"When your head gets noisy, write it down" turn out it looks like a complaining and crazy blog now. It was blog full of critical thinking, social cause awareness, motivation and other positive energy. But at a point, it flipped 180 degree, there some posts tried to back to those "positive energy only", but not yet succeeded. Keep fall and fall. Anyway, dont you think write down your crazy thoughts here is better than to mainstream social media?

Tuesday, October 28, 2014

Menilai dari Posisi yang Benar

Sumber gambar: www.gendhizshop.com
Suatu hari, sambil menuju kekelas untuk kuliah, seorang teman bercerita pada saya. Saya lupa detailnya namun coba saya ceritakan apa yang saya ingat. Sebut saja namanya Mawar. Ia menceritakan kejadian yang menimpanya. Seorang teman Mawar (yang juga temanku), katakanlah namanya Bintang, menanyakan sesuatu pada Mawar. Mengenai kabar miring yang Bintang dengar dari teman yang lain lagi, sebut saja ia Melati. Dari Mawar aku tahu bahwa itu hanya kesalahpahaman Melati atas Mawar.

Mawar merasa kesal pada Bintang, mengapa ia berkata demikian (menanyakan sesuatu tadi) padahal ia tak tahu betul duduk perkaranya. Bahkan Mawar sampai menulis status di Facebook yang intinya mengingatkan orang untuk kalo nggak tau permasalahaanya itu jangan ikut campur. Ya karena bisa salah dan bisa menyakiti korban meskipun hanya dalam bentuk kata bahkan hanya pertanyaan. Pertama, tahu telah dipandang negatif atas berita miring tadi, kedua merasa digunjing dibelakang, belum lagi jika ternyata ada orang lain yang tahu namun klarifikasi tak sampai pada orang lain itu.


Pernah melihat timbangan mekanik? Tentu. Salah satu bentuknya seperti gambar diawal artikel ini. Jika ingin mengetahui bagaimana keadaan timbangan dengan tepat, haruslah melihatnya dari posisi yang tepat. Timbangan miring kekanan, kekiri atau sejajar? Jika miring, seberapa miring? Posisi mengukur yang tepat tentu ditengah, tidak condog kekiri, tidak kekanan.

Demikian pula seharusnya kita menilai suatu perkara yang melibatkan lebih dari satu pihak. Kita harus berada diposisi yang tepat. Dapat mendengar penjelasan dari pihak terkait. Tidak hanya dari satu pihak lantas menjudge. Sangat rawan kesalahan yang berarti mendzalimi pihak yang dirugikan. Jika Anda berada diposisi korban, percayalah rasanya sangat tidak nyaman. Contoh kasusnya adalah seperti kasus Mawar. Tentu, kita, terutama Mawar, dapat mengambil pelajarannya.


Namun memang, berada diantara pihak yang berperkara bisa jadi juga tidak nyaman. Seperti yang cukup sering saya alami. Tiap pihak memiliki versi masing-masing dalam memandang perkara yang sama. Setiap pihak merasa benar. Apa yang satu pihak ceritakan tentu yang benar menurutnya. Begitu juga dengan pihak yang lain sehingga sulit menemukan sebenarnya apa yang terjadi dan terutama bagaimana penyelesainnya.


Terkadang saya terjebak sekedar menjadi pendengar tanpa bisa berbuat apa-apa atas apa yang mereka ceritakan. Saya rasa itu wajar karena dalam satu perkara jawabannya tak sesimpel mana yang salah dan mana yang benar. Bisa jadi dua-duanya salah atau dua-duanya benar, atau mana yang lebih benar dan mana yang lebih salah. Kesalahpahamankah? Salah pemilihan kata dalam bercerita kah? atau apapun. Namun yang pasti, saya yakin solusinya selalu ada hanya masalah mudah atau sulit, cepat atau lambat.

No comments:

Post a Comment