![]() |
| sumber: http://www.ahlulbaitindonesia.or.id/ |
Mm.. cinta. Alasannya itu. Setiap orang memeluk agamanya dengan keyakinan bahwa agama tersebut adalah agama yang benar, kalo mau masuk surga ya modal awalnya percaya akan agaman tersebut, agama diluar agamanya salah dan ujungnya neraka, kira-kira gitu. Kalo cinta masa rela anggota keluarga (yang katanya dicintai) nggak masuk surga (masuk neraka lagi), suatu hari anak mereka pasti memilih agama mana yang hendak dianut, ya berarti ada salah satu orang tua yang rela anak-anaknya masuk neraka, hmmm serem. Yakin itu yang namanya cinta? Mm kenapa gitu ya? mungkin karena kepercayaan terhadap hari akhir (akhirat, surga, neraka) itu kurang atau memang tidak percaya? kurang tau sih.
Yang jelas, saya tidak paham mengapa orang berani menikah dalam kondisi berbeda keyakinan. Jika di Indonesia tidak diperbolehkan, mereka menikah di negara yang mensahkan pernikahan beda agama. Itu untuk yang punya uang, kalo enggak mungkin menyamakan agama di KTP tanpa perduli keyakinan dalam hati. Hmm memilih pasangan dengan keyakinan yang sama namun masih kurang paham agama saja perlu seribu kali berpikir dan bisa berakhir pada kata tidak. Seperti kata banyak orang, membangun rumah tangga itu tidak mudah, pasti ada aja (banyak bahkan) perselisihan akan terjadi, meski satu keyakinan cara pandang sangat mungkin berbeda. Nah perselisihan-perselisihan itu sangat mungkin terselesaikan jika tujuannya satu, pedomannya satu. Dan tujuannya tentu bukan sekedar tujuan jangka pendek, namun tujuan sampai di dunia setelah kematian kelak (akhirat).[]

No comments:
Post a Comment