Terinspirasi dari kasus korupsi di Sumatera Utara. Agak miris kisahnya.. kasus korupsi dana Bansos alias Bantuan Sosial dengan aktor utama Gubernur dan melibatkan tiga lembaga sekaligus, lembaga yang dari SMP kita hafal bahwa memang dalam penyelenggaraan negara ya cuma ada tiga unsur ini: eksekutif, legislatif dan yudikatif. Menyeret bukan 3, 4 orang tapi puluhan bahkan mungkin ratusan orang dan uang rakyatnya milyaran rupiah, Oh My God. Ada satu alasan yang dikemukakan mengapa ini bisa terjadi, yap BUDAYA TERIMA KASIH. FYI bagi yang selama ini masih berada dilingkungan yang idealis, jadi yang namanya uang tip itu udah biasa terutama dilingkungan yang ada kepentingannya dengan pemerintahan.
LSM yang menerima bantuan dari dana bansos akan menyisihkan sebagian uang tersebut untuk diberikan pada orang di dalam pemerintahan yang dianggap berjasa dalam penurunan uang tersebut. Bentuk rasa terima kasih ceunah, kalau nggak kayak gitu, nanti kalo minta bantuan lagi takut dipersulit atau diberikan ke LSM yang lain gitu. Dan kayak gini bakal jadi bola salju nggak sih? banyangin deh, orang mengerjakan hal yang sama yang satu dapet uang yang satu enggak, lebih semangat yang mana? yang dapat uang kan? ini juga bisa memicu pihak pengaju yang lain melakukan hal yang sama. Terus kalo udah terbiasa dengan uang tambahan, ketika mengerjakan hal yang sama tapi nggak ada uangnya berasa rugi, berasa kerja nggak dibayar, padahal mah gaji mereka tu ya udah include kewajiban mengerjakan hal-hal tadi. Hmmm "bayaran" dari kerja sampingan bisa jadi lebih besar tuh.
Tapi yang kayak gitu emang mental orang bejat sih, gimana enggak? misal orang pemerintahan perlu ngurus sesuatu nih, uang pulsa ada, uang transport bahkan mobil untuk bepergian udah di kasih, kalo perlu nginep di hotel juga bakal dibayarin, kalo sakit ada asuransinya, cuma ngeluarin tenaga dikit, masih males? (atau emang lemah aja?), ngasih pemikiran juga males? (atau emang aslinya nggak punya kemampuan berpikir? nggak punya kapabilitas apa-apa?)
Belum yang orang minta surat ini itu atau perusahaan minta izin ini itu. Perusahaan kalo mau menang tender harus "manjain" dulu pihak yang punya proyek (yang ngewakilin maksudnya). Ini true story dari temen yang ngalamin sendiri. Gaji ada, tunjangan ini itu, fasilitas ini itu masih nggak cukup? Yang seharusnya dilakukan itu, misal ada proposal masuk ya dikaji, ini layak enggak, datanya masuk akal apa enggak, yang mana yang lebih butuh atau misal lelang proyek ya yang dipikirin tu ya mana yang memang dinilai akan memberikan performa yang baik. Kenapa itu nggak dipikirin? kenapa nggak peduli? huft malah sibuk manipulasi ini itu, minta ini itu, ngitung ini itu. Meuni murah banget orang nurut sama duit.
Kalo ada yang ngikutin kasus Gubernur Sumut tadi, bahkan ada seorang anggota DPR yang terang-terangan nagih uang 350juta yang sudah dijanjikan di depan pada media massa yang meliput. Mobil dinas ia tahan sebagai jaminan sampai uang 350juta tadi turun ceunah. Oh My God, itu saya nggak habis pikir. Hmm katanya juga ya di sana, budaya terima kasih ini sangat kental, bahkan misal ada pejabat yang sebelumnya sudah terjerat kasus hukum (even itu korupsi) kalo dia dihadapan masyarakat terkesan baik, ia akan tetap mendapat kepercayaan masyarakat dan kembali menjadi pejabat, dengan mudah.
Kalo kita memutuskan tidak mengikuti aturan masyarakat itu, bisa jadi kita dianggap orang yang tidak tau terima kasih dan tidak disukai, dipersulit di mana-mana. Tapi kalo nggak diputus rantainya, ya kapan bakal bener? huft budaya terima kasih, budaya nggak enakan juga, bisa jadi belenggu yang menahan kita untuk maju. Saya yakin sangat sangat sangat tidak mudah menjadi orang idealis di negeri ini, tapi yaa semoga orang-orang baik dan benar selalu dimudahkan langkahnya oleh Tuhan.[]

No comments:
Post a Comment