"When your head gets noisy, write it down" turn out it looks like a complaining and crazy blog now. It was blog full of critical thinking, social cause awareness, motivation and other positive energy. But at a point, it flipped 180 degree, there some posts tried to back to those "positive energy only", but not yet succeeded. Keep fall and fall. Anyway, dont you think write down your crazy thoughts here is better than to mainstream social media?

Friday, October 23, 2015

Dua Sejoli Berbeda Keyakinan

sumber: http://www.ahlulbaitindonesia.or.id/
Beberapa waktu yang lalu, saya melihat iklan program TV lamaran (iklannya aja sih), terus intinya mereka itu beda keyakinan dan itu dianggap perjuangan untuk menyatukan dua insan berbeda keyakinan. Hmm, kalo setau (dan sekeyakinan) saya sih menikah berbeda agama itu tidak diperbolehkan, kecuali (dalam agama saya ya) laki-lakinya Islam dan wanitanya ahli kitab (dan ada harapan untuk beriman gitu deh), taaappiii da ahli kitab mah udah nggak ada, jadi intinya mah nggak boleh gitu aja. Tapi saya masih mendengar ada ulama yang berpendapat boleh. Oke, lets say pernikahan dua sejoli berbeda keyakinan itu boleh, lah apa yang mau dikejar mas, mbak? Mau nikah aja daftarnya di Kantor Urusan Agama, prosesinya berdasarkan aturan agama, kalo dalam Islam menikah itu separuh agama, its all about agama mamen. Mau membentuk keluarga yang seperti apa? jalan tanpa tujuan dan pedoman yang jelas. Kalo beda agama pedomannya beda juga, yang satu kitab ini yang satu kitab itu. Mau dibawa ke mana coba?

Mm.. cinta. Alasannya itu. Setiap orang memeluk agamanya dengan keyakinan bahwa agama tersebut adalah agama yang benar, kalo mau masuk surga ya modal awalnya percaya akan agaman tersebut, agama diluar agamanya salah dan ujungnya neraka, kira-kira gitu. Kalo cinta masa rela anggota keluarga (yang katanya dicintai) nggak masuk surga (masuk neraka lagi), suatu hari anak mereka pasti memilih agama mana yang hendak dianut, ya berarti ada salah satu orang tua yang rela anak-anaknya masuk neraka, hmmm serem. Yakin itu yang namanya cinta? Mm kenapa gitu ya? mungkin karena kepercayaan terhadap hari akhir (akhirat, surga, neraka) itu kurang atau memang tidak percaya? kurang tau sih. 

Yang jelas, saya tidak paham mengapa orang berani menikah dalam kondisi berbeda keyakinan. Jika di Indonesia tidak diperbolehkan, mereka menikah di negara yang mensahkan pernikahan beda agama. Itu untuk yang punya uang, kalo enggak mungkin menyamakan agama di KTP tanpa perduli keyakinan dalam hati. Hmm memilih pasangan dengan keyakinan yang sama namun masih kurang paham agama saja perlu seribu kali berpikir dan bisa berakhir pada kata tidak. Seperti kata banyak orang, membangun rumah tangga itu tidak mudah, pasti ada aja (banyak bahkan) perselisihan akan terjadi, meski satu keyakinan cara pandang sangat mungkin berbeda. Nah perselisihan-perselisihan itu sangat mungkin terselesaikan jika tujuannya satu, pedomannya satu. Dan tujuannya tentu bukan sekedar tujuan jangka pendek, namun tujuan sampai di dunia setelah kematian kelak (akhirat).[]

No comments:

Post a Comment