Ada saat ketika harap sudah melambung, seketika ia runtuh. Karena ternyata, sama sekali tanpa kita tahu, kesempatan itu sedang perlahan ditutup seiring bertambahnya keyakinan diri akan pencapaiannya.
Ada saat ketika keyakinan akan kemampuan diri begitu tegas, seketika kegagalan menghantam tanpa ampun.
Ada saat ketika kebahagiaan akan masa depan telah tergambar, seketika terperangah karena ternyata, itu hanya angan kosong.
Diri itu lalai, lalai akan KuasaNYA.
Berkali-kali harus diingatkan. Berkali-kali harus terjatuh. Berkali-kali harus kecewa. Karena lupa diri, lupa bahwa diri itu harus menginjak bumi, bukan sedang terbang diatas awan. Diri itu hanya manusia lemah yang sering terjatuh dalam lembah kesombongan. Ternyata, dengan sesama insan saja, diri itu hanya remah tak terpandang, apalagi dengan TUHAN?
Rangkaian kekecewaan itu, rentetan kejatuhan itu, di mana pelipurnya?
“... Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (Qs. ar-Ra’du: 28).
![]() |
| Sumber gambar: iluvislam.com |
Lirik yang terlantun ini, coba resapi. Rindu memadu kasih denganNYA disepertiga malam, demikian jugakah?
Dalam kesendirianku
Dalam keputusasaanku
Dalam penyesalan
Dalam pertaubatanku
Di tengah keheningan malam
Di atas sejadah yang terbentang
Ku bertafakur bersujud berzikir
PadaMu ya Rabbi
Pesona malam yang dihiasi
Cahaya bulan dan bintang
Menemani kesendirianku
MenghadapMu Ya Rabbi
Aku bersimpuh di hadapanMU
Yang Maha mendengar dan melihat
Semua rintihan hati hamba
Dan kerisauan hati ini
Aku ingin bertaubat kepadaMu
Kembali jadi hambaMu yang beriman
Ya Allah yang Maha pengampun
Maha penyayang
Bagi umatNya yang bertaubat

No comments:
Post a Comment