Hampir empat tahun lalu, ketika dalam perjalanan ke Sabuga untuk peresmian mahasiswa baru, aku ingin segera bekerja, mendapat uang tidak dengan cuma-cuma sehingga cepat dapat membantu mengisi dapur rumah juga untuk pendidikan adik-adik. Demikian yang ada dibenakku. Kala itu, empat tahun serasa akan sangat lama. Hari itu tiba, akhir empat tahun. Aku ada di tahun terakhir empat tahun tadi. Sama sekali tak mudah. Ya, seperti apa yang aku sangkakan sejak beberapa semester lalu. Jika ada yang bilang lulusan ITB itu sudah terjamin pekerjaannya, itu sama sekali tidak benar. Ya, hal itu mungkin berlaku bagi mahasiswa-mahasiswa keren tertentu dan itupun juga karena merekanya, bukan jaminan ITB. ITB itu institusi pendidikan, mendidik dan menyediakan fasilitas belajar dengan sebaik-baiknya, adapun masalah bagaimana kedepannya, itu kembali ke masing-masing dari mahasiswanya. Di ITB, ada lembaga career center yang menurut penilaian saya, itu sangat keren dengan kerapihan sistem dan berbagai pelayanan yang ada. Kembali lagi, career center pun hanya menjembatani pertemuan pencari pekerjaan dan pencari tenaga kerja. Masalah akan ada kerjasama atau tidak, itu sudah urusan dua pihak tadi.
Bulan oktober lalu, aku berkesempatan menjadi panitia Job Fair di ITB sebagai LO sebuah perusahaan. Alasan utama ikut adalah ingin tahu bagaimana perusahaan memandang pencari kerja. Ya, memang tak sepenuhnya dapat melihat dari kacamata itu tapi setidaknya aku berada disisi yang berseberangan dengan pencari kerja. Dari sana, yang awalnya (dan sampai sekarang sih) sedikit risih (tidak nyaman) menenteng map, berpakaian rapi bahkan dandan necis ala pekerja kantor, kini aku memandang itu cukup perlu. Ya, ketika ada yang datang dengan pakaian rapi, itu nampak lebih meyakinkan daripada yang tidak. Apalagi jika ditambah dengan gaya bicara yang juga meyakinkan. Dari sana juga, aku jadi sedikit parno karena ada yang mendaftar dengan kronologi: menyerahkan CV kemudian bertanya "Ini perusahaan apa ya?" batinku, "segitu susahnya ya cari pekerjaan? T_T". Tapi menurutku, sesulit-sulitnya cari pekerjaan, seharusnya kita tahu pekerjaan apa yang ada di depan dan jika diterima akan bekerja seperti apa. Tapi kurang tahu ya, jangan-jangan hal yang sama akan terjadi di ujung lelah pengembaraan pencarian kerja, asal tembak, ah semoga tidak.
Kesempatan memang banyak, tapi tak banyak untukku. Jikapun ada kesempatan, belum juga rizkinya punyaku. Sampai detik ini, sudah 18 aplikasi pekerjaan yang aku masukkan dan 11 diantaranya telah gagal. Ini adalah bulan ke-4 semester terakhirku. Mendapat pekerjaan segera setelah lulus, statusnya adalah darurat untukku. Aku sampai konsultasi karir ke psikolog. Hasilnya, "ah, baru belasan, yang lain bisa jadi udah puluhan". Ya, jika banyak dari teman-temanku yang sebelum lulus bahkan sudah menandatangani kontrak, ada juga kawan-kawan yang sudah lulus berbulan-bulan lalu, kini masih dalam perjuangan memperoleh sumber penghidupan tadi. Berputus asa a.k.a menganggap diri tidak mampu, berpikir "apa ada yang mau ngasih aku kerja?", "da aku mah apa atuh" adalah hal yang hanya akan memberi suasana bahkan impact negatif.
Memang tak banyak yang bisa diubah jika syarat-syarat pekerjaan yang diimpikan adalah berkaitan dengan perjalanan selama empat tahun silam, namun demikian masih ada yang bisa diubah dan masih banyak yang bisa dijalani. Ya, semacam belum ketemu jodoh aja. Hasil treacer study oleh career canter ITB tahun 2014 menyebutkan bahwa dari 1360 orang yang mencari kerja, 675 mencari sebelum lulus, 685 mencari setelah lulus. Ada yang 60 bulan sebelum lulus sudah mencari kerja, ada yang 35 bulan setelah lulus. Nah, ini nih, waktu tunggu mendapat pekerjaan sebelum lulus, rata-rata 3,27 bulan bagi yang sebelum lulus dan 4,21 bulan bagi yang dapat setelah lulus. Rata-rata perusahaan yang dilamar, untuk 3 perusahaan itu 18,89%, untuk yang tidak melamar (berarti dilamar) 8,41%, nah yang lebih dari 10 perusahaan itu ada 19,68% (paling banyak berapa ya?). Nah, sekarang, berapa lama kita dapet pekerjaan dan perusahaan keberapa tinggal tunggu waktunya, atau malah akhirnya kita tidak bekerja di perusahaan manapun. Ya, katanya rizki sangat bisa akan datang dari arah yang tidak kita duga. Semuanya kembali ke rumus dasar: berusaha dan berdoa.
No comments:
Post a Comment