Allaah give me chance to experience some times that I should just accept everything eatable food without considering the taste. Rice with grated coconut, krupuk, or even just with salt. Only in my childhood? No, I experience it on certain moments until my end of college period (and I just graduated actually). I really thank to Allaah about that and I think its the way Allaah Teach me to always thanks for the food. Untuk mensyukurinya, tidak membiarkannya mubadzir dan tidak sekedar menjadikannya pemuas lidah.
Well, I know not all people have same perspective as me about food. saya ingat, ada kalimat 'dihabiskan makannya, nanti makanannya nangis' yang saya dengar ketika kecil. Bertambah umur, ada orang tua yang akan memarahi jika makanan tak dihabiskan (jujur saya kurang suka sih cara konvensional orang tua mendidik anak dengan memarahi, tapi ternyata kesan "menghabiskan makanan itu tidak boleh" cukup membekas). Lebih dewasa lagi, ada nasihat bahwa dulu, Rasulullaah bahkan menyuruh agar mengambil makanan yang terjatuh (dengan dibersihkan dahulu), menghabiskan seluruh makanan yang ada dipiring bahkan sampai sisa-sisa makanan di jari.
“Karena kalian tidak mengetahui di bagian makanan kalian yang manakah keberkahan itu berada.” Begitu Rasulullah menyampaikan. Bisa jadi yang sudah di makan, bisa jadi pada butir nasi terakhir yang dimakan bahkan bisa jadi pada makanan yang tersisa kemudian terbuang.
Ada beberapa kemungkinan masih banyak orang dengan mudah menyisakan makanan yang sudah mereka ambil,
Pertama, sudah kenyang. Diukur atuh ngambilnya -_-. Aku pengen ngambil banyak jenis lauk, oo berarti porsinya dikit-dikit. Kalo lauknya udah segini, oo berarti ambil nasinya segini aja. 'Kan udah diambilin', misal nasi kotak. Biasanya, saya tidak akan makan semua lauknya, akan saya sisakan lauk utuh dan saya bawa pulang (lumayan jadi nggak usah beli lauk lagi). Kalo makan ditempat makan, bisa lho minta dibungkus sisa makanannya. Ih bawa-bawa sisa makanan, dasar mental susah. -_-. Saya rasa, mengusahakan sedemikian rupa agar tidak ada makanan mubadzir itu salah satu bentuk syukur.
Kedua, tidak menyukai makanannya. Ya ngapain di ambil -_-. 'Ih dibilangin itu udah diambilin'. Ya udah, bisa di kembalikan (tidak diambil), bawa pulang trus dimodif (masak ulang) atau kasih temen, kucing, ikan, atau peliharaan yang lain. Suka nggak suka memang relatif sih, tapi seberapa nggak suka sih sebenrnya? Awas aja kalo nggak sukanya karena hal-hal nggak masuk akal. "Nggak doyan, abis tempenya diiris 1cman, aku sukanya 5cm.", "Nggak nafsu, soalnya warna wortelnya orange, bukan pink" -_-. Minta ditabok. Sama lah sama alasan-alasan manja yang lain.
Coba dipikir lebih dalam lagi, itu bisa jadi hanya karena belum terbiasa menghargai makanan lho. Dulu, saya punya makanan yang tidak saya sukai, yaitu ati. Selama bertahun-tahun, ketika ada ati di makanan saya, saya mengira ati tersebut telah busuk sehingga tidak saya makan. Ternyata, kata ibu saya, saya memang tidak suka ati, bukan karena atinya busuk. Semenjak itu, ya kalo memang ada ati di atas piring makan saya, ya saya makan, karena saya tau itu makanan masih baik, yaa mentok-mentok saya kasih ke sebelah saya.
Ya, tak selalu badan kita fit, sekali dua kali kita sangat sensitif terhadap makanan, tidak sanggup menghabiskan makanan yang ada. Jika memaksa dihabiskan malah akan memberi dampak buruk. Yaa, okelah sekali dua kali. Tapi kalo keseringan kan namanya kebiasaan, dan itu kebiasaan buruk, belum bisa memanage diri. Mau sampai kapan?
Ya, tak selalu badan kita fit, sekali dua kali kita sangat sensitif terhadap makanan, tidak sanggup menghabiskan makanan yang ada. Jika memaksa dihabiskan malah akan memberi dampak buruk. Yaa, okelah sekali dua kali. Tapi kalo keseringan kan namanya kebiasaan, dan itu kebiasaan buruk, belum bisa memanage diri. Mau sampai kapan?
Ketiga, nggak diajarin sama orangtuanya. Aduh yang ini agak provokatif ya bawa-bawa orang tua. Ya tapi memang bisa jadi. Ia tidak dididik untuk menghargai makanan dari kecil sehingga tidak punya konsep dasar akan itu dan tentu tidak menjadi kebiasaan hingga dewasa.
Keempat, tidak tau bagaimana ajaran agama melarang kita menyia-nyiakan makanan agar kemudian bisa mendapatkan berkahnya. Berkah makanan itu bagaimana sih? Kalau menurut saya, makanan yang berkah akan memeberikan manfaat terutama untuk tubuh kita sendiri. Menjadi energi yang baik untuk kegiatan sehari-hari, menguatkan daya tahan tubuh sehingga tidak mudah sakit, tidak tertimbun dalam tubuh sebagai zat yang buruk. Jika kita merasa sudah makan banyak dan bergizi namun tetap sakit-sakitan atau malah cuma bikin gemuk, mungkin alasan ini bisa dipertimbangkan, hehe. Keberkahan makanannya tertinggal.
In Shaa Allaah, saya berusaha menghindari yang namanya makanan mubadzir. Bukan lagi rasa dan warna yang menjadi pertimbangan. As long as makanan itu baik (tidak basi misal) dan tidak akan membuat saya muntah (kalo mual-mual dikit nggak apa lah) atau sakit yang lain, in shaa Allaah, saya melatih diri untuk tidak membuatnya sia-sia. Jika mengharapkan keberkahan dinilai pamrih, maka itu menjadi bentuk syukur saya. Syukur yang katanya meliputi tiga unsur, dalam hati, dalam ucapan dan dalam perbuatan. Ya, syukur itu harus ada aksinya.
When food is not the matter of taste again. Ada orang-orang yang bisa hanya memakan sayur mentah, buah, makanan yang hambar dan makanan-makanan yang menurutnya sehat untuk menjaga kesehatan mereka. Makanan bukan lagi sekedar memenuhi nafsu, pemenuh perut dan pemuas lidah. Ada orang-orang yang bisa menelan makanan yang menurut kebanyakan orang tidak enak karena yang dipikirkan sudah bukan rasa namun seberapa besar kebaikannya, keberkahannya. Kita yang bisa makan setiap hari bahkan bisa memilih makanan, lagi-lagi, hargailah, sebelum Allaah mengambilnya atau bahkan mengajari kita dengan cara yang menyusahkan kita.
![]() |
| sumber gambar: www.flickr.com |


No comments:
Post a Comment