![]() |
| Sumber: http://fai.unwahas.ac.id/ |
Di pagi hari di mana sidang terbuka penerimaan mahasiswa baru akan dilangsungkan, aku sudah ingin wisuda. Ingin segera bekerja. Saat itu, empat tahun yang akan datang nampak sangat lama. Aku sadar itu hal yang sangat sia-sia jika dipikirkan. Mau tak mau empat tahun memang harus di jalani, tinggal memilih akan menjalaninya dengan baik atau tidak.
Begitu pikiran sesekali datang disela rutinitas kuliah, juga saat menyaksikan wisudaan di kampus yang dilaksanakan tiga kali dalam setahun. Berpapasan dengan kawan sealmamater yang mengenakan toga atau juga bersama orang tua, menelusupkan rasa yang ... yang aku tak tahu bagaimana harus menceritakannya. Di blog sebelah, cerita mengenai ini telah sampai pada part 5, Gundah Gulana Wisuda. Rasa dan pikiran yang tak berlebihan jika disebut sebagai gundah gulana, terutama sejak wisuda April tahun ini di mana kawan-kawan yang masa sibuk kuliahnya aku lihat, kini telah melangkah lega.
Lulus, wisuda, terbayar seluruh jirih payah mereka selama kuliah. Bahkan sedikit lebay ketika air mata menetes bersama suara isak saat melihat foto-foto wisudawan sukses bersama orang tuanya. Aku sadar wisudaku tak akan sesukses mereka. 3,5 tahun, cumlaude dan atau banyak penyambut kelulusannya.
Di tengah riuh gembira pesta wisuda, senyum bahagia di sana sini, ucapan selamat dan bangga silih berganti menghampiri. Apakah wisudaku nanti akan sesukses mereka? apakah senyumku akan selepas mereka? akan sebahagia mereka? Apakah keluargaku dapat bangga padaku? apakah wisuda merupakan pintu kesuksesan berikutnya, atau malah jalan pemberitahuan bahwa aku tak begitu berhasil. Punyakah aku teman yang akan memberikan selamat? yang akan turut mengisi kemeriahan wisudaku jika ia pantas disebut meriah. Apakah kelulusanku akan bermanfaat? sungguh aku khawatir.
Pun aku tahu, mengapa harus gundah? wisuda bukan segalanya dalam hidup ini. Sangat banyak faktor kesuksesan dalam hidup. Setiap orang memilii rizki masing-masing. Kita hanya perlu bersyukur. Dan mengapa harus gelisah? masih ada waktu untuk lebih menyukseskannya ketimbang sekarang hanya meratapi. Terlalu memikirkan hanya akan mengurangi waktu untuk menempatkan puzzle kesuksesan tersebut. Ini bukan sesuatu yang harus disikapi dengan lebay. Bismillaah saja.

No comments:
Post a Comment