Kadang aku bertanya, apa aku terlalu kaku? nggak nyantai? terlalu perhitungan? kala aku merasa telah memberi effort semaksimal mungkin untuk menepati sesuatu yang aku anggap janji, ternyata belum tentu yang lain juga begitu.
Beberapa kali dalam tiga tahun belakangan, ada beberapa teman yang sms dan menyatakan ingin datang ke kosanku, kebanyakan ingin belajar. Selalu aku tunggu kedatangannya, jika kamar terlalu berantakan, aku bersihkan, setidaknya ada ruang untuk ia duduk dan meletakkan barang. Aku tidak bepergian dan menjaga diri agar tak ketiduran. Ya, untuk memastikan aku ada di kosan saat mereka datang karena biasanya mereka cuma bilang nanti siang, sore, malam, setelah isya, bahkan hanya bilang "besok". Apa yang terjadi? NGGAK DATENG. Kenapa? ada yang kemudian sms bilang nggak jadi karena kemalaman, ketiduran dan berbagai alasan yang kadang logis dapat diterima tapi kadang juga bodor. Yang parah ada juga yang nggak ngasih kabar, dia yang ngajakin, aku yang nunggu, aku yg nanyain sms dan jawabannya "aku lagi belajar sama X di ...", nggak ada bahasan agenda belajar kita. Okee, mungkin aku yang lebay, tapi sebenernya kalo sekali dua kali sih oke, tapi ada lho yang seriiing banget, oke lain kali nggak usah terlalu ngarep mungkin.
Suatu malam aku janjian dengan teman untuk keesokan harinya mau kesuatu tempat tapi jalan kaki menelurusi car free day. Kami janjian pukul 8an pagi. Malam itu, karena aku tidur awal, aku jadi bangun pukul 1 malam dan tidak bisa tidur hingga pagi, aku coba tidur pukul 5 dan memasang kira2 beberapa alarm agar bisa bangun pukul 7. Ternyata, aku hanya ngantuk tapi nggak bisa tidur, 2 jam itu hanya memejamkan mata tanpa bisa terlelap. Akhirnya memaksa bangun dan aku minum kopi hitam agar tidak ngantuk, kemudan siap-siap dan berangkat.
Kala itu, aku sedang ingin berhemat karena keuangan sedang kurang sehat. Aku memutuskan jalan kaki dari kosan (di sadang serang) ke lokasi car free day di dago. Aku sms temanku dari sebelum berangkat, saat dijalan dan saat sudah sampai, tapi tidak ada balasan. Aku meneruskan perjalanan hingga aku memutuskan menunggu dia di masjid kampus. "Mungkin dia nggak punya pulsa" sehingga aku sms saja keberadaanku sehingga dia bisa menghampiriku. Lama aku tunggu, tak juga ada kabar. "Jangan2 HPnya kenapa2, hilang? rusak? smsnya nggak masuk? atau smsku nggak masuk?" karena nggak ada yang bisa aku kerjakan, aku pulang pukul 11, aku mau jalan kaki lagi, tapi cuma bisa sampai simpang, habis udah laper sama panas, aku lanjutkan dengan angkot. Sore harinya, aku lihat ia OL di fb (berarti HPnya nggak kenapa-kenapa), aku tidak marah, aku hanya enggan menyapa duluan. Tapi sama sekali tidak ada yang ia konfirmasikan, aku berpikir mungkin smsku tidak masuk atau smsnya tidak masuk, itu yang aku coba percaya. Dua minggu kemudian, ia memberi kabar, bahwa saat itu, ia tidak datang karena ketiduran dan tidak membalas sms karena tak ada pulsa. -_-
Suatu pagi temanku sms, ia ingin pinjam uang dan bilang akan langsung diganti sore harinya setelah ia mengambil uang dari suatu sumber. Sebenarnya uang ku tipis, uangku hanya tersisa receh sekian ribu (full uang logam). Uang terakhirku itu tak sebanyak yang ia minta, tapi ya udah karena sepertinya ia tak punya uang lagi dan kebetulan hari itu aku bisa ke kampus dengan nebeng motor teman yang lain, aku kasih aja semuanya agar ia bisa bepergian. Dan toh yang paling penting ia bilang sorenya mau langsung diganti. Mm aku di kampus hingga malam, tidak ada sms darinya menanyakan keberadaanku, ya udah toh aku baru pulang malam, kalo dia mau balikin sore itu, aku nggak ada di kosan. "Mungkin besok dia mau balikin". Eh pulang dari kampus gimana? kan nggak pegang uang? Jalan kaki sih, tapi toh ia kembalikan sore itu kayaknya aku tetap jalan kaki kog.
Keesokan malamnya ia baru sms, menanyakan apakah esok ada dikosan (dua hari setelah pinjam) ia mau mengembalikan uang yang ia pinjam. Ya, di kosan, aku jawab. Aku seharian ada di kosan, rencananya jika ia kembalikan hari itu, uangnya mau langsung aku belikan beras untuk menghindari kehabisan beras disaat yang tidak tepat (pas mau masak beras habis/nggak cukup tapi nggak bisa langsung beli karena udah kesorean). Sore hari ia belum datang juga, "mungkin nanti malam". Ah ternyata tidak juga datang. Entah kenapa. Sepertinya aku terlalu serius menanggapi pernyataan, mungkin itu bukan janji, akunya aja yang terlalu kaku :(.
Suatu hari lagi seorang teman mengoordinir pertemuan beberapa orang termasuk aku. Kami hendak pergi ke suatu tempat untuk suatu keperluan. Ia mengajak kami bertemu di tempat X pukul sekian. Aku harus menyerahkan sesuatu pada mereka. Aku datang beberapa menit sebelum waktu janjian. Ternyata HPku ketinggalan jadi aku memilih spot di mana mereka yang datang akan mudah menemukanku dan aku mudah melihat mereka. Spot tersebut langsung terpapar matahari dicuaca yang sedang cerah sehingga panas, tapi gimana daripada skip ketemu mereka malah lebih repot lagi, aku bertahan di situ.
Menit demi menit berlalu, panas matahari semakin menyengat, bahkan sangat terasa suhu wajah dan kepalaku meningkat, namun mereka tak kunjung muncul. Satu jam setelah kedatanganku aku memutuskan pulang karena khawatir ada kabar yang mereka sampaikan melalui pesan singkat. Sampai di kosan ternyata tidak ada sms, aku sms mereka dan tidak ada jawaban. Agak lama kemudian ada yang membalas dan intinya mereka tidak jadi janjian di tempat x, ditempat lain yang lebih jauh dari kosanku. Dengan terburu2 aku menuju tempat itu dan aku bertemu satu orang (yang lain sudah berangkat) dan ia adalah yg malam sebelumnya sms tempat dan jam pertemuan hari itu. Saat kita bertemu, dengan senyum dan wajah innocent dia bilang "emang mereka (teman yang lain) nggak ngasih tau kamu?". T_T ya kenapa bukan kamu gitu, huft. dan karena pada waktu itu aku tak bawa uang (mm lagi nggak ada sih, hh) aku pulang jalan kaki, jaraknya kira2 dari gasibu ke balubur. Sesulit apa sih sms ngasih tau kalo tempat janjiannya ganti?
Suatu hari lagi aku janjian sama teman untuk memberikan sesuatu padanya. Hari itu aku sudah niatkan untuk jalan kaki ke kampus karena lagi-lagi uangku mepet (beberapa kejadian yang aku ceritakan memang dalam rentang waktu berdekatan, di mana aku sedang tidak ada pemasukan). Karena suatu hal yang tak terduga, yang awalnya aku mau berangkat siang aku jadi berangkat siang menjelang sore (kami janjian untuk sore hari). Karena takut telat kalo jalan (jalan kaki butuh waktu kira2 40 menit) aku memutuskan untuk ngangkot, sungguh itu dengan berat hati ngeluarin uang karena dua kali dari besaran uang angkot itu adalah uang yang benar-benar uang terakhirku kala itu. Sampai di tempat janjian, dia datang? enggak! ditunggu sampai malam, dichat, sms, telp nggak ada respon. -_-
Akhir-akhir ini dan mungkin untuk seterusnya, aku malas menanggapi mereka yang -aku pikir- berjanji tapi tidak ditepati dengan alasan bodor padahal aku mengeluarkan effort cukup berat untuk membuat -yang aku pikir- janji itu terwujud. Entahlah, dibilang marah enggak sih, cuma nggak (dan nggak mau) peduli aja. Aku tidak minta klarifikasi seperti dulu, aku diam, males, kalo ketemu juga pretend to act like nothing happened, males bahas. Kalo sekiranya sudah keterlaluan (terlalu sering) coba tegur apa? bukan karena marah atau benci, sungguh agar dia tau titik perbaikannya. Aku pikir, mereka demikian belum tentu karena mereka buruk, mungkin hanya karena tidak sadar. Tapi sebenarnya, ketika aku ingin marah-marah, ingin menyalahkan bahkan ingin menegur mereka, aku takut. Aku takut sebenarnya aku juga demikian, kalo mereka saja tidak sadar, bukan tidak mungkin aku sebenarnya tidak sadar melakukan hal yang sama. Ya, tidak sadar.
Aku selalu coba untuk memilih kata yang tepat ketika berhubungan dengan kesepakatan. Misal ada yang menanyakan atau ngajak nongkrong disuatu tempat, ketika aku masih bingung aku bisa bilang "nggak tau euy, tergantung mood besok, sebenernya sih pengen" dan keesokan harinya belum tentu aku tidak datang, aku bisa saja datang.
Ini juga termasuk ketika sebenarnya malas (tidak peduli atau bahkan sombong) melakukan sesuatu yang bagi kita itu gampang tapi dampaknya sangat besar bagi orang lain. Balas sms misal, ngetik sms jawab pertanyaan seseorang kan relatif gampang, bayangkan jika ternyata info itu sangat ia butuhkan, sangat sangat ia butuhkan. "Bentar deh balesnya" trus lupa, Oh My God antara males sama sombong sih itu. Gambarannya seperti gambar di atas, effort kecil dari kita bisa jadi sangat bermanfaat bagi orang lain dan kemalasan yang mungkin hanya sedikit menyamankan kita bisa jadi akan sangat menyusahkan orang lain. Bukan hanya perihal janji, banyak kasus yang sedikit menggangguku, bahkan dari yang sekedar aku lihat. Misal ada teman yang butuh laptop untuk urusan penting, dengan gampang kita bilang "lagi dipake" padahal cuma buat nonton atau OL nggak jelas. Ada yang mau pinjam FD, tanpa berpikir serius bilang penuh padahal setelah dicek masih kosong 14GB dari kapasitas 16GB. Ada yang minta tolong apa beberapa menit bilang sibuk belajar padahal dalam rentang waktu itu sebenarnya belajar nggak dapet apa-apa (nggak efektif). Daan segudang cerita yang lain.
Well, jika ada yang merasa tersindir dengan cerita diatas, sungguh tak ada niat menyindir. Saya juga tak punya niatan buruk atau bahkan rasa marah, jikapun pernah ada rasa kesal, itu sudah hilang. In shaa Allaah. Malah pengalamanku tadi merupakan pelajaran yang sangat berharga. Sangat sangat berharga. Ya, belum tentu aku menyadari dan belajar dari hal tersebut jika aku tak mengalaminya. Aku seperti belajar dari "kesalahan" yang aku lihat. Dan sekali lagi, sebenarnya aku agak malu dan khawatir menulis ini, aku takut jika ternyata aku belum sepenuhnya mengaplikasikan ini. Tapi kalo nunggu suci dulu, kapan? Semoga dengan menulis akan lebih menjadi pengingat bagiku pula.

No comments:
Post a Comment