"When your head gets noisy, write it down" turn out it looks like a complaining and crazy blog now. It was blog full of critical thinking, social cause awareness, motivation and other positive energy. But at a point, it flipped 180 degree, there some posts tried to back to those "positive energy only", but not yet succeeded. Keep fall and fall. Anyway, dont you think write down your crazy thoughts here is better than to mainstream social media?

Wednesday, September 30, 2015

Start Kita Berbeda

Banyak anak "terlahir" bersama rasa takut. Saya tidak tahu, apakah itu bawaan atau sebenarnya terbentuk setelah lahir. Terbentuk oleh lingkungan saat mereka masih kecil. Dan kita tahu pengalaman saat kecil itu, bagai ukiran di atas batu, terkondisikan dan mengakar dalam diri. Sulit dihapus. Sangat sulit. Mana ada bayi bisa memilih lingkungan yang positif, yang mampu menjadikannya seorang pemberani. Tak mungkin pula mampu menyaring. Ia hanya akan menyadari saat banyak masalah muncul karena rasa takutnya. Hidup menjadi begitu keras untuk seorang penakut. Takut kecoa? ular? kodok? cicak? Bukan!. Takut bertanya pada teman, takut berdiskusi dengan dosen, takut memperjuangkan pilihan pada orang tua, takut berbeda dengan lingkungan, takut dimarahi, takut salah, takut gagal, takut, takut, takut..... Begitu juga dengan "penyakit" lainnya. Malu, mudah tersinggung, tidak bisa survive pada tekanan, malas, murung, tidak bisa melupakan masa lalu, trauma, semuanya, sifat-sifat yang oleh banyak orang yang lain dianggap sebagai sesuatu yang aneh, tidak masuk akal. "Apa sih gitu aja takut, gitu aja malu, gitu aja tersinggung, gitu aja capek, gitu aja nggak bisa, gitu aja masih dipikirin, gitu aja... gitu aja...". 

Mereka yang nampak masih lebih takut, lebih malu, lebih tidak sanggup, belum tentu karena usahanya lebih kecil. Bisa jadi, usahanya untuk sampai ketitik saat ini, ratusan kali lipat lebih besar. Iya, karena titik awal kita berbeda. Start kita berbeda. Dari segi apapun. Harus melawan diri sendiri dulu, harus belajar dari orang lain dulu, harus latihan dulu, harus struggling dengan finansial dulu, harus ini itu yang orang lain tak perlu lakukan karena mereka sudah punya, sudah diberi, sudah dilatih.

Tapi sayang, dunia tak sepengertian itu, sulit melihat di mana start setiap orang. Yang bisa orang lihat adalah hasil. "Apresiasi" adalah untuk mereka yang hasilnya lebih baik. Sangat salah jika kita, pemilik start yang jauh di belakang, tak mencoba untuk menyusul. Bukan, bukan untuk mendapat penghargaan, untuk menggenapkan hidup. Kita akan kesulitan jika tidak bertanya pada teman, tak akan lebih piawai jika tak berdiskusi dengan dosen, kehilangan kenikmatan berjuang jika menyerah, tak akan punya jati diri jika takut berbeda, tak akan menjadi lebih baik jika takut dimarahi, takut salah, takut gagal, malu, malas, tidak tersenyum, tidak bisa move on.

Since others don't know how hard for you to just start the first step to meet your adviser, to take a pen to start study, to say one word to start speaking, appreciate your self. Its impossible to tell them whats going on you, what happened on your past, right?  There is just one who can appreciate: your self! But, also think about this, if you see people who stay ahead us, it doesnt mean they have start far away ahead us too, it can be, they have try as hard as possible, as hard as they can. Will you, right? Appreciate your self for your hard work and keep moving forward.

No comments:

Post a Comment