"When your head gets noisy, write it down" turn out it looks like a complaining and crazy blog now. It was blog full of critical thinking, social cause awareness, motivation and other positive energy. But at a point, it flipped 180 degree, there some posts tried to back to those "positive energy only", but not yet succeeded. Keep fall and fall. Anyway, dont you think write down your crazy thoughts here is better than to mainstream social media?

Sunday, August 10, 2014

Cinta untukmu, cinta yang kubangun, bukan cinta yang terjatuh

Beberapa waktu yang lalu, aku terpikir apa ada orang yang mencintai seseorang tapi tak mau menikah dengannya. Mm terdengar aneh, seperti kalimat 'Kita nggak bisa bersama lagi, kau terlalu baik untukku', ya, dapet orang baik masa nggak mau. Bagaimana penjelasannya? karena aku yakin itu bisa terjadi *pengalamanpribadi #eh. 

Apakah berarti sebenarnya itu tak dapat disebut sebagai cinta? dia tak benar-benar mencintai. Atau, ya itu memang cinta dan bukan hal yang aneh tak mau nikah dengan orang yang dicinta, kenapa aku permasalahkan? karena cinta bisa jadi adalah perkara perasaan semata sedangkan orang menyertakan logika dalam memutuskan pernikahan. Ya, mungkin seperti itu. Bukankah memang bisa jadi Cinta tak datang dari pendekatan yang tekun ? Ia bisa datang kapan saja tanpa di minta, ia bisa saja dengan tiba-tiba mengganggu rutinitasmu. 
Menikah. Tak sedikit yang lebih banyak menyertakan logika. Katanya, hidup tak bisa hanya makan cinta. Katanya pula, cinta itu emosi yang lambat laun akan sirna karena kenyataan dan logika. Cinta bisa jatuh pada siapapun, tak pandang bulu. Namun, tak siapapun punya rasa tanggungjawab, kebijaksanaan, kesetiaan, ilmu agama yang cukup, kemauan memperbaiki diri, gigih mencari nafkah, penyayang, dan semua kriteria yang orang inginkan ada pada pasangan seumurhidupnya.

Aku mendapatkan jawaban yang lebih tertata dari sebuah artikel yang ditulis oleh seorang motivator.  Sebut saja ketika kau tiba-tiba atau tanpa sebab mencintai seseorang itu namanya jatuh cinta. Kau boleh jatuh cinta pada siapapun, namun berikan hatimu hanya untuk suamimu. Suami, hanya yang boleh menyentuhmu dan kau berikan hatimu padanya.

Jatuh cinta bisa datang kapan saja dan kepada siapa saja. Itu wajar dan tak salah. Salah atau tidak hanya pada bagaimana kita menyikapinya. Salah jika itu dilampiaskan dengan cara diluar koridor yang dibataskan Allaah.  Untuk menikah, tentu masing-masing orang punya kriteria. Kriteria untuk menjamin kebahagiaannya kelak. Untuk dirinya, suaminya dan terutama buah hatinya, keluarga besarnya dan lebih-lebih kebahagiaan diakhirat kelak.

Aku yakin, mudah mencintai orang yang kita percayakan hati kita untuknya. Sebut itu cinta yang terbangun atau yang dibangun, ungkapan jawa mengatakan witing tresna jalaran saka kulina, bukan cinta yang terjatuh. Berikanlah hati pada orang yang kau percaya mampu menjaganya, hati yang didalamnya ada cinta yang dibangun bukan cinta yang terjatuh.

Ribuan kalipun aku jatuh cinta pada orang yang sama, tak kan kulepas hati ini jika Allaah tak bisa membuatku percaya padamu. Kau, orang yang kupercayakan hatiku padamu, jagalah hati ini, hati yang didalamnya ada cinta, cinta yang kubangun, bukan cinta yang terjatuh. Pun jua hatimu, mari bersama-sama menjaga keduanya. 

-25Juni2014-

No comments:

Post a Comment