"When your head gets noisy, write it down" turn out it looks like a complaining and crazy blog now. It was blog full of critical thinking, social cause awareness, motivation and other positive energy. But at a point, it flipped 180 degree, there some posts tried to back to those "positive energy only", but not yet succeeded. Keep fall and fall. Anyway, dont you think write down your crazy thoughts here is better than to mainstream social media?

Sunday, June 21, 2015

Serpihan Mozaik Jadi Sarjana #2 Jangan Rakus

Lanjutan yang #1. Dimasa saya tidak ada uang, sebenarnya saya sempat berpikir bagaimana saya mendapat pinjaman atau beasiswa lain. Saya tidak minta ke rumah karena tak mau, saya rasa uang yang saya bawa saat saya berangkat ke Bandung itu sudah terlalu banyak untuk ukuran keluarga saya. Saya juga tak mungkin rewel kepada kampus karena beasiswa belum turun, saya tahu, mereka sudah mengusahakan yang terbaik, mereka membebaskan uang kuliah yang ratusan bahkan mau memberikan saya biaya hidup.

Saya pernah menyampaikan ke seorang teman, yang saya tahu dia orang yang berada, niatan meminjam uang. Tapi dia malah bingung, tidak menjawab apa-apa,  hanya senyum-senyum tertawa. Saya sudah lama mengenalnya, dia anak yang baik, sungguh, tapi mungkin dia memang tak terbiasa bahkan tak tahu perihal pinjam-meminjam uang, berbeda dengan lingkungan saya di rumah yang hutang di warung sana sini, pinjam uang sana sini itu sudah biasa, sudah tahu sejak kecil. Akhirnya saya yang mengakhiri kebingungannya, mengakhiri permintaan itu. Tidak jadi pinjam. Saya juga penah punya niatan menanyakan beasiswa di sebuah divisi di masjid kampus, tepatnya yang menangani kemahasiswaan.

Sebenarnya saya ingin beasiswa yang tidak cuma-cuma, saya ingin yang seperti bekerja. Tapi saya tak tahu kala itu ada atau tidak. Saya selalu ragu jika ingin bertanya ke lembaga tadi, selalu saya tunda-tunda, takut merepotkan, takut sebenarnya itu hanya uangkapan kecengengan. Suatu hari sudah hampir bulat, saya duduk di bawah tangga kayu masjid sambil melirik-lirik ke arah pintu ruangannya. Seseorang ada di sebelah saya. Seorang kawan yang saya kenal saat menjadi panitia ramadhan di masjid tersebut. Saya lapangan, dia lebih ke officenya. Saya meminta pendapatnya. Kira-kira di 'sana' ada beasiswa nggak ya? atau yang sambil-sambil kerja gitu. Saya ceritakan niatan saya. Kami penerima beasiswa yang sama, yang saya ceritakan sebelumnya, belum turun. Saya ingat apa yang ia sampaikan. Intinya kamu kan udah beasiswa dari kampus, jangan rakus.

Rakus. Jleb, saya tak menyangka, kalimat itu bisa keluar dari seorang akhwat berjilbab lebar yang aktif dikegiatan keagamaan. Tapi saya lantas berpikir, mungkin memang benar, saya rakus jika masih mengharap beasiswa lagi. Saya anggap itu petunjuk. Akhirnya saya kubur dalam-dalam niatan itu. Meski demikian, sekitar satu setengah tahun kemudian, saya tahu dia mengajukan beasiswa dilembaga yang saya maksud tadi dan sayangnya, saya dengar komplain dari rekan kerja timnya akan tanggungjawabnya dalam menjalankan kewajiban terkait beasiswa yang diterima. Ya, beasiswa itu bukan beasiswa cuma-cuma, ada tanggungjawab yang harus dilaksanakan. Bukan apa-apa, kenyataan itu cukup menjadi obat kejadian satu setengah tahun sebelumnya. Saya tak seburuk itu.

No comments:

Post a Comment