"When your head gets noisy, write it down" turn out it looks like a complaining and crazy blog now. It was blog full of critical thinking, social cause awareness, motivation and other positive energy. But at a point, it flipped 180 degree, there some posts tried to back to those "positive energy only", but not yet succeeded. Keep fall and fall. Anyway, dont you think write down your crazy thoughts here is better than to mainstream social media?

Tuesday, November 25, 2014

Merdeka itu Bukan Seenak Jidat

MERDEKA. Dahulu, kata merdeka, dalam benak saya, identik dengan makna yang disampaikan para guru sejarah, merdeka itu bebas dari penjajah. Tidak ada makna lain yang tergambar.

Suatu ketika, untuk pertama kalinya, saya  menyaksikan arak-arakan wisuda di ITB. Berkali-kali saya mendengar kata merdeka di pekikkan oleh masa kampus. Pertama kali mendengar pekikkan tersebut, saya tertawa, tertawa. Merasa lucu saja, ngapain teriak-teriak "merdeka", pokoknya terdengar lucu. Namun pada pekikkan berikutnya, saat kata merdeka kembali dipekikkan dengan kepalan tangan dan dengan semangat penuh energi, saya tersentak. Entah mengapa dan bagaimana bisa, saya terhenyak, sedikit merinding dengan merasakan makna kata 'merdeka'. Bahwa kami, mahasiswa/pemuda yang merdeka memiliki kebebasan. Kebebasan berekspresi, kebebasan berpendapat, kebebasan bergerak sesuai apa yang mereka yakini itu benar. Jangan mau di kekang. Kurang lebih demikian.

Menurut saya, meski demikian, kemerdekaan ini bukan tak terbatas. Bisa dibatasi oleh hak orang lain, perjanjian dengan orang lain, integritas bahkan etika. Seorang penghuni asrama berhak memakai segala fasilitas yang ada di dalamnya. Pun demikian dengan penghuni lain. Sehingga perlu untuk memastikan fasilitas tersebut kembali seperti semula agar pemakai berikutnya tak direpotkan.


Dalam banyak aktivitas yang membutuhkan komitmen bahkan perjanjian, sering karena beberapa hal kita tak dapat melaksanakannya. Toleransi tentu ada, namun jika memang ada konsekuensi yang harus diterima, seharusnya bersedia pula untuk menerimanya. Bukankah demikian, dalam setiap keputusan yang kita ambil, secara otomatis konsekuensi yang mengikutinya juga harus diambil.

Saya cukup heran ketika suatu hari mendapat cerita, seorang saudara dengan sangat mantap tetap menikmati sebuah fasilitas padahal menurut perjanjian, fasilitas tersebut batal karena satu point perjanjian yang ia langgar. Saya sedikit lupa alasan tepatnya namun kira-kira, karena itu adalah aturan yang dibuat manusia, bukan oleh Tuhan. Kondisinya adalah, ia telah menyetujui perjanjian tersebut diawal. Oke jika ia melanggar namun ia terima konsekuensinya, namun sayangnya tidak demikian.

Kemudian cerita yang lain. Saya mendengar dari seorang teteh bahwa seorang teman, mengusulkan (dari kronologis, saya ingin menggunakan kata 'memaksa' sebenarnya) agar suatu rapat diadakan disuatu waktu sehingga teman saya tersebut dapat menjadikannya alasan untuk tidak datang kesuatu kegiatan yang lain. Kegiatan lain yang dalam komunitas yang ia ikuti itu wajib, namun tak begitu ia sukai. Singkat cerita usulan tersebut disetujui. Pencerita tersebut mengatakan (tepatnya memuji) bahwa teman saya "merdeka". Saya kembali tertegun, menurut saya, kata merdeka terlalu mulia. Saya tak mengatakan apa yang dilakukan itu salah, akan relatif menurut setiap orang. Sekali lagi, kata merdeka terlalu mulia untuk hal ini.

Jujur, saya tak punya skala angka yang bisa diterapkan sebagai pembatas kemerdekaan yang katanya bukan tak terbatas tadi. Kita tahu, banyak hal yang memang ak perlu kita repot mengangkakan karena kita punya hati, nurani maupun perasaan untuk mengukurnya. Menurut kepantasan agar MERDEKA tak disamakan dengan SEENAK JIDAT.

No comments:

Post a Comment