Sampah merupakan satu
masalah yang sampai saat ini dirasa masih belum terselesaikan dengan baik. Sampah masih cukup besar andilnya dalam
perusakan lingkungan karena pengolahannya belum maksimal. Kita masih melihat sampah
yang menghambat aliran air sehingga sering terjadi banjir, yang betebaran di
tempat yang tidak seharusnya, yang tidak termanfaatkan dengan baik seperti
untuk kompos, batako, maupun pemanfaatan lain, serta belum terkelolanya sampah
yang berbahaya menjadi layak untuk dibuang ke lingkungan.


Adapun
dari pengolahan sampah yang tidak dapat membusuk diperoleh hasil pembakaran
berupa abu. Abu yang dihasilkan dari
pengolahan sampah selama dua belas jam adalah sebanyak 0,2 m3. Abu
tersebut digunakan sebagai bahan dasar pembuatan batako dengan ditambahkan
semen. Untuk 1 m3 abu ditambakan 1 sak semen dan ditambah air sesuai
takaran. Campuran bahan-bahan tadi dipress
dengan alat press. Kualitas batako
dapat disesuaikan sengan kebutuhan dengan mengubah kekuatan press/tekanan. Semakin kuat tekanan atau
semakin padat batako, semakin bagus kualitasnya.
Kasus sampah
yang cukup menjadi sejarah adalah peristiwa ‘Bandung Lautan Sampah’. Yaitu
peristiwa menumpuknya sampah diberbagai titik di Bandung karena satu-satunya
TPA di Kota Bandung longsor. Peristiwa ini terjadi pada tahun 2005. Konsekuensi dari longsornya TPA tersebut,
sampah tidak bisa dibuang untuk sementara waktu. Melihat kondisi
ini, ITB (Institut Teknologi Bandung) berinisiatif untuk mengambil peran dalam
mengatasi masalah sampah ini, terutama untuk kawasan di dalam ITB. Akhirnya,
ITB membangun Pusat Pengolahan Sampah (PPS) dengan merancang sebuah alat
pengolahan sampah yang disebut insinerator.
Tahun lalu, saya
beserta dua teman saya, Arkanty Septyvergy dan Firda Fitria berkesempatan
melihat langsung kinerja PPS ini, kegiatan observasi ini kami lakukan dalam
rangka menyelesaikan tugas salah satu mata kuliah yaitu menyusun karya ilmiah dan tulisan ini banyak mengutip dari hasil susunan makalah kami.
Sebenarnya
PPS ITB telah didirikan sejak tahun 2000.
Namun, PPS hanya mengolah sampah yang dapat membusuk untuk dijadikan
kompos. Dengan penambahan insinerator
pada tahun 2005, PPS tersebut juga dapat mengolah sampah yang tidak dapat membusuk. Insinerator ITB ini memiliki kapasitas
kerja 100 kg sampah yang tidak dapat mebusuk tiap jamnya sehingga dapat
membakar sampah sekitar 1,2 ton setiap hari.
Proses Pengangkutan Sampah
Sampah
diangkut dari ITB dengan sejumlah kendaraan khusus pengangkut sampah. Sampah diangkut dua kali sehari, yaitu pada pukul 09.00-10.00 dan pukul 14.00-15.00.
Rata-rata jumlah sampah yang masuk ke PPS ITB sebanyak 20-25 m3 per
hari yang setara dengan enam ton sampah.
Sampah
berasal dari fasilitas-fasilitas ITB, yaitu kampus ITB, gedung rektorat, Sabuga,
sarana olahraga, masyarakat sekitar, dan sebagian asrama ITB.
Setelah
sampai di PPS ITB, sampah dipisahkan menjadi sampah yang dapat membusuk dan
tidak dapat membusuk. Sampah yang dapat
membusuk diolah menjadi kompos, sedangkan sampah yang tidak dapat membusuk
diolah dengan insinerator.
Pengolahan
Sampah yang Dapat Membusuk
Sampah
yang dapat membusuk biasanya berasal dari sampah taman dan limbah kantin. Sampah yang masuk dicacah hingga halus dengan
mesin pencacah. Setelah itu, cacahan
ditumpuk di suatu tempat lalu diberi air dan mikroba dengan takaran
tertentu. Fermentasi sampah dilakukan
dengan sistem aerob sehingga dalam prosesnya, oksigen selalu dibutuhkan. Untuk memenuhi kebutuhan oksigen pada setiap
bagian bahan, dilakukan pembalikan secara berkala. Saat pembalikan, dilakukan pula pergeseran
tempat untuk menyediakan lahan bagi bahan kompos yang baru masuk.
Fermentasi
memakan waktu selama satu bulan. Setelah
satu bulan, kompos diayak dengan mesin
pengayak untuk memisahkan bagian yang halus dan bagian yang kasar. Bagian yang kasar akan dihaluskan kembali
dengan mesin pencacah dan mengulangi proses fermentasi dari awal. Bagian yang telah halus dikemas dalam kemasan
plastik.
Pengolahan
Sampah yang Tidak Dapat Membusuk
Setelah
pemilahan, sampah yang tidak dapat membusuk dibakar di insinerator. Sampah dimasukkan ke ruang bakar utama dan
dibakar dengan suhu antara 800o-1000oC agar terjadi
pembakaran sempurna dan bakteri serta racun dalam sampah musnah. Sebagai pemantik api, digunakan solar
kira-kira setengah liter setiap harinya dan api akan bertahan sampai api
dimatikan. Hasil pembakaran di ruang bakar utama berupa abu.
Setelah itu, sampah dilewatkan ke ruang bakar
sekunder agar asap yang dihasilkan tidak hitam legam. Pada ruang bakar kedua
asap hitam legam itu disempurnakan sehingga tidak terlalu hitam. Setelah keluar
dari ruang bakar kedua, asap akan menjadi sangat panas. Asap panas itu
dilewatkan ke boiler untuk mendinginkan
asap sehingga selang penghubung ke tahap berikutnya tidak cepat rapuh sebab
asap itu berkadar asam tinggi dan dapat membuat cerobong cepat berkorosi. Proses
dalam boiler memiliki hasil samping
uap air murni. Setelah didinginkan di boiler,
maka asap akan bergerak ke cyclone
dengan bantuan blower yang terdapat
di cyclone.
Dalam asap yang terbawa
ke cyclone pasti masih terdapat abu
padatan. Abu padatan yang ada di asap itu di jebak di cyclone dengan sistem rotasi oleh angin sehingga abu padatan akan
jatuh ke lubang bawah yang ada di cyclone.
Akan tetapi dari asap yang dikeluarkan oleh cyclone
masih terdapat abu padatan yang lolos. Asap yang mengandung sedikit abu padatan
itu masuk ke wet scrubber.
Di dalam wet scrubber, asap akan disiram oleh air.
Abu yang sudah bercampur dengan air akan dialirkan ke suatu bak. Pada akhirnya
asap yang dihasilkan akan terbebas dari abu sehingga tidak mencemari
lingkungan. Air yang telah tertampung di dalam bak akan dikembalikan ke wet scrubber untuk menyiram asap yang
mengandung abu. Begitu seterusnya hingga air dianggap tidak layak untuk
digunakan lagi. Jika air sudah tidak layak lagi, maka air akan diganti dengan
air yang bersih agar fungsi pengikatan abu pada wet scrubber berjalan dengan baik.
Pemanfaatan
Materi Sisa Pengolahan Sampah
Materi
hasil pengolahan sampah dari PPS ITB dapat dimanfaatkan. Kompos hasil pengolahan sampah yang dapat
membusuk dijadikan bahan untuk menggemburkan tanah di fasilitas-fasilitas ITB. Jika masih ada sisa, kompos tersebut akan
didistribusikan ke kios-kios bunga di Bandung.
Uang hasil penjualan kompos tersebut masuk ke rekening milik ITB.
Uap
air yang berasal dari boiler
dimanfaatkan untuk sterilisasi media tanaman jamur. Panas yang dibawa uap air
dapat membunuh organisme patogen maupun bibit organisme yang dapat mengganggu
pertumbuhan jamur saat ditanam.
Permasalahan dalam
Pengolahan Sampah di ITB
Sistem pada insinerator yang telah
dirancang sedemikian rupa agar pembakaran sampah berlangsung efisien dan efektif ternyata memiliki banyak kendala dalam pelaksanaannya. Kendala ini
menjadikan proses pengolahan dengan insinerator tidak optimal. Ketidakoptimalan
proses ini dapat dilihat dari gas buang yang masih berwarna (gas buang yang
layak tidak memiliki warna atau transparan).
Gas buang dari insinerator bisa berwarna
putih atau hitam. Gas buang atau asap putih menandakan tidak sempurnanya
pembakaran pada ruang bakar utama. Hal ini disebabkan karena masih adanya
sampah berkadar air tinggi yang masuk ke ruang pembakaran sehingga proses untuk
mencapai temperatur ideal (minimal 800oC) menjadi lebih lama. Dampak
dari lamanya pencapaian temperatur ideal adalah pembakaran sampah hingga
terbakar sempurna lebih lama. Selanjutnya,
kapasitas bakar yang semula 100 kg per jam juga akan mengecil.
Sampah yang berkadar air tinggi
seharusnya tidak diolah dengan insinerator tetapi diolah dengan
pengomposan. Oleh karena itu, pemilahan
sampah merupakan hal yang krusial dalam hal ini.
Sebenarnya, sarana dan prasarana telah
dibangun sedemikian rupa oleh ITB untuk
memfasilitasi proses pemilahan sampah tersebut.
Mulai dari sepasang tempat sampah berwarna hitam dan putih untuk
membedakan tempat sampah membusuk dan tidak membusuk, bak kendaraan pengangkut
sampah yang tersekat, hingga tempat pengolahan sampah yang juga terpisah telah
dibuat untuk memaksimalkan proses pengolahan sampah. Hanya saja dalam praktiknya pemilahan sampah
belum berjalan dengan baik.
Hal
ini terlihat dari kondisi tempat-tempat sampah di ITB. Meskipun, tempat sampah untuk sampah membusuk
dan tidak membusuk telah dibedakan, namun pada kenyataannya sampah-sampah
tersebut masih tercampur. Tempat sampah warna
hitam maupun putih tidak berbeda isinya, ada sampah yang dapat membusuk dan
sampah yang tidak dapat membusuk. Saat pengambilan oleh kendaraan pengangkut
pun sampah tetap tercampur karena apabila sampah dipilah akan menghabiskan
banyak waktu dan tenaga. Sampah tercampur sampai tempat pengolahan sampah ITB.
Jika sebelum diolah menjadi kompos atau dibakar dengan insinerator sampah
dipilah kembali akan menghabiskan banyak waktu dan tenaga.
Pemilihan sampah sebenarnya bisa
dilakukan namun proses ini dinilai mahal karena membutuhkan tenaga dan atau
waktu yang akhirnya diperlukan biaya untuk upah pegawai baru dan atau pegawai
untuk jam lembur. Ini terjadi karena
kebanyakan sampah tercampur dengan komposisi yang hampir sama. Pada akhirnya
pembakaran di insinerator yang seharusnya digunakan hanya untuk sampah kering
tercampur dengan sampah yang dapat membusuk (sampah berkadar air tinggi). Jika
komposisi tercampurnya sampah hanya sedikit pemilahan sampah masih mungkin
untuk dilakukan sehingga sampah dapat dipisahkan menurut jenisnya. Hal ini
menjadikan peluang masuknya sampah berkadar air tinggi ke insinerator menjadi
lebih kecil.
Gas buang atau asap berwarna hitam
biasanya disebabkan oleh bahan-bahan yang sulit diurai seperti karet dan styrofoam. Bahan-bahan ini belum dapat
terurai pada suhu 1000oC padahal suhu maksimal yang dapat
ditoleransi oleh insineratror adalah 1000oC. Pada akhirnya
pembakaran kembali tidak sempurna dan mengemisikan gas buang/asap yang
mengandung zat berbahaya seperti dioksin. Dioksin merupakan salah satu zat yang
bersifat karsinogenik yaitu zat yang dapat memicu kanker.
Sebenarnya ITB telah menetapkan aturan
yang melarang penggunaan styrofoam di kawasan ITB, namun pada praktiknya masih
banyak yang menggunakan styrofoam dalam berbagai kegiatan di kampus terutama
untuk pembungkus makanan.
Selain pemilahan yang menjadi masalah
utama dalam pengolahan sampah di PPS ITB, masalah perawatan juga menjadi
hambatan pengoptimalan kinerja insinerator ITB. Ketika ada bagian insinerator
yang rusak, perbaikan atau penggantian belum dapat dilakukan dengan segera.
Menurut Bapak Apep, Kepala PPS ITB, tindak lanjut terhadap laporan kerusakan
masih lama. Birokrasi di ITB beliau nilai masih sulit dan berbelit-belit. Hal
ini kembali berdampak pada kerja insinerator yang kurang optimal. Salah satu
contoh kerusakan insinerator yang belum ditindaklanjuti adalah bocornya wet scrubber sehingga sirkulasi air
terganggu (tidak optimal).
Hambatan yang cukup besar dampaknya
adalah tidak sebandingnya sampah yang harus diolah dengan sampah yang masuk ke
PPS. Volume sampah yang masuk ke PPS melebihi kemampuan alat yang ada sehingga
alat dipaksa mengolah melebihi kapasitas yang dimiliki. Kapasitas insinerator
adalah 1,2 ton per hari namun kenyataanya insinerator dipaksa bekerja untuk
mengolah 1,5 sampai 1,7 ton per hari. Hal ini juga dapat mengakibatkan
kerusakan sehingga mengurangi usia pakai insinerator. Kapasitas 1,2 ton per
hari adalah ketika kerja insinerator optimal atau sampah yang masuk sudah
sesuai (sampah kering), namun pada kenyataanya kapasitasnya kurang dari 1,2 ton
karena masalah pemilahan.
Kesimpulannya, insinerator bekerja untuk 1,5 sampai
1,7 ton adalah suatu pemaksaan yang cukup besar. Dilihat dari waktu pemakaian
insinerator, kerja insinerator juga lebih dari jam kerja yang telah ditentukan.
Normalnya kerja insinerator adalah duabelas jam, namun yang terjadi selama ini
insinerator bekerja kira-kira enambelas jam bahkan jika ITB sedang mengadakan
acara besar, pengoperasian insinerator dilakukan hingga 24 jam selama
berhari-hari.
Itulah pemaparan tentang pusat pengolahan sampah di ITB, yang pada akhirnya ternyata masih memiliki kendala. Kendala ini menyebabkan ketidakoptimalan kinerja insinerator yang ada. Lantas bagaimana cara mengatasi hal ini?


ijin copas yah :D
ReplyDeleteSalam Sukses------ Maaf ya Mas apa seksrang sistem scrubber asapnya sudah baikan apa belom ..? mau sedikit sumbang saran: menggunakan sistem Ventury Scrubber memang sulit diharaokan dapat membersihkan asap; kini ada teknologi terkini yaitu generasi terbaru dalam wet scrubber yaitu jenis ekstraktor asap. Teknologi terbaru ini mampu mengubah asap yang hitam pekat menjadi seperti udara/angin yang sama-sekali tidak berwarna dan tidak berbau. Kalo Mas tertarik bisa hubungi saya (DADANG) di 081286088809 atau di 087770744170 atau email alissentosa@gmail.com
ReplyDelete