![]() |
| Sumber gambar: http://pemudawirausaha.com/ |
Misal saja untuk keahlian bidang Teknik Kimia. Mahasiswa teknik kimia diberi fasilitas bahkan dibiayai untuk mempelajari ilmu tersebut dengan harapan nantinya dapat menjadi process engineer yang bermanfaat untuk negeri. Dapat menciptakan proses pengolahan sumber daya alam menjadi produk yang ekonomis dan tentu dengan proses yang ramah lingkungan. Dampak akhirnya ya untuk kesejahteraan negeri. Demikian pula untuk bidang studi lain. Namun, begitu terbataskah cara kita menebar manfaat?
Tentu tidak. Seorang process engineer bukan tidak bisa JUGA menjadi ibu rumah tangga, kepala rumah tangga, penulis novel, pengusaha, ustadz/ustadzah, dll. Masalahnya adalah bagaimana jika pekerjaan utamanya nanti bukan di sektor teknik kimia, baik pendidikan, pemerintahan maupun industri. "Sekedar" menjadi ibu rumah tangga misalnya. Terutama bagi penerima beasiswa penuh termasuk beasiswa hidup saat kuliah, apakah itu dianggap menyalahi tujuan? menjadikan beasiswa tidak tepat sasaran. Padalah bisa jadi di luar sana ada yang benar-benar bertekad menjadi process engineer namun kesempatannya kita menangkan.
Dalam konteks ibu rumah tangga, lantas harus bagaimana? Sepertinya tidak ada jurusan Ibu Rumah Tangga padahal seorang ibu dengan pendidikan yang lebih tinggi tentu lebih baik. Mungkin seharusnya, diluar rutinitasnya menjadi ibu rumah tangga, juga harus beraktivitas sesuai dengan keprofesiannya. Dosen Teknik Kimia, bekerja di pabrik proses atau sektor pemerintahan yang menyentuh bidang tersebut mungkin.
Mungkin juga akan ada pendapat bahwa mengapa harus dipermasalahkan? Tujuan besarnya kan untuk membangun negeri. Di mana seseorang dapat berkontribusi banyak, mengapa tak di situ saja? tak usah memaksakan. Saya belum bertanya langsung pada penyedia fasilitas, penyedia dana maupun penyedia beasiswa, sebenarnya kami penikmat segala fasilitas tersebut diharapkan menjadi seperti apa? Bahkan mungkin dari pihak penyedia, jika kita tanya secara individu, jawabannya tak seragam. Ada yang sangat mengharapkan sesuai dengan apa yang difasilitaskan (sesuai keprofesian), ada juga yang mengatakan, yang penting memberi manfaat yang luas, entah bagaimana jalannya, kalian kuliah untuk membentuk pola pikir. Mungkin.
Saya pribadi memilih damai. Maksudnya, saya mengembalikannya kepada niat masing-masing. Ya, dalam bentuk apapun, asal berangkat dari niat yang baik dan berdasar. Saya salut pada mereka yang istilahnya mau "berbalas budi" dengan berkontribusi sesuai dengan bidang ilmunya. Namun, bermanfaat dari segi manapun, tetaplah bagian dari tugas kita sebagai pemakmur semesta.
![]() |
| Sumber gambar: http://muda.kompasiana.com/ |


No comments:
Post a Comment