Dari sekian banyak mata kuliah, pelatihan, kaderisasi, pembinaan dan segala bentuk pendidikan yang lain, satu pelajaran ini yang paling penting bagiku. Membuka diri. Bukan hanya membuka pikiran dan hati namun seluruh diri. Maksudku bukan 'terbuka' dalam artian mau cerita ini itu ke orang lain. Namun, bahwa ada keputusan yang harus kita ambil dengan bijak, harus lebih dewasa, tak boleh childish, tidak membiasakan diri mencari-cari alasan, tidak menuruti malas, tidak menjadi pengecut, mau capek, dan yang paling penting mau mengakui bahwa kita punya sifat buruk dan mau berubah menjadi orang yang lebih baik.
Saat tingkat 2, saya merasa sangat lelah dengan kegiatan di kampus. Saya merasa akademik saya terlalu jelek, ada kegiatan organisasi yang saya tidak suka, beasiswa selalu telat 3 bulan setiap semesternya, saya tidak nyaman dengan hutang yang punya dan saya khawatir apakah saya bisa keep up untuk tahun-tahun berikutnya. Saya sempat berpikir untuk keluar dari ITB dan pindah ke tempat di mana saya bisa punya banyak waktu luang dan tetap bisa menjadi top scorer dalam akademik. Saya juga seperti membisiki diri saya untuk mengikuti jejak kisah2 inspiratif orang-orang yang berani ambil risiko untuk mengejar apa yang mereka sebut passion. Contoh ekstrim adalah rela DO dari universitas terkemuka kemudian melakukan apa yang mereka suka.
Namun saya juga berpikir. Jika saya benar-benar keluar, apakah ada jaminan hidup saya akan lebih baik? Kisah2 tadi menjadi inspiratif karena mereka punya happy ending yang sejalan dengan yang mereka inginkan. Tentu tidak akan menjadi kisah yang disebarluaskan jika ternyata akhirnya adalah sad ending. Kita tidak tahu berapa banyak sad ending yang tersembunyi di luar sana. Saya percaya ketika seseorang sangat yakin dan mau berusaha sangat keras untuk mengejar mimpinya, entah seperti apa akhirnya, Tuhan akan memberikan kesuksesan padanya. Namun untuk kondisi saya saat itu, saya sendiri tidak yakin saya ingin keluar untuk mengejar mimpi saya. Malah saya berpikir, sebenarnya saya hanya ingin lari menghindari sesuatu yang saya takuti, menghindari tekanan dan tuntutan yang saya tidak mau berusaha menyelesaikannya. Terlalu malas mengusahakannya bahkan terlalu pengecut untuk menghadapinya. Padahal jika mau berpikir positif, dengan berusaha menghadapi segala masalah yang ada itu sama saja dengan kita belajar, kita menambah kapasitas diri kita.
Butuh proses berbulan-bulan untuk mantap menyadarinya. Sebelum itu, yang dengan cepat muncul di benak saya adalah.. "Di sini kamu hidup dengan uang rakyat. Termasuk petani di desa yang dulu kamu lihat mereka bekerja di sawah setiap hari, makan pas-pasan namun tetap patuh membayar pajak. Jika saya keluar dan mencari tempat yang baru, apakah kemapanan saya akan lebih cepat terwujud? saya ingin segera membantu keluarga saya. Segera dan sesegera mungkin". Jika kita bilang kita rela berkorban dan rela berjuang namun tidak mau merasa sakit itu namanya bullshit. Pengorbanan dan perjuangan itu ya rasanya tidak enak.
Selimut dan guling jauh lebih menarik daripada... (draft 3 tahun lalu :)). Selimut dan guling jauh lebih menarik daripada melangkahkan kaki ke kelas, belajar bareng sama temen, rapat organisasi ini itu. Mutlak. Atau engga selimut dan guling deh, kadang ngerasa "sibuk" aja gitu ada kerjaan di kosan. Tapi kalo mau berpikir lagi, kadang misal dateng rapat, sejam dua jam, kadang kalo kita bertahan ada di kosan, sejam dua jam bisa jadi cuma buang-buang waktu, prokrastinasi, mau ngerjain tugas atau belajar tapi belok sana sini, nonton, tidur2an, dll. Jadi ringankan diri aja, ngga usah cari alasan ini itu.
Atau takut ketemu orang, ketemu dosen, takut punya masalah, takut dimarahi, takut ngga bisa, takut ngga selesai, takut takut takut... ketika di jalani, sering kenyataannya ngga semenakutkan yang dibayangin. Ya, belajar untuk tidak menjadi pengecut aja, ngga perlu cari alasan ini itu, bohong ini itu. Belajar...
Tuh Sus dengerin! :)
Atau takut ketemu orang, ketemu dosen, takut punya masalah, takut dimarahi, takut ngga bisa, takut ngga selesai, takut takut takut... ketika di jalani, sering kenyataannya ngga semenakutkan yang dibayangin. Ya, belajar untuk tidak menjadi pengecut aja, ngga perlu cari alasan ini itu, bohong ini itu. Belajar...
Tuh Sus dengerin! :)
keren kontennya, terimakasih
ReplyDelete