"When your head gets noisy, write it down" turn out it looks like a complaining and crazy blog now. It was blog full of critical thinking, social cause awareness, motivation and other positive energy. But at a point, it flipped 180 degree, there some posts tried to back to those "positive energy only", but not yet succeeded. Keep fall and fall. Anyway, dont you think write down your crazy thoughts here is better than to mainstream social media?

Monday, April 6, 2015

“Udah Lulus Mau Kemana?” “Kami Mau Bekerja”

Bersyukurlah kalian yang bisa memilih memperjuangkan S2, mungkin bukan kalian tulang punggung setelah orang tua kalian. Selamat berjuang dan semoga diterima ditempat impian kalian. Bersyukurlah kalian yang nyaman menunda bekerja untuk menikah dan punya anak, mungkin ayah/ibu kalian belum lelah mencari penghidupan. Selamat berbahagia dan semoga memiliki keturunan yang hebat. Bersyukurlah kalian yang mampu memutuskan rehat sejenak, mungkin kalian tak perlu menyekolahkan adik atau kalian memang anak tunggal yang lebih diinginkan berada di rumah. Keberadaan kalian menjadi bagian kebahagiaan keluarga. Bersyukurlah kalian yang bebas menunda kelulusan, mungkin aset ayah ibu masih cukup untuk hidup keluarga. Semoga status mahasiswanya bermanfaat.

Sumber gambar: pinterest.com
Pun kami, tak perduli laki-laki ataupun perempuan, bersyukur diberi kesempatan menikmati perjuangan memenuhi penghidupan. Menunjuk diri menjadi yang bertanggujawab. Kami hanya ingin memastikan adik-adik kami dapat menempuh pendidikan yang layak. Kami ingin orang tua kami segera melepas lelah dari bekerja serabutan, dari pekerjaan yang melinukan otot, dari pekerjaan yang tiada libur, dari pikiran mengisi meja makan keesokan hari. Kami ingin mereka punya banyak waktu menikmati sore bersama cucu mereka, menonton TV, menikmati teh panas dan pisang goreng, mengikuti pengajian, wisata religi bersama teman dan saudara yang lain.

Kami ingin memperbaiki dapur kami dan memampukan keluarga menikmati susu dan buah setiap hari. Kami ingin meredam cibiran, mengembalikan pinjaman, juga membelanjakan untuk orang diluar keluarga kami, menyisihkan untuk kehidupan nanti. Secepatnya. Karena  kami tak tahu seberapa panjang umur. Bukan hanya orang tua atau keluarga yang lain, namun juga umur kami. Semakin cepat terwujud maka semakin panjang dapat dirasakan.

Sungguh, bukan kami tak ingin menimba ilmu yang lebih tinggi dengan menempuh S2. Mungkin ada kesempatan untuk menjalaninya bersamaan, namun kami lebih nyaman jika dapat memastikan bahwa kami bekerja. Kami juga menempa diri meningkatkan kemampuan. Bukan kami sekonyong-konyong berorientasi pada uang, untuk kemewahan. Ada yang ingin kami wujudkan.

Sungguh, bukan kami tak ingin segera menggenapkan separuh agama kami. Mungkin bekerja dan menikah juga bukan pilihan, keduanya dapat beriringan. Namun ternyata, Tuhan baru membuka satu jalan untuk kami, kami dimudahkan untuk fokus memperjuangkan karir.

Esok hari, perjalanan hidup, pekerjaan, jodoh, siapa yang tahu? Selamat berjuang dijalan masing-masing.

No comments:

Post a Comment