Kini saya punya kata yang tepat untuk menggambarkan yang namanya pacaran : Geuleuh. Sebenarnya sama dengan kata risih yang selama ini saya pakai. Namun dalam bahasa jawa kata ini samar dengan kata risi yang artinya jijik. Kata risih menurut saya tepat, namun saya lebih suka kata geuleuh. Semoga saya tidak salah pengertian terhadap kata tersebut #eh.
Ketika duduk di bangku sekolah dasar, pacaran masih saya ketahui sebagai fase yang memang akan dilalui setiap manusia. Fase yang merupakan bagian dari kehidupan. Fase sebelum pernikahan. Ternyata bukan. Pengetahuan ini yang mungkin dimiliki sebagian besar masyarakat awam. Muda mudi merasa kesepian tanpa pacar. Banyak orang tua merasa bangga anaknya memiliki pacar. Mereka berpikir anaknya "laku", anaknya menarik atau sekedar anaknya punya teman bermain.
Ketidaktertarikan saya akan hubungan yang satu ini berawal dari sekolah menengah pertama. Semuanya berproses tanpa betul-betul disadari. Kini saya dapat merangkumnya. Di awal tahun, saya jauh lebih suka berkutat dengan materi pelajaran. Perkara seperti pacaran jauh tersingkir. Tersingkir tanpa sengaja disingkirkan. Di tahun kedua, materi kelas masih menarik, meski tak semendominasi di tahun pertama. Namun ditahun ini, saya memiliki kegiatan yang baru dan amat menarik. Rohis. Sangat menarik.
Di tahun ke dua pula saya memiliki beberapa teman yang sering berbagi cerita mengenai pacar. Tentu menurut pendapat mereka. Terkadang cerita mengenai kegalauan, mengenai apa yang mereka lakukan, mengenai mantan si pacar, mengenai pasangan pacaran yang lain, mengenai tujuan mereka pacaran, apapun. bahkan dua perempuan dapat menceritakan satu laki-laki yang sama. Terkadang aku ingin menyanggah apa yang mereka bicarakan, tapi aku lebih memilih untuk mendengarkan apa yang mereka ingin bagi. Ya, penggalan-penggalan cerita mereka terkumpul, terkadang aku ingat namun lebih sering aku lupa kronologi ceritanya. Yang jelas aku tangkap adalah esensi dari cerita mereka. Esensi yang berangkat dari sudut pandang saya.
"Pacar untuk motivasi belajar". Maksudnya menjadi penyemangat belajar sehingga lebih getol belajar, seperti itu? Bukannya ketika Anda memiliki pacar, sebagian dari pikiran Anda, Anda berikan padanya? Di malam yang biasa digunakan untuk belajar, ada waktu curi-curi untuk sms (pake 'an': smsan) atau mungkin juga memikirkan doi. Saat di kelas, tak sabar ingin cepat usai dan bertemu doi. Ya, memang sih ini di awal-awal, sebelum bosan #eh.
Perlu untuk dipikirkan kembali apakah yang mereka sebut sebagai motivasi itu benar-benar memberi hasil yang positif terhadap hasil belajar. Mungkin iya dengan pacaran ada motivasi, namun percuma jika motivasi sekedar menjadi motivasi. Manusia memang akan merasa lebih bergairah ketika mereka memiliki sesuatu yang mereka inginkan. Katakanlah gairah itu yang disebut-sebut sebagai motivasi. Sekali lagi, percuma merasa bergairah, merasa memiliki motivasi namun tak memiliki waktu yang berkualitas untuk belajar.
Pikirkan kembali, banyak hal yang lebih logis untuk menjadi motivasi. Keluarga atau masa depan mungkin. Sangat bagus jika motivasinya adalah langsung karena Allaah. Allaah mewajibkan setiap hambanya untuk menuntut ilmu dan dengannya manusia dapat menjadi manfaat.
go to #2
go to #2
No comments:
Post a Comment