"When your head gets noisy, write it down" turn out it looks like a complaining and crazy blog now. It was blog full of critical thinking, social cause awareness, motivation and other positive energy. But at a point, it flipped 180 degree, there some posts tried to back to those "positive energy only", but not yet succeeded. Keep fall and fall. Anyway, dont you think write down your crazy thoughts here is better than to mainstream social media?

Monday, December 22, 2014

"Idealisme yang Sia-sia" #2 : Pemakmur atau Perusak Bumi? : Sampah

Terngiang celetukan ibu saya semasa saya kecil. "Iya tempat dia bersih, tapi kan kotornya ketetangga" kurang lebih demikian maksudnya ketika mengkritik seorang tetangga yang membuang sampah di sungai yang terletak di depan rumah tetangga yang lain. Ya, saya menangkapnya. Kurang bijak hanya memikirkan "yang penting tempatku bersih" tanpa tahu lantas ke mana sampah tersebut berlabuh, ke mana sampah tersebut lalu menjadi pengotor. 

Ibu saya membuang sampah dapur di sawah. Untuk pupuk katanya. Sampah plastik ia gunakan sabagai bahan bakar saat memasak di tungku. Sampah plastik ada pula yang dikumpulkan. Sampah yang beliau kira dapat menjadi bahan kerajinan. Bungkus kopi misalnya, bungkus kopi dibuka dengan meminimalkan plastik yang tersobek sehingga terjaga keutuhannya dan menjadi bagus ketika dibuat kerajinan tangan. Sampah sisanya dibuang kesebuah tempat yang menjadi tempat pembuangan sampah umum. Meskipun mungkin ada kekurangan, seperti pembakaran plastik yang dapat menjadi pencemar udara dan tempat pembuangan sampah umum yang perlu ditinjau kembali, konsep tersebut menurut saya merupakan pemikiran yang sangat cerdas dan mulia. Hal ini mengingat ibu saya yang bahkan SD saja belum lulus. Tak pernah mendapatkan orientasi wawasan kebangsaan atau lingkungan. Sangat saya sayangkan melihat beberapa sarjana dari institusi pendidikan ternama, ketika diingatkan mengenai memilah sampah jawabnya, "ah cuma dikit ini",  "ah ntar juga di campur lagi", "aku jadiin satu aja Susi, biar praktis, nggak repot". Saya salut ibu saya masih sempat memikirkan hal-hal seperti itu padahal pekerjaan rumahnya tiada henti dari bangun tidur sampai tidur lagi.

Coba kita bayangkan gambar ini.

Sumber gambar: wikimedia.org
Ini adalah gunung sampah ditempat pembuangan akhir sampah. Bisa dibayangkan isinya? Sisa nasi, sayuran busuk, plastik, botol, kertas, pembalut, daging busuk, buah busuk, baterai bekas, pecahan piring, wajan rusak, jarum, pakaian bekas, tisu kotor, daaaaan semua jenis sampah yang ada. Baunya? Pernah pergi ke pasar tradisional? belum seberapa bau di sana. Tempat pengumpulan sampah yang sering kita lihat dipinggir jalan saja, kita pasti menahan nafas saat melintasinya. Bagaimana di sini? tempat pembuangan akhir yang setiap hari bertambah hingga hitungan ton. Terpikir bagaimana cara mengatasi massa sampah ini? 

Sampah akan jauh jauh jauh lebih mudah jika dapat diolah menurut jenisnya. Sampah organik seperti bagian tanaman atau sisa bahan makanan dapat menjadi kompos. Plastik dapat yang sudah tidak dapat direuse dapat didaurulang atau jikapun tidak, dapat dihancurkan dengan metode tertentu seperti pembakaran. Demikian pula bahan kaca (gelas) maupun logam dapat didaurulang dengan dilelehkan kemudian kembali dijadikan bahan baku. Sekali lagi, proses daur ulang atau pemusnahan ini menjadi mudah jika sampah sudah benar-benar terpilah. Misalnya saja pada pembakaran plastik, agar dapat terbakar sempurna (lebih aman untuk lingkungan) kondisi operasi seperti temperatur harus dapat tercapai. Masalah yang pernah saya temui adalah tidak tercapainya temperatur tinggi karena masih banyaknya sampah organik yang tercampur dan sulit dipisahkan. Temperatur tinggi yang tidak tercapai ini selain menjadikan sampah tidak terbakar sempurna juga dapat memicu terbentuknya senyawa berbahaya. Banyak pula sampah yang termasuk limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) yang harus diolah terlebih dahulu sebelum residunya dibuang ke lingkungan, bagaimana mengolahnyanya jika ia bercampur? atau bagaimana jika tak terolah karena tak nampak diantara tumpukan sampah yang lain?.

Sungguh saya sering pusing dengan imaginasi pikiran pribadi mengenai sampah ini. Setiap berjalan melewati tumpukan sampah yang luar biasa bau, terbayang banyak sekali penyakit yang bersarang di sana dan cukup berbahaya terutama bagi para pekerjanya. Bau dan massa yang semakin lama akan semakin berakumulasi. Masalah besar hasil akumulasi dari individu-individu angkuh. Saya sering lemas juga ketika membuang sampah dari tempat sampah pribadi kepenampungan selanjutnya. Pasalnya, sampah yang saya pilah seperti gambar di bawah (sampah plastik, sisa bahan makanan dan pembalut dan kadang ditambah sampah seperti botol minuman yang juga dipisah) akan bercampur dalam satu tempat dan dibawa bersama dengan sampah lain yang campur aduk. Terkadang juga pusing jika memiliki sampah khusus yang tak tahu bagaimana cara mengolahnya nanti, harus dipisahkan seperti apa dan apakah jika saya buang di tempat yang sama itu akan membahayakan? Pembalut (bukan organik, namun sangat basah), batu baterai atau pecahan gelas/piring misalnya.

Sungguh saya meminta maaf, saya belum dapat berbuat banyak. Hanya sekelumit usaha yang mungkin sia-sia ini, mencoba selalu telaten memisahkan. Semoga tak menjadi beban berat ketika dihari nanti, saya ditanya, apa yang telah saya lakukan untuk memakmurkan bumi, apakah hanya menjadi perusak? Astaghfirullaah. Tak mudah memang jika tak menjadi kebiasaan. Sekali lagi, tak mudah jika belum menjadi kebiasaan. Saya merasakan sulitnya ketika awal-awal mencoba menerapkannya. Semoga esok akan lebih bermanfaat, lebih dapat menjadi solusi.

No comments:

Post a Comment