"When your head gets noisy, write it down" turn out it looks like a complaining and crazy blog now. It was blog full of critical thinking, social cause awareness, motivation and other positive energy. But at a point, it flipped 180 degree, there some posts tried to back to those "positive energy only", but not yet succeeded. Keep fall and fall. Anyway, dont you think write down your crazy thoughts here is better than to mainstream social media?

Friday, October 2, 2015

Kesehatan Mereka, Tanggungjawabku Juga

Sekitar 3 tahun lalu, saya kedatangan seorang teman. Ia hendak menginap. Saat ia tiba, ternyata ia sedang flu. Saya menganjurkan ia untuk memakai masker, namun ia menolak. Tidak nyaman katanya. Saya tak nyaman juga memaksa. Sehari kemudian, setelah ia pulang, hidung saya mulai gatal, bersin-bersin dan akhirnya flu, persis seperti kekhawatiran saya. Saat itu masa kuliah. Kalian pasti tahu bagaimana awal-awal flu, badan panas, pusing, hidung berair, mampet dan sakit, kadang tenggorokan juga ikut sakit. Rasanya sangat tidak nyaman, mengganggu aktivitas.

Kalau boleh jujur, saya sering kesal jika ada teman yang tidak langsung membuang (ke tempat sampah luar) tissu bekas membersihkan ingus (atau setidaknya dikresekin di satu tempat). Biasa disimpan di dekat tempat duduk, tempat tidur dan sering jadi lupa. Tidak hanya ketika teman main ke kamar tapi juga yang sering meninggalkan tissu kotor di meja di kampus. Saya suka parno. Ya, kalo sama-sama sakit mah mending, jadi nggak "nular", tapi tetep geuleuh sih kalo harus buangin ingus orang.

Masalah orang sisi (membersihkan ingus dengan bunyi keras) dengan tisu/saputangan, sebenarnya saya heran, kenapa orang nggak malu sisi di deket orang. Jujur, untuk saya itu agak menjijikkan, saya biasa membersihkan ingus di kamar mandi (itupun dulu sambil nyalain keran atau pas nggak ada orang di sekitar kamar mandi). Mmm saya sering berpikir, apa sayanya yang lebay? nggak fleksibel? Beberapa kali, ada yang minta maaf saat mereka sisi di dekat saya, saya pikir berarti sebenarnya mereka juga berpikiran sama bahwa itu kurang sopan, tapi kalo mereka ngerasa seperti itu, kenapa nggak keluar atau menjauh aja ya? kenapa malah minta maaf, -_- (dan besok-besok juga tetep gitu, wkwkwkwk). Ya, beberapa waktu belakangan, saya coba untuk tidak jijikan, saya coba menganggap sisi di tempat umum itu hal biasa, meskipun nggak semudah itu juga (dan nggak di dalam kelas saat ada dosen juga), tapi untuk naruh tisu yang ada ingusnya sembarangan apalagi harus ngebuangin ingus orang, tetep parno sih.

Iya, sakit itu sangat sangat sangat tidak enak. Jika tahu kita sedang punya sakit yang mungkin untuk menular, berusahalah bagaimana caranya agar orang di sekitar kita tidak ikut sakit. Sakit yang menurut kita sepele, belum tentu menjadi sepele juga untuk orang lain, kondisi dan kepentingan mereka kita tidak tahu. Caranya tergantung sakitnya, menutup luka, memakai penutup kepala (seperti kerudung, misal karena sedang punya kutu di kepala atau sakit di kepala/leher), memakai masker, tidak berbagi tempat makan/handuk, tidak mengarahkan batuk ke muka orang, menyimpan tisu ingus tidak disembarang tempat, mencuci tangan jika sekiranya kotor, dan lain-lain.

Sebagai orang jawa yang terkenal rikuhan (nggak enakan), memang sulit untuk menegur apalagi yang mungkin menjadikan suasana menjadi canggung. Jangankan menegur, memperlihatkan gelagat ketidaksukaan saja sering dihindari, jatuhnya peres. Tapi ya masa mau gitu terus. Kalo kita di posisi yang sekiranya akan dirugikan, saya rasa belajar asertif itu penting juga (#nunjukdiri). Jika tidak bisa menegur, setidaknya melindungi diri, mungkin gitu.

Melalui ini pula, saya meminta maaf jika ada pihak-pihak yang dirugikan karena kelupaan, keteledoran atau ketidaksengajaan saya (misal pas tidur bareng temen tidak sengaja membuka masker sendiri atau tiba-tiba batuk), semoga kita semua selalu dalam keadaan sehat dan jikapun sakit, semoga menjadi perantara ampunan dosa. Aamiiin.

No comments:

Post a Comment