Dalam kamus saya, galau itu penggambaran rasa gundah, gelisah, dilema, bimbang dan semacamnya. Namun sering, ketika saya menyampaikan kata galau, teman-teman saya langsung menangkap bahwa itu mengenai jodoh atau pernikahan padahal belum tentu. Oke, saat ini saya ingin memakai kata galau untuk sedikit bercerita mengenai jodoh atau pernikahan.
Mungkin ada satu masa di mana kamu sadar kamu sedang sangat galau. Kamu merasakannya namun kesadaranmu ingin rasa itu hilang. Sangat mengganggu. Sampai nangis kesel sama diri sendiri? Bisa jadi. Sampai nulis nama si dia dikertas trus di uwel-uwel terus di buang? atau mengulang-ulang kata 'lupakan' berkali-kali? mm bisa jadi juga. Saya tidak yakin hal-hal tersebut akan manjur.
Bukan hal yang tak wajar. Terganggu oleh memikirkan si dia adalah salah satu ujian yang Allaah berikan. Bukan ujian namanya jika tak memerlukan effort untuk lulus akan ujian tersebut. Banyak hal harus dicoba apalagi jika itu kali pertama. Kali kedua dan seterusnya pun tak tentu sama solusinya.
Saya tidak berbicara mengenai kepastian. Namun rasa-rasanya, akan sangat sulit menyingkirkan pikiran tentang sesuatu jika tidak ada hal lain yang lebih "menarik" untuk dipikirkan. Seperti saya yang dapat larut dalam pikiran mengenai bagaimana nanti meminang pekerjaan, mengatur keuangan nanti agar dapat mencukupi segala kebutuhan yang telah terdaftar, mengatur waktu kelulusan dan kegiatan-kegiatan setelahnya, menyiapkan jamuan untuk keluarga saat datang memenuhi undangan untuk wisuda, dan masih banyak yang lainnya.
Atau teman-teman yang larut akan hal yang senada dengan '99 Cahaya di Langit Eropa', 'Bulan Terbelah di Langit Amerika', mempersipkan requrements untuk studi di luar negeri, bisnis paskalulus, dan lain sebagainya. Hal yang penting adalah tetaplah bergerak agar celah itu semakin sempit. Celah untuk rasa-rasa yang mengganggu. Termasuk kegalauan. Lambat laun, dengan doa dan tentunya usaha-usaha tadi, lembaran galau yang mengusik rutinitas akan tertutup. In shaa Allaah.
![]() |
| Sumber: http://hellofitri.blogspot.com/ |
Saya tidak berbicara mengenai kepastian. Namun rasa-rasanya, akan sangat sulit menyingkirkan pikiran tentang sesuatu jika tidak ada hal lain yang lebih "menarik" untuk dipikirkan. Seperti saya yang dapat larut dalam pikiran mengenai bagaimana nanti meminang pekerjaan, mengatur keuangan nanti agar dapat mencukupi segala kebutuhan yang telah terdaftar, mengatur waktu kelulusan dan kegiatan-kegiatan setelahnya, menyiapkan jamuan untuk keluarga saat datang memenuhi undangan untuk wisuda, dan masih banyak yang lainnya.
Atau teman-teman yang larut akan hal yang senada dengan '99 Cahaya di Langit Eropa', 'Bulan Terbelah di Langit Amerika', mempersipkan requrements untuk studi di luar negeri, bisnis paskalulus, dan lain sebagainya. Hal yang penting adalah tetaplah bergerak agar celah itu semakin sempit. Celah untuk rasa-rasa yang mengganggu. Termasuk kegalauan. Lambat laun, dengan doa dan tentunya usaha-usaha tadi, lembaran galau yang mengusik rutinitas akan tertutup. In shaa Allaah.

No comments:
Post a Comment