"Pacaran itu untuk lebih mengenal laki-laki jadi nanti kalau punya suami udah tau". Hal ini senada dengan "agar tidak membeli kucing dalam karung". Tidak ada jaminan dengan menjadikan seseorang menjadi pacar, ia akan mengenalnya dengan baik. Malah menurut saya, rawan salah pilih. Sepasang kekasih yang sedang kasmaran cenderung ingin memberikan yang terbaik untuk pasangannya. Kata-kata yang manis, sikap yang baik, makan tidak sekedar di warteg, perhatian dan segudang cara untuk menyenangkan pasangan. Bukannya salah, namun jika sikap itu hanya pada pacarnya, ia belum dapat di katakan orang yang baik. Apalagi, dalam pengamatan saya, sikap baik yang hanya ditujukan pada pasangannya tersebut hanya berlaku beberapa saat, mm sebelum bosan, hehe.
Guru SMA saya bahkan tanpa ragu mengatakan orang yang lagi pacaran itu munafik. Beliau di kenal sebagai "anak nakal". Maksud saya, bahkan orang yang "nakal" saja mengatakan seperti itu. Beliau mengatakan demikian sebab enam pasangan teman SMA beliau yang berpasangan sejak SMA pada akhirnya bercerai sebab setelah menikah banyak hal yang bertolak belakang dengan saat mereka pacaran dahulu. Yang ditunjukkan saat pacaran adalah hal yang indah-indah, mungkin maksudnya demikian.
Saya juga pernah mendengar pernyataan "Orang itu kalo cari pacar ya yang bisa diajak seneng-seneng, kalo yang serius pengen dinikahi ya yang bisa diajak susah". Banyak orang yang dengan sungguh-sungguh memikirkan pasangan hidup, suami atau istri. Banyak hal yang dipikirkan. Apakah ia dapat menjadi suami atau istri yang baik, menantu yang baik, ayah atau ibu yang baik bagi anak-anaknya kelak. Bagi hampir semua orang, pernikahan adalah momen yang sakral, sekali seumur hidup, ada rasa malu jika gagal, akan banyak sakit jika salah pilih. Berbeda dengan pertimbangan saat mencari pacar bukan?
Ada cara yang lebih bijak untuk mengenal orang lain termasuk orang yang ingin dijadikan pasangan hidup. Tak perlu dari hubungan tanpa jaminan yang dinamakan pacaran. Dari cara ia memperlakukan orang lain, aktivitasnya, buku yang ia baca, cara pandang atau cara berpikir, bagaimana ia membuang sampah, bagaimana ia makan, bagaimana foto-fotonya, bagaimana ibadahnya, bagaimana ia berjalan, dan bisa saja menanyakan pendapat teman-temannya tentang ia jika memang tujuannya baik dan serius. Perlu diingat bahwa melihat tampilan yang nampak juga harus cerdas, suatu tampilan tak dapat sekonyong-konyong dihubungkan dengan sifat-sifat tertentu.
Mengenai sikap, tidak cukup hanya bagaimana sikapnya terhadap satu orang saja, namun bagaimana sikapnya terhadap banyak orang. Jika Anda memang ingin serius, Anda dapat menanyakan langsung hal-hal yang ingin Anda ketahui, misalnya tentang bagaimana bayangan atau harapan tentang masa depan dan keluarga yang ia akan miliki nantinya.
Ketika dua orang yang ingin bersama memiliki tujuan yang sama dan memiliki pedoman pencapaian yang sama, banyak hal dapat didiskusikan agar hidup mereka dapat berjalan selaras. Ini yang menjadikan perjodohan tak selalu identik dengan pemaksaan seperti kisah Siti Nurbaya.
iya sus, bahkan ada yang rela-relain 'jadi orang lain' cuma demi pacar, seakan beauty itu cuma dilihat dari luar.
ReplyDeletecan't they just be theirselves? -_-"
ditunggu part 3 nya yah :D