"When your head gets noisy, write it down" turn out it looks like a complaining and crazy blog now. It was blog full of critical thinking, social cause awareness, motivation and other positive energy. But at a point, it flipped 180 degree, there some posts tried to back to those "positive energy only", but not yet succeeded. Keep fall and fall. Anyway, dont you think write down your crazy thoughts here is better than to mainstream social media?

Wednesday, December 3, 2014

"Idealisme yang Sia-sia" #1


Suatu hari saya nyeletuk pada seorang teteh yang menyampaikan rencananya akan pindah ke Jakarta. Jangan ke Jakarta teh, udah penuh, kasihan. Kurang lebih jawaban beliau seperti ini, ah enggak, cuma nambah satu, lagian aku kan kecil. Sebenarnya saya sedang tidak terlalu serius, namun entah mengapa saya sedikit tersinggung atas jawaban beliau. Mengapa begitu enteng menjawabnya. Setidaknya ada kek rasa bersalah, apalagi sebagai orang yang berkesempatan mengenyam pendidikan tinggi. Atau tambahkan jawaban yang mengindikasikan bahwa yang bersangkutan tidak hanya memikirkan diri sendiri, masih peduli akan masalah sosial atau lingkungan disekitarnya. Apalagi jika ternyata kita punya andil akan masalah tersebut. Ya, setiap orang memiliki kepentingan masing-masing, tak bisa dijudge begitu saja. Namun, jika memang harus, at least itu tadi, rasa bersalah.



Di lain sisi, seorang narasumber di suatu kegiatan menyampaikan, beliau telah resmi menjadi warga Yogyakarta setelah pindah dari Jakarta dengan memboyong anggota keluarganya. Semuanya lima orang jika saya tidak salah ingat. Peliknya masalah di ibu kota karena jumlah penduduk yang membludak, berkurangkah dengan pindahnya 5 orang? Lima orang dari BELASAN JUTA warga. Ngefek?

Ada pemikiran klasik yang masih berlaku, masih diakui. Yang besar itu ada dari yang kecil namun banyak. Jika setiap orang berpikir yaa kan cuma satu, tentu menjadi banyak jika yang mengatakan demikian sekian juta orang. Mengenai beliau yang memutuskan pindah ke Jakarta dengan niat mengurangi beban Kota Jakarta tadi, saya salut. Mau meninggalkan berbagai keuntungan bahkan direpotkan dengan segala adaptasi kepindahan, untuk bergerak menuruti apa yang beliau percaya sebagai sesuatu yang ideal, yang baik. Idealisme yang seolah sia-sia karena secara angka, 5 dari jutaan itu tak terasa.

Namun dengan tetap menjalaninya, efek positif yang ada dan pasti terasa itu ketenangan jiwa. Ketenangan karena telah menuruti nurani untuk ikut mencoba menjadi bagian solusi, mengundurkan diri dari menjadi bagian masalah. Efek lain yang dinilai kecil namun ada, seperti berkurangnya pemakai jalan yang terkenal akan macetnya, berkurangnya sampah yang masih menjadi masalah terkenal, dan yang juga penting adalah mengenai keteladan. Kemudian, siapa yang mengatakan itu sia-sia? Tuhan memperhitungkan apapun meskipun itu sebesar dzarah kan.

No comments:

Post a Comment