"When your head gets noisy, write it down" turn out it looks like a complaining and crazy blog now. It was blog full of critical thinking, social cause awareness, motivation and other positive energy. But at a point, it flipped 180 degree, there some posts tried to back to those "positive energy only", but not yet succeeded. Keep fall and fall. Anyway, dont you think write down your crazy thoughts here is better than to mainstream social media?

Sunday, November 2, 2014

I Hear Your Voice, yang Pahit Tak Selalu Obat

Sumber gambar: http://nanhiko.over-blog.com

Pernah nonton drama korea I Hear Your Voice? Entah di episode keberapa, ada adegan di mana tokoh pemuda yang dapat mendengar suara batin orang, sadar bahwa memang tak semua hal harus diungkap. Cukup terasa esensinya ketika melihat adegan tersebut. Dalam situasi-situasi tertentu kita harus mengatakan bagus, padahal dalam hati ingin mengatakan kalau itu norak. Kadang harus mengiyakan ajakan padahal sedang sangat malas. Kadang harus tetap tersenyum, padahal merasa sangat dongkol.

Bahkan terkadang harus menahan keinginan bertanya padahal keinginan klarifikasi sudah memuncak. Menahan keinginan menjelaskan panjang lebar padahal berada dalam posisi tersudut bahkan terfitnah. Terkadang pula hanya perlu menerka kemudian langsung bertindak. Menerka isi pikirannya, seolah mendengar suara batinnya. Semua untuk menjaga. Menjaga hati agar tak tersakiti, menjaga pertalian agar tak serta merta putus. Menjaga situasi agar tetap kondusif, nyaman untuk semua orang berada di sana.

Ada ungkapan yang mengatakan "ungkaplah kebenaran walaupun itu pahit" atau " berkata jujurlah meski itu pahit". Selamanya kah dapat berlaku? Saya rasa tidak. Sangat baik jika pahit itu adalah obat, bagaimana jika pahit itu adalah racun? Bukankah racun juga pahit? Ada kata benar, ada kata baik. Benar itu belum tentu baik. Jika pahit tadi itu berbuah kebaikan maka jujurlah, ungkaplah kebenaran karena itu adalah pahitnya obat.

Kapan tahu itu obat atau racun? Ada yang kita miliki yang akan memberi tahu kita. Integritas sehingga tak menjadikan diri pengecut, di mana kita harus obyektif dan tak berstandar ganda maupun oportunis untuk mencari pembenaran diri. Logika dan perasaan sekaligus nurani untuk mengukur banyak bagian di dunia yang tak terkuantifikasi. Bukankah hidup juga seni yang sulit diangkakan :)

No comments:

Post a Comment