| Sumber: http://www.republika.co.id/ |
"Menikah itu berkorban" demikian pesan dari seorang ibu. Seorang ibu yang suami beliau sangat sering menyampaikan pada mahasiswa beliau "segera lulus segera menikah". Disatu sisi, pernikahan nampak indah, di sisi lain terasa berat. Dua-duanya benar. Sama seperti kehidupan biasanya yang katanya seperti roda yang berputar. Kadang diatas, kadang dibawah. Kadang senyum riang, kadang menangis perih. Demikian pula pernikahan yang setiap orang harus melihat keduanya, tak hanya indahnya saja, nanti kecewa :)
Bagaimana tidak berkorban, dari dua insan yang baru menikah, perbedaan pasti ada. Benturan pemahaman bukan mustahil terjadi. Mereka memiliki rumah tangga yang sama, anak-anak yang sama dan kehidupan yang harus seiring. Tak mungkin akan diarahkan pada dua jalur yang berbeda, karena semuanya satu, milik bersama. Belum lagi benturan dari keluarga dan tetangga. Mertua yang ingin selalu memastikan anak dan menantunya melakukan hal yang benar, yang kemudian diterima dengan penerimaan yang tak sepaham.
Untuk meredam benturan-benturan tadi, diperlukan kekuatan yang sangat besar. Bersabar dengan apa kata orang, meruntuhkan ego pribadi, taat pada kesepakatan yang berat diputuskan, bersabar saat pasangan sedang "murung", bersabar saat anak dijadikan cobban oleh Tuhan, bersabar ketika ekonomi kepayahan, besabar saat impian-mpian pribadi harus tertunda bahkan terhapus dan kerikil penghalang yang lain. Tak mungkin akan nampak harmonis jika tak ada pengorbanan di sana. Semakin besar pengorbanan, semakin besar kebahagiaan bersama dapat dibangun. Berkorban bukan untuk kepentingan salah satu, namun untuk bersama. Kesuksesan bersama.
![]() |
| Sumber: http://slodive.com/ |

No comments:
Post a Comment