Terlalu mulia kata ikhlas.
Jika itu ujian, maka aku telah menerimanya dengan lapang dada.
Jika itu sebuah kesalahan, maka aku telah memaafkannya.
Aku tak pernah menyalahkan siapapun. Malah aku kasihan. Kasihan, karena aku tahu, mereka akan merasa jauh lebih baik jika tak punya dorongan untuk melakukannya. Atau memiliki cara yang jauh lebih baik. Mungkin mereka memang tak tahu. Mereka juga bukan manusia beruntung yang diberitahu.
Tapi seberapapun maaf yang ada, ternyata aku bukan manusia super. Yang mampu memuluskan sayatan-sayatan dada yang begitu banyak dan dalam. Nyeri perih bisa kapan saja menghampiri. Mungkin aku salah telah memeliharanya, tapi.. bagaimana aku bisa mematikannya? aku tak bisa.
Sudahlah, biar ini menjadi ladang pahala. Upaya menahan alam bawah sadar untuk tidak melakukan hal yang sama. Menyayat hati-hati lain, tanpa sadar. Biarlah ini menjadi nyeri yang selalu bisa membuat aku menangis di sepertiga malam. Membuat aku memiliki bahan perbincangan denganNYA. Membuat aku bisa bersungguh-sungguh meminta senyum untuk hari nanti. Meminta manis penawar pahit.
No comments:
Post a Comment