"When your head gets noisy, write it down" turn out it looks like a complaining and crazy blog now. It was blog full of critical thinking, social cause awareness, motivation and other positive energy. But at a point, it flipped 180 degree, there some posts tried to back to those "positive energy only", but not yet succeeded. Keep fall and fall. Anyway, dont you think write down your crazy thoughts here is better than to mainstream social media?

Saturday, November 1, 2014

Mahasiswa Teknik Kimia Diwisuda Bukan untuk Sekedar jadi Ibu Rumah Tangga

Sumber gambar: http://pemudawirausaha.com/
Di suatu usroh (arti katanya keluarga, katakanlah semacam kegiatan berkumpul untuk berbagi ilmu), terngiang dalam benak "Mahasiswa Teknik Kimia diwisuda bukan untuk sekedar jadi ibu rumah tangga". Itu dalam benak saya pribadi. Pembicara sebenarnya menyampaikan bahwa institusi perkuliahan maupun pemerintah mengucurkan dana puluhan hingga ratusan juta untuk tiap kepala agar mereka menjadi profesional atas apa yang mereka pelajari. 

Misal saja untuk keahlian bidang Teknik Kimia. Mahasiswa teknik kimia diberi fasilitas bahkan dibiayai untuk mempelajari ilmu tersebut dengan harapan nantinya dapat menjadi process engineer yang bermanfaat untuk negeri. Dapat menciptakan proses pengolahan sumber daya alam menjadi produk yang ekonomis dan tentu dengan proses yang ramah lingkungan. Dampak akhirnya ya untuk kesejahteraan negeri. Demikian pula untuk bidang studi lain. Namun, begitu terbataskah cara kita menebar manfaat?


Tentu tidak. Seorang process engineer bukan tidak bisa JUGA menjadi ibu rumah tangga, kepala rumah tangga, penulis novel, pengusaha, ustadz/ustadzah, dll. Masalahnya adalah bagaimana jika pekerjaan utamanya nanti bukan di sektor teknik kimia, baik pendidikan, pemerintahan maupun industri. "Sekedar" menjadi ibu rumah tangga misalnya. Terutama bagi penerima beasiswa penuh termasuk beasiswa hidup saat kuliah, apakah itu dianggap menyalahi tujuan? menjadikan beasiswa tidak tepat sasaran. Padalah bisa jadi di luar sana ada yang benar-benar bertekad menjadi process engineer namun kesempatannya kita menangkan.

Dalam konteks ibu rumah tangga, lantas harus bagaimana? Sepertinya tidak ada jurusan Ibu Rumah Tangga padahal seorang ibu dengan pendidikan yang lebih tinggi tentu lebih baik. Mungkin seharusnya, diluar rutinitasnya menjadi ibu rumah tangga, juga harus beraktivitas sesuai dengan keprofesiannya. Dosen Teknik Kimia, bekerja di pabrik proses atau sektor pemerintahan yang menyentuh bidang tersebut mungkin.

Mungkin juga akan ada pendapat bahwa mengapa harus dipermasalahkan? Tujuan besarnya kan untuk membangun negeri. Di mana seseorang dapat berkontribusi banyak, mengapa tak di situ saja? tak usah memaksakan. Saya belum bertanya langsung pada penyedia fasilitas, penyedia dana maupun penyedia beasiswa, sebenarnya kami penikmat segala fasilitas tersebut diharapkan menjadi seperti apa? Bahkan mungkin dari pihak penyedia, jika kita tanya secara individu, jawabannya tak seragam. Ada yang sangat mengharapkan sesuai dengan apa yang difasilitaskan (sesuai keprofesian), ada juga yang mengatakan, yang penting memberi manfaat yang luas, entah bagaimana jalannya, kalian kuliah untuk membentuk pola pikir. Mungkin.

Saya pribadi memilih damai. Maksudnya, saya mengembalikannya kepada niat masing-masing. Ya, dalam bentuk apapun, asal berangkat dari niat yang baik dan berdasar. Saya salut pada mereka yang istilahnya mau "berbalas budi" dengan berkontribusi sesuai dengan bidang ilmunya. Namun, bermanfaat dari segi manapun, tetaplah bagian dari tugas kita sebagai pemakmur semesta.

Sumber gambar: http://muda.kompasiana.com/

No comments:

Post a Comment