"When your head gets noisy, write it down" turn out it looks like a complaining and crazy blog now. It was blog full of critical thinking, social cause awareness, motivation and other positive energy. But at a point, it flipped 180 degree, there some posts tried to back to those "positive energy only", but not yet succeeded. Keep fall and fall. Anyway, dont you think write down your crazy thoughts here is better than to mainstream social media?

Saturday, June 20, 2015

Serpihan Mozaik Jadi Sarjana #1 Pengen Bunuh Diri #1

Sumber gambar: tweaker.org
Bukan, bukan saya. Orang bilang, manusia hidup itu nggak boleh takut mati. Tapi jujur, saya takut mati, makanya nggak mungkin saya mau bunuh diri. Saya cuma mau cerita tentang rasa ingin bunuh diri, yang kini saya mengerti, seperi karena sakit atau mahasiswa yang sedang depresi Tugas Akhir (skripsi). Let me tell both experiences. Sebelum kuliah, saya beberapa kali melihat berita orang yang bunuh diri karena katanya (kata tetangga yang meninggal), punya sakit yang tak kunjung sembuh, bertahun-tahun. Bukan sakit yang mematikan, sakit yang setiap hari di rasakan dan bertahun-tahun. Saya selalu berpikir "ngapain bunuh diri sih, kan nggak nyelesain apa-apa, masuk surga juga kagak, coba lebih tenang ngadepinnya, lebih ikhlas". Ah, saya terlalu angkuh atau egois mungkin, harusnya lebih empati.

Ya, diawal kuliah, saya sakit kaki, tepat dimulai saat peresmian mahasiswa baru, hingga 3 bulan kuliah pertama saya. Hampir 10 kali ke dokter tapi tak kunjung sembuh, obatpun tak sampai menghilangkan setengah rasa sakitnya. Setiap bangun tidur, saya ke kamar mandi, ngapain? nangis dulu, nggak enak nangis dikamar karena saya berbagi kamar dengan dua teman yang lain. Nangis karena sakit. Saya berhenti berobat setelah beberapa kali karena sudah tidak ada uang, saat itu beasiswa belum turun. Diakhir massa, untuk menghemat uang, saya ke kampus berjalan kaki, dengan kaki pincang. Jaraknya sekitar 1,5 km. Saya alokasikan uang transport untuk pulang saja karena saat pulang badan lebih letih. Uang semakin menipis, saya hanya beli kerupuk untuk makan. Bukan gimana-gimana, kerupuk sama nasi enak kog, nasi kerupuk itu makanan yang lumrah aja di rumah. Beras kami masak sendiri, kami masih punya stok beras, meskipun di akhir-akhir juga habis, teman saya yang beli dulu, saya tunda iuran.

Sudah makan pakai kerupuk, berangkat jalan kaki, uang tentu masih makin tipis, beasiswa belum juga turun.  Saya ingat, kala itu malam hari, saya pulang dari kampus jalan kaki, sendirian. Uang masih sekitar 5000 rupiah. Saya mampir ke sebuah minimarket di jalan Dago. Saya beli lauk. Garam, seharga 2200 saya ingat. Ah tak ada yang lebih murah. Bukan hal yang aneh juga, nasi garam, nasi kelapa, nasi kuah sisa, nasi krepek juga sudah biasa di rumah. 

Seorang teman sekamar, melihat saya beberapa kali makan seadanya, dia juga tau saya jalan kaki meskipun kaki saya sakit. Saya lupa kejadian ini saat saya masih makan kerupuk atau makan dengan garam. Dia bernasib sama dengan saya sebenarnya, hanya saja, dia masih mendapat support dari rumahnya, tidak banyak, kala itu sama, uangnya juga pas-pasan, harus selalu berhemat. Jika saat masih ada uang, saya beli ayam goreng (baca: *FC pinggir jalan, yang keliatan gede karena tepungnya tebel) untuk dua kali makan, dia bisa untuk makan tiga kali. Dia memberi saya uang 5000 rupiah, saya bilang nggak usah, dia taruh saja uangnya di kasurku. Ah, padahal dia juga nasibnya sama. Beberapa minggu kemudian, uang beasiswa turun. Saya lupa itu beasiswa atau talangan dulu dari kampus. Apapun itu, apa yang bisa saya ekspresikan selain tangis syukur? Dan saya bisa ganti uang 5000 yang teman saya beri. Sampai sekarang, kami masih berteman, masih saling memberi, tapi seberapa kali lipatpun besar yang saya berikan, sampai sekarang, uang 5000 itu tak penah bisa terbalas.

Hubungannya sama bunuh diri? ya di saat-saat saya merasakan sakit, saya benar-benar tau, bagaimana rasa mereka yang sakit berkepanjangan. Tiga bulan terasa amat lama, saya bahkan berpikir, sakit saya akan saya rasakan sampai mati. Tapi itu hanya sepersekian dari mereka yang bertahun-tahun merasakan sakit, tidak bisa berobat karena tidak ada uang apalagi mereka yang ditambah dikucilkan oleh warga karena sakitnya. Bunuh diri jelas salah, tapi mereka yang memutuskan bunuh diri, saya mengerti mengapa.

No comments:

Post a Comment