"When your head gets noisy, write it down" turn out it looks like a complaining and crazy blog now. It was blog full of critical thinking, social cause awareness, motivation and other positive energy. But at a point, it flipped 180 degree, there some posts tried to back to those "positive energy only", but not yet succeeded. Keep fall and fall. Anyway, dont you think write down your crazy thoughts here is better than to mainstream social media?

Sunday, May 31, 2015

"Biar ada yang nafkahin"

Sumber gambar: http://statis.dakwatuna.com
Ada yang aneh dari pembicaraan dengan seorang ukhti disuatu malam. Merasa aneh tapi tak dipikirkan. Oke, saya coba pikir, apa yang aneh? Satu pernyataannya saat membicarakan rencana setelah lulus. Ya, kurang lebih inti yang disampaikan adalah "Beasiswa kan cuma empat tahun, abis itu nggak ada, kalo mau lanjut setahun lagi atau telat lulus, nikah aja kali ya biar ada yang nafkahin". At that time, I prefered to just listen and not thinking about anything. But, whats wrong? why it sounds strange for me? Ah yes, about the reason for get married. Ya, mungkin tak seserius itu teman saya menyampaikan hal demikian, mungkin sekedar candaan (yang jika memang terjadi ya mungkin menguntungkan #eh). Saya jadi berpikir, mungkin memang ada kali ya wanita yang berpikir demikian. Mmm mungkin sih.

Suatu hari, saya berbelanja di supermarket, saya melihat seorang wanita sedang hamil (berpakaian minim *nggak penting sih) bersama ibunya (ya atau mertuanya lah). Mendorong troli belanja dan mengambil belanjaan sesukanya, terkadang nampak paras ketus *nggak penting lagi. Entah ada hubungannya atau tidak, seketika saya lantas berpikir.. mm bukan menduga-duga bagaimana mereka yang saya lihat, namun tiba-tiba saya membayangkan, rasanya-rasanya lebih membanggakan ya menjadi wanita mandiri, tidak bergantung pada orang lain. Berbelanja dengan uang sendiri, tidak merepotkan orang lain, tidak serta merta memakan jirih payah orang lain.

Dalam konteks seorang istri, saya pikir hanya nyaman menggunakan uang suami untuk keperluan rumah tangga, bukan belanja pribadi seperti memenuhi kebutuhan keluarga ayah ibu, adik-adik, ponakan, beli baju, tas, liburan, jajan, dll. Kita bebas membelikan orang-orang sesuatu yang ingin kita beri dengan uang sendiri. Tentu yang juga harus digaris bawah adalah bahwa kemandirian itu bukan alat untuk menuntut macam-macam pada suami, bukan excuse untuk melalaikan atau meninggalkan kewajiban sebagai seorang istri, apalagi seorang ibu. :)

No comments:

Post a Comment