapian dalam membuang sampah. Benar-benar membuang seluruh sampah kedalam tempat sampah (tidak terserak). Tempat sampah sekarang banyak yang dilengkapi dengan penutup, terutama tempat sampah yang diletakkan di dalam rumah. Menutup penutup tempat sampah dengan benar merupakan keharusan. Tak layak ini dijadikan peraturan. Kebiasaan ini haruslah melekat pada setiap orang, orang-orang yang memiliki kepribadian yang cantik.
Ada dua kemungkinan ketika melihat penutup sampah tidak tertutup dengan baik. Pertama karena tidak sempurananya si pembuang sampah saat membuang sampah, sampah tidak benar-benar masuk dalam tempat sampah. Tentu ini tidak dapat dibenarkan, sama seperti memilah, membuangsampah dengan benar hanya memerlukan waktu beberapa detik. Kedua karena tempat sampahnya telah penuh. Ini juga tidak dapat dibenarkan. Jika seseorang peka, ketika melihat tempat sampah yang telah penuh, ia tidak akan membuang sampahnya ditempat tersebut atau jika tempat sampah tersebut merupakan tanggungjawabnya ya akan segera membersihkannya.Berhubungan dengan menutup sampah dengan baik, saya masih sering mendapati orang-orang yang tidak sabar dalam membuang sampah sehingga sampah tidak terbuang dengan baik. Membuang sampah asal nyangkut. Atau ketika sampah penuh, masih dipaksakan. Padahal tempat sampah tersebut merupakan tempat sampah bersama yang mereka pun memiliki tanggungjawab untuk membersihkannya. Yang peka kemudian membuangnya ya orang-orang tertentu dan orang itu lagi orang itu lagi. Masih sering pula mendapati tempat sampah yang aturannya harus dialasi dulu dengan plastik/trashbag, ketika tempatnya sedang dibersihkan dan belum diberi plastik, dipakai oleh orang-orang yang kurang kesadarannya untuk membuang sampah. Bahkan terkadang tempat sampah yang dibalik agar tidak dipakai dulu karena belum diberi plastik, dibalik oleh orang-orang tertentu dan langsung digunakan untuk membuang sampah. Saya heran mengapa orang-orang yang usianya adalah usia dewasa masih bisa melakukan hal-hal seperti itu.


Sepertinya terlalu panjang lebar hanya membicarakan bagaimana membuang sampah dengan benar. Sebenarnya praktiknya sangat simpel, sekali lagi sangat simpel. Jika belum menjadi kebiasaan ini memang akan sulit. Namun kebiasaan tidaklah datang tiba-tiba, harus dilatih. Dan setiap orang harus bisa melakukan hal sesepele ini. Apalagi, perlu digarisbawahi jika Anda seorang INTELEK. Mahasiswa/i seperti orang-ornag dilingkungan saya misalnya.
Semoga tulisan ini bermanfaat untuk kita. Untuk tatanan masyarakat yang lebih indah. Dimulai dari hal yang kecil.
Jadilah aktivis yang giat pula memilah sampah. Jadilah pemimpin yang bisa memberi contoh kepada krunya, rapi dalam mebuang sampah. Jadilah orang yang peka dan peduli akan lingkungan.[]
Susila Hadiyati
Teknik Kimia ITB 2011
No comments:
Post a Comment