Di rumah saya, di Magelang, ketika hujan tiba, semua anggota keluarga yang berada dalam rumah bergegas untuk melihat apakah ada jemuran -baik itu baju, makanan atau apapun- yang masih berada di luar. Begitu pula adik-adik saya yang masih kecil. selain jemuran, kami juga melihat tempat-tempat dalam rumah yang biasanya bocor, apakah sudah ada penampung air atau belum, apakah benda-benda (misalnya kasur) dibawah yang bocor sudah disingkirkan atau belum.
Kebiasaan itu berawal dari orang tua kami yang selalu meminta kami mengangkat jemuran atau sekedar melihat apakah masih ada jemuran yang berada di luar ketika hujan tiba. Tetangga kami pun seperti itu, selalu mengingatkan si empunya jemuran jika hujan tiba dan masih ada jemuran tetangganya yang masih di luar, bahkan mengambilkannya jika yang punya jemuran tak kunjung keluar. Kebiasaan memastikan tempat dalam rumah yang bocor telah ada penampungnya pun begitu, berawal dari ajakan orang tua kami untuk melakukan hal tersebut.
Tapi dua kebiasaan tadi tak aku temukan di sini, di tempat tinggalku sekarang.
Tidak semua orang memiliki kebiasaan seperti itu meskipun juga tidak semua orang tak memiliki kebiasaan seperti itu. Ada dua ruangan di tempat ini yang bocor. Tapi tak selalu ada yang menempatkan penampung di sana ketika hujan. Bahkan suatu hari, ada tiga teman saya yang berada dalam ruangan tersebut dan tak lebih dari dua meter jaraknya tak menyadari air menetes cukup kencang. Saking derasnya hujan dan bocor waktu itu, sampai ada suara air menetes. Saya heran atap yang bocor tersebut telah lama kita ketahui tapi tak semua orang sadar, bahkan ketika ada suara tetesan yang tak lirih pun masih banyak yang tak peka.
Tidak semua orang memiliki kebiasaan seperti itu meskipun juga tidak semua orang tak memiliki kebiasaan seperti itu. Ada dua ruangan di tempat ini yang bocor. Tapi tak selalu ada yang menempatkan penampung di sana ketika hujan. Bahkan suatu hari, ada tiga teman saya yang berada dalam ruangan tersebut dan tak lebih dari dua meter jaraknya tak menyadari air menetes cukup kencang. Saking derasnya hujan dan bocor waktu itu, sampai ada suara air menetes. Saya heran atap yang bocor tersebut telah lama kita ketahui tapi tak semua orang sadar, bahkan ketika ada suara tetesan yang tak lirih pun masih banyak yang tak peka.
Seperti kebiasaan saya di rumah, ketika hujan, saya sering langsung terpikir akan jemuran baju di tempat tinggal saya. Jika ada yang kemungkinan akan basah, meskipun itu bukan punya saya, pasti saya singkirkan, dari hanya menjauhkannya dari hujan, mengangkat jemuran dan memberikan pada yang punya hingga mengangkat tempat jemuran kedalam. Sekali lagi tak semua orang punya kebiasaan ini. Seperti yang sering saya alami, jemuran saya basah karena hujan padahal ada beberapa bahkan banyak teman yang ada didalam .
Saya senang dan lega ketika pakaian saya disingkirkan dari hujan. Itupun yang saya pikirkan pada teman-teman saya. Mereka akan senang jika pakaian mereka tetap kering. Pakaian yang mereka cuci disela kesibukan mereka, pakaian yang mereka butuhkan untuk aktivitas mereka sehari-hari. Mungkin pernyataan mereka senang itu hanya anggapan saya, yang jelas saya terbebas dari beban moral ketika saya bisa melakukan apa yang menurut saya harus saya lakukan.
Saya senang dan lega ketika pakaian saya disingkirkan dari hujan. Itupun yang saya pikirkan pada teman-teman saya. Mereka akan senang jika pakaian mereka tetap kering. Pakaian yang mereka cuci disela kesibukan mereka, pakaian yang mereka butuhkan untuk aktivitas mereka sehari-hari. Mungkin pernyataan mereka senang itu hanya anggapan saya, yang jelas saya terbebas dari beban moral ketika saya bisa melakukan apa yang menurut saya harus saya lakukan.
Berbicara mengenai jemuran, hal menjengkelkan yang sering saya dan teman-teman saya alami adalah jemuran pakaian yang hampir kering bahkan sudah kering menjadi basah lagi karena ditimpa jemuran lain yang basah. Saya pikir kebiasaan memastikan jemuran kita yang basah tidak membasahi jemuran orang lain adalah hal yang dimiliki setiap orang. Ternyata tidak. Tidak semua orang. Bahkan ketika hal ini sudah disampaikan ke penghuni lain lewat rapat pun masih ada yang menempatkan jemuran basahnya di palang tepat diatas jemuran orang lain yang sudah kering. Bahkan lagi ada yang menaruh handuk basahnya diatas jemuran orang lain.
Kawan, kita sepakat ini adalah hal yang kecil. Hal kecil yang tak pantas dibicarakan atau hal kecil yang tak pantas dilalaikan, entahlah. Tapi alangkah cantiknya kamu, alangkah kerennya kamu jika kamu, orang yang mungkin adalah orang yang memiliki banyak prestasi, yang memiliki nama besar, yang memiliki jabatan/kedudukan, yang memiliki banyak adik binaan, yang memiliki banyak buku bacaan tentang kehidupan, yang berpendidikan tinggi, peduli akan hal sekecil ini.[]

No comments:
Post a Comment