 |
| Sumber gambar: http://www.theholidaystravel.com/ |
"Gaya pengen dijitak" demikian bahasa temanku menggambarkan mereka yang alay pamer kemesraan di media sosial, terutama setelah menikah. Karena kemesraan mereka yang pacaran, tak cukup menarik untuk kami. Ya, bentukannya seperti seluruh foto yang ada di postingan kali ini. Kamu yang getol banget beberapa jam setelah menikah ngumpulin foto, ngedit-edit, dipilih-pilih mana yang bagus, di ganti-ganti padahal gitu-gitu juga. Wallpaper HP, background dekstop, foto blog, cover fb, profpic fb dan foto di medsos yang lain.
 |
| Sumber gambar: http://www.theholidaystravel.com/ |
Salahku apa? aku hanya memajang fotoku dan suamiku. Foto pernikahan kami, foto liburan kami, potret kebahagiaan kami. Aku hanya mengungkapkan kebahagiaanku. Tidak salah, sama sekali tidak salah dan boleh kog, itu pilihanmu. Tapi, pernahkah kamu berpikir dan berempati bagaimana perasaan mereka, teman-temanmu yang mulai resah. Gejolak rasa yang meletup bahkan meledak di dalam. Sulit terlepas karena malu untuk diungkap. Terbayang, jika gejolak itu diungkap padamu, mungkin kamu hanya akan tersenyum. Tersenyum bangga dan tak peduli.
 |
| Sumber gambar: http://gitacremonandra.wordpress.com/ |
Jika hati-hati yang pasti ada setitik noda itu boleh berkata jujur padamu, dengarlah ini. Kalau kau ingin ngumbar kemesraan, jangan keliatan banget getolnya. Getol pengen pamer. Alay tau. Biasa aja lah. Kami tau itu hak mu, bukan kewajibanmu menjaga hati kami. Tapi.. tapi.. perhatikan etiket, jangan buat kami berpikir dan merasa yang tak baik. Jangan buat kami iri, iri itu dosa kan? Jaga hati kami. Ya, memajang fotomu dengan suamimu itu hak kamu, tapi BIASA aja lah. Juga percakapan kasmaran kamu di medsos. Kamu nggak punya ruang dan waktu untuk melakukannya di rumah? maksud kamu tu apa?
Ya, sebenarnya bisa terasa sih mana foto atau percakapan yang dipajang dengan biasa aja dengan yang dipajang dengan perasaan BANGGA, mm gaya pengen dijitak tadi. Seberapa leluasa berekspresi mungkin juga bisa dengan mempertimbangkan siapa saja teman kamu di medsos, banyak yang galau kah? yang jauh lebih muda, lebih tua atau yang sebaya? jauh lebih tua dan jauh lebih muda mungkin tak kan terlalu perduli.
Sekali lagi apa yang ingin kamu lakukan atas perkara ini itu hak kamu pribadi. Cerita ini hanya mencoba menggambarkan satu sisi yang mungkin belum kamu maknai betul. Selain berpikir bagaimana perasaan orang lain, berpikir jugalah pada bagaimana image kamu akan terbentuk atas apa yang kamu lakukan.
No comments:
Post a Comment