"When your head gets noisy, write it down" turn out it looks like a complaining and crazy blog now. It was blog full of critical thinking, social cause awareness, motivation and other positive energy. But at a point, it flipped 180 degree, there some posts tried to back to those "positive energy only", but not yet succeeded. Keep fall and fall. Anyway, dont you think write down your crazy thoughts here is better than to mainstream social media?

Sunday, October 5, 2014

Nikah Muda


Ini bukan mengenai galau, bukan pula mengenai galau dan bukan juga mengenai galau. Ini mengenai menikah muda. Pernikahan yang di pandang sebagai sesuatu yang berani bahkan nekat malahan ada beberapa hal negatif menjadi prasangka atasnya.

Apa tidak senang jika dapat membesarkan anak dari sejak energi kita masih full? Masih darah muda. Apa tidak senang dapat lebih cepat melihat kesuksesan mereka? Jika dalam keluarga harus ada penyesuaian, apa tidak senang hidup dalam keluarga yang sinerginya lebih awal? Saya terbayang kebahagiaan yang lebih cepat datang dan lebih lama dirasakan.

Bumi ini membutuhkan insan-insan yang hebat. Jika kita yakin dapat menumbuhkan anak-anak hebat yang dapat menjadi pemakmur bumi, mengapa tidak dipercepat? Mengapa memberikan hanya sedikit? Kita yakin kan dapat mendidik anak-anak kita menjadi orang yang bermanfaat untuk sekitar? Bantulah memenuhi bumi ini dengan orang-orang yang baik sehingga lambat laun orang-orang yang tak baik menjadi pencilan. Tinggalkanlah dunia bersamaan dengan meninggalkan anak-anak soleh.

Membina keluarga lebih-lebih mendidik anak bukanlah perkara yang mudah. Sangat sulit. Sangat dibutuhkan pendidik (orangtua) yang hebat pula untuk membentuk keturunan yang hebat. Kita tahu masih banyak orang-orang yang tak beruntung mendapatkan pendidikan yang tinggi. Jika kamu beruntung mendapatkannya, kamu menjadi orang yang seharusnya lebih potensial untuk menjadi orangtua yang tak biasa, orang tua yang hebat.

Seumuran lulus kuliah, saya rasa umur yang sudah cukup. Selain menurut hitungan angka (umur) juga mengenai pendidikan. Diumur 22-23 saya kira sudah banyak tempaan untuk diri agar nenjadi jiwa yang dewasa, matang dan pandai. Meskipun memang adalah pilihan untuk menjadikan tempaan tersebut sebagai latihan diri atau bukan. Dan katanya, memiliki anak setelah umur 30an itu cukup berisiko. Jika merencanakan mencetak putra putri yang hebat yang tak hanya satu dua, tentu lebih cepat lebih baik, termasuk dari segi umur melahirkan. 

Namun penting pula kawan, menikah muda bukan berarti menikah dini sebelum punya bekal yang cukup. Terutama laki-laki yang akan menjadi nahkodanya. Ya tapi wanita juga harus cukup perbekalan, sih. Ingat, Menikah itu Berkorban. Bagaimanapun yang namanya persiapan itu sangat penting, wajib bahkan. Persiapan dari segi mental juga materi. Tak boleh idealis tanpa realistis. Tak boleh sekonyong-konyong mengobarbankan hal lain yang harus menjadi pertimbangan, harus bijaksana.

No comments:

Post a Comment