Sepertinya memang benar, menilai nasionalisme itu unik. tidak bisa diovergeneralisasi (disamaratakan, menguhubung-hubungkan satu sifat dengan predikatnya, menjudge, mengumumkan hal yang khusus, dsb). Karena kita nggak tau apa yang ada dalam hati/pikiran setiap orang, termasuk didalamnya cara seseorang mengartikan nasionalisme itu sendiri.
Ada yang memaknai nasionalisme sebagai manifestasi kesadaran nasional yang mengandung cita-cita dan pendorong bagi suatu bangsa, baik untuk merebut kemerdekaan atau mengenyahkan penjajahan maupun sebagai pendorong untuk membangun dirinya maupun lingkungan masyarakat,bangsa dan negaranya.
Jika seseorang memaknai nasionalisme sebagai pendorong untuk merebut kemerdekaan, apakah salah yang namanya nasionalisme, nasionalisme yang kita nilai ada pada diri para pejuang perebut kemerdekaan dulu, karena nyatanya, dengan kemerdekaan itu, orang mendapatkan tempat dan waktu untuk menyembah Tuhannya, orang memiliki kesempatan untuk memakmurkan bumi Allah.
Jika nasionalisme dimaknai sebagai pendorong untuk membangun dirinya, lingkungan masyarakat, bangsa dan negaranya, Apakah itu bertentangan dengan hadist Rasul bahwa manusia yang paling baik adalah manusia yang paling bermanfaat? Apakah orang yang mengaku nasionalis ataupun cinta tanah air, dia sekonyong-kontong menerima cara memerintah para pemerintahnya? Apa mereka diam saja ketika mereka menganggap pemerintahan negaranya melakukan hal yang dzalim? saya rasa tidak! dan menanggapi jika pemerintah berbuat demikian pun setiap orang memiliki cara berbeda.
Apakah orang yang cinta tanah air dan ia wujudkan dalam bentuk kepedulian terhadap orang -orang yang ada disekitarnya adalah hal yang sia-sia? kecintaan seseorang terhadap bangsanya membuatnya mau bergerak untuk meningkatkan kesejahteraan bangsanya. Bangsanya adalah orang-orang yang paling dekat dengannya, tetangganya. Tidak adakah anjuran memakmurkan saudara yang paling dekat? dan penting juga berpikir, apakah mereka yang mengaku nasionalis/cinta tanah air juga harus mengaku bahwa dalam setiap doanya ia sematkan doa untuk seluruh ummat muslim, terutama untuk mereka yang belum menikmati yang namanya kemerdekaan. Harus jugakah mengaku bahwa disetiap kotak galangan dana untuk muslim korban kemanusiaan, ia memasukkan beberapa rupiah kedalamnya. Orang-orang yang mengaku peduli akan bangsanya, tidak lantas mereka melupakan saudara-saudara mereka yang tidak ada di Indonesia.
Jika ada yang berkeyakinan nasionalisme itu syirik, dosa besar, mungkin perlu dikaji dan dijabarkan bagaimana mereka memaknai nasionalisme. Apakah semua orang memaknai nasionalisme dengan cara yang sama? apakah benar memakmurkan saudara dekat adalah bentuk mencintai jiwa raga dan harta benda? Apakah sesadis itu menyebut kafir orang yang memiliki rasa cinta tanah air dengan mengatakan bahwa rasa cinta tanah air ini tidak ada bedanya antara orang mukmin dengan orang kafir. Mukmin memiliki niat dan pedoman sendiri.
Setiap orang memiliki cara pandang yang berbeda. Menilai nasionalisme seseorang juga berbeda, unik. Jika kita merasa orang lain salah dan berniat untuk membenarkannya-atau kita sebut sebagai dakwah-, tidak bisakah dilakukan dengan cara yang CERDAS dan ELEGAN? sebisa mungkin menghindari menyakiti hati saudara sendiri. Allahua'lam.[]
Susila Hadiyati
Terawali oleh Usroh Sabtu Pagi Salman ITB
23 Februari 2013
Ada yang memaknai nasionalisme sebagai manifestasi kesadaran nasional yang mengandung cita-cita dan pendorong bagi suatu bangsa, baik untuk merebut kemerdekaan atau mengenyahkan penjajahan maupun sebagai pendorong untuk membangun dirinya maupun lingkungan masyarakat,bangsa dan negaranya.
Jika seseorang memaknai nasionalisme sebagai pendorong untuk merebut kemerdekaan, apakah salah yang namanya nasionalisme, nasionalisme yang kita nilai ada pada diri para pejuang perebut kemerdekaan dulu, karena nyatanya, dengan kemerdekaan itu, orang mendapatkan tempat dan waktu untuk menyembah Tuhannya, orang memiliki kesempatan untuk memakmurkan bumi Allah.
Jika nasionalisme dimaknai sebagai pendorong untuk membangun dirinya, lingkungan masyarakat, bangsa dan negaranya, Apakah itu bertentangan dengan hadist Rasul bahwa manusia yang paling baik adalah manusia yang paling bermanfaat? Apakah orang yang mengaku nasionalis ataupun cinta tanah air, dia sekonyong-kontong menerima cara memerintah para pemerintahnya? Apa mereka diam saja ketika mereka menganggap pemerintahan negaranya melakukan hal yang dzalim? saya rasa tidak! dan menanggapi jika pemerintah berbuat demikian pun setiap orang memiliki cara berbeda.
Apakah orang yang cinta tanah air dan ia wujudkan dalam bentuk kepedulian terhadap orang -orang yang ada disekitarnya adalah hal yang sia-sia? kecintaan seseorang terhadap bangsanya membuatnya mau bergerak untuk meningkatkan kesejahteraan bangsanya. Bangsanya adalah orang-orang yang paling dekat dengannya, tetangganya. Tidak adakah anjuran memakmurkan saudara yang paling dekat? dan penting juga berpikir, apakah mereka yang mengaku nasionalis/cinta tanah air juga harus mengaku bahwa dalam setiap doanya ia sematkan doa untuk seluruh ummat muslim, terutama untuk mereka yang belum menikmati yang namanya kemerdekaan. Harus jugakah mengaku bahwa disetiap kotak galangan dana untuk muslim korban kemanusiaan, ia memasukkan beberapa rupiah kedalamnya. Orang-orang yang mengaku peduli akan bangsanya, tidak lantas mereka melupakan saudara-saudara mereka yang tidak ada di Indonesia.
Jika ada yang berkeyakinan nasionalisme itu syirik, dosa besar, mungkin perlu dikaji dan dijabarkan bagaimana mereka memaknai nasionalisme. Apakah semua orang memaknai nasionalisme dengan cara yang sama? apakah benar memakmurkan saudara dekat adalah bentuk mencintai jiwa raga dan harta benda? Apakah sesadis itu menyebut kafir orang yang memiliki rasa cinta tanah air dengan mengatakan bahwa rasa cinta tanah air ini tidak ada bedanya antara orang mukmin dengan orang kafir. Mukmin memiliki niat dan pedoman sendiri.
Setiap orang memiliki cara pandang yang berbeda. Menilai nasionalisme seseorang juga berbeda, unik. Jika kita merasa orang lain salah dan berniat untuk membenarkannya-atau kita sebut sebagai dakwah-, tidak bisakah dilakukan dengan cara yang CERDAS dan ELEGAN? sebisa mungkin menghindari menyakiti hati saudara sendiri. Allahua'lam.[]
Susila Hadiyati
Terawali oleh Usroh Sabtu Pagi Salman ITB
23 Februari 2013

No comments:
Post a Comment