"When your head gets noisy, write it down" turn out it looks like a complaining and crazy blog now. It was blog full of critical thinking, social cause awareness, motivation and other positive energy. But at a point, it flipped 180 degree, there some posts tried to back to those "positive energy only", but not yet succeeded. Keep fall and fall. Anyway, dont you think write down your crazy thoughts here is better than to mainstream social media?

Wednesday, July 9, 2014

Maaf Membebaskan Salah, Tak Menghapus Rekam Jejak

Tak asing lagi mengenai satu cerita ini. Mengenai paku yang ditancapkan pada kayu. Paku bisa saja dicabut dari kayu tersebut. Namun, bekas lubangnya, tetap ada. Semakin banyak paku yang ditancap, semakin banyak lubang yang tertinggal. Semakin merusak kayu.

http://katadishya.blogspot.com/

Jangankan sikap sehari-hari yang telah terbentuk dalam diri kita, satu sikap yang pernah kita lakukan saja dapat turut andil dalam penilaian orang lain terhadap kita. Penilaian ini sangat bisa jadi menjadi dasar sikap orang lain terhadap kita. Singkatnya, sikap orang lain bisa jadi merupakan respon dari sikap kita terhadap mereka. Baik dengan sadar maupun autopilot.


Saya pernah merasa bersalah pada seseorang. Saya berpikir, jika saya tidak melakukan apa yang saya pikir sebagai kesalahan tadi, mungkin sikapnya akan lebih baik. Lebih seperti yang saya harapkan. Hmm padahal saya sendiri tak tahu apa benar demikian. Apa benar dia merasa tak nyaman dengan sikap saya. Saya memutuskan untuk minta maaf, maaf atas segala salah dan ia memaafkan. Namun, sikap yang saya harap tadi tidak terjadi. Ya sudahlah, yang penting saya tak terbebani lagi dengan perasaan bersalah.

Pun demikian halnya ketika saya meminta maaf pada seseorang karena saya merasa bersalah. Ia balik minta maaf pada saya. Kami saling memaafkan. Namun, ada satu sikapnya yang dulu membuat saya tak nyaman sehingga saya memutuskan untuk memilih sikap tertentu padanya terkait hal yang tidak nyaman tadi. Sikap saya tidak berubah setelah kami saling memaafkan. Tentu ini adalah sikap yang baik sehingga bersikap demikian hingga kini tak ada salahnya. Padahal jika sikapnya dulu itu tak terjadi, adsa kemungkinan sikap saya tak seperti ini. Dan satu hal lagi, sikap yang dulu itu, tetap melukai, tetap tak nyaman ketika diingat.

Saya tak tahu. Apakah memaafkan dengan tetap ingat akan kesalahan orangl ain, bahkan masih merasa tak nyaman, itu dapat dikatakan memaafkan. Tapi seperti itu kenyataannya. Saling memaafkan dapat memperbaiki hubungan, dapat meringankan beban pikiran dan membebaskan dosa namun tak akan menjadikan hubungan seperti jika tak ada salah.

Mungkin seperti itulah hidup. Hal yang dapat dijadikan pelajaran adalah mencobalah menghindari sikap-sikap yang tidak baik. Baik itu sikap maupun respon dari sikap. Sebab maaf dapat membebaskan salah namun tak akan dapat menghapus rekam jejak.[]     

No comments:

Post a Comment