Notes ini kembali saya terima dari komunitas ngaji yuk!
ISRAEL (SuaraMedia) – Laporan terkini menyebutkan bahwa pembantaian masal yang dilakukan tentara Israel selama 22 hari serbuan mereka telah diatur dan diizinkan oleh pemerintahan mereka.
Mengutip beberapa kesaksian tentara Israel pada Kamis lalu, sebuah surat kabar Israel melaporkan bahwa para tentara Israel juga diizinkan untuk melakukan perusakan terhadap barang-barang milik penduduk sipil Gaza.
Kesaksian beberapa tentara dalam pengadilan Oranim Academic College di Tivon mengatakan bahwa para tentara diperbolehkan melakukan kekerasan selama operasi dijalankan.
Kesaksian tersebut termasuk penyataan seorang pemimpin infantri yang memaparkan seorang penembak jitu diizinkan melakukan serangan terhadap seorang ibu dan dua anaknya.
Jika terbukti benar, kesaksian para tentara tersebut dapat menyeret pemerintahan Israel ke dakwaan kejahatan perang.
Tentara Israel juga menyatakan mereka berhak melakukan penganiayaan selama introgasi dengan penduduk Gaza, jika diperlukan.
Seorang wartawan Aljazeera melaporkan dari Yerussalem, "Selama 22 hari serangan, militer Israel mengatakan mereka tidak melakukan pembunuhan terhadap penduduk sipil, namun kini untuk pertama kalinya sejak berakhirnya perang, tentara mereka sendiri melakukan serangan balik terhadap militer."
"Pernyataan para tentara tersebut sangat mematikan dan dapat menjadi masalah besar dalam militer Israel."
"Saat ini militer Israel mengatakan mereka akan melalui beberapa proses hukum berkaitan dengan "kecelakaan" yang mereka buat selama serangan."
"Satu hal penting yang perlu diingat, bahwa Israel tidak mengumumkan peraturan perang mereka, sehingga kesaksian para tentara sangat mungkin dapat menjadi senjata makan tuan."
Mikhael Manekin dari organisasi veteran tentara Israel telah mengumpulkan beberapa bukti selama perang Gaza.
"Kesaksian para tentara sama persis dengan apa yang kami temukan. Ketika mereka menceritakan kejahatan mereka, itulah yang sebenarnya terjadi,"katanya.
Salah seorang tentara bersaksi, "Ada sebuah rumah dengan keluarga didalamnya. Kami diperintahkan untuk mengumpulkan mereka dalam satu ruangan, dan pasukan yang lain memasuki ruangan tersebut ketika kami meninggalkannya. Beberapa hari kemudian kami mendapat perintah untuk membebaskan keluarga tersebut. Namun ketika kami menaiki tangga, kami melihat mereka dipaksa berdiri di atap rumah, dengan penembak jitu di sisi lain atap rumah."
"Seorang komandan pasukan membiarkan seorang ibu dan dua anaknya dan memberi tahu mereka agar berdiri di sebelah kanan. Mereka tidak mengerti, dan berdiri di sebelah kiri, namun dia (komandan) lupa memberi tahu bahwa dia telah membiarkan keluarga tersebut telah dibebaskan, dan tanpa perintah seorang penembak jitu menembak mati ibu dan kedua anaknya di tempat."
Terdapat pula kesaksian yang mengatakan komandan pasukan mengizinkan pasukan mereka untuk melakukan pembersihan rumah dan menembak penduduk tanpa peringatan terlebih dahulu.
Pengakuan para tentara Israel tentang perilaku brutal mereka dalam agresi ke Jalur Gaza kemarin tentu saja membuat panik militer Israel karena Menteri Pertahanan Israel Ehud Barak selalu membanggakan milter Israel sebagai militer yang "paling bermoral" di dunia.
"Kami punya militer yang paling bermoral di dunia. Mereka siap melaksakan perintah dari pemerintah. Saya meyakinkan bahwa setiap insiden yang dilakukan oleh setiap personel akan diselidiki," kata Barak seperti dikutip Radio Israel.
Israel seringkali mengelak kejahatan mereka dengan mengatakan mereka berusaha menghentikan roket yang diluncurkan kelompok pejuang Hamas di Jalur Gaza.
Pada 18 Januari lalu, gencatan senjata telah diucapkan setelah lebih dari 1.300 orang menjadi korban, termasuk ratusan anak-anak dan wanita. Sedang hanya tiga warga sipil dan sepuluh tentara Israel yang tewas.
Selama serbuan tersebut, militer Israel juga merubah ketetapan perang mereka dengan memberikan perintah kepada pasukan mereka untuk membunuh siapa saja tanpa terkecuali, dan menyebut siapapun sebagai teroris.
Danny Zamir, kepala pengadilan militer, pada Rabu lalu berpendapat bahwa dia tidak mengetahui apa maksud dari kesaksian para tentara tersebut.
Setelah mendengar kesaksian mereka, Zamir segera memberi tahu Gabi Askenazi mengenai kekhawatirannya akan adanya kerusakan moral dalam militer Israel.
Israel sendiri mengatakan mereka telah menjamin keamanan para tentara yang turut andil dalam operasi tersebut, menurut Perdana Menteri Israel yang telah mengundurkan diri, Ehud Olmert.
Olmert mengatakan dia telah meminta Menteri Kehakiman Daniel Friedman untuk memimpin komite antar-menteri untuk memberikan perlindungan kepada siapa saja yang terkait operasi tersebut.
Advokat militer Brigadir Jenderal Avichai Mendelblit memerintahkan agar unit investigasi Polisi Militer melakukan penyelidikan menyusul pengakuan para tentara Zionis yang ikut serta dalam agresi brutal Israel ke Jalur Gaza. Apalagi para tentara itu mengungkapkan bahwa mereka berani membantai warga sipil dan merusak bangunan-bangunan sipil karena mendapatkan perlindungan penuh dari para eselon militer Israel.
Sejumlah lembaga hak asasi manusia di Israel sendiri mendesak agar segera dilakukan penyelidikan atas agresi brutal Israel ke Gaza. Lembaga HAM Yesh Din dalam pernyataannya mengungkapkan, enam minggu setelah berakhirnya operasi militer Israel ke Gaza, sudah banyak pengakuan yang menguatkan dugaan kejahatan perang dan kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh pasukan, pejabat militer dan pejabat pemerintahan Israel.
"Tapi sampai saat ini, belum ada satu pun penyelidikan yang dilakukan," demikian pernyataan Yesh Din. (dikutip oleh SuaraMedia.com)
ISRAEL (SuaraMedia) – Laporan terkini menyebutkan bahwa pembantaian masal yang dilakukan tentara Israel selama 22 hari serbuan mereka telah diatur dan diizinkan oleh pemerintahan mereka.
Mengutip beberapa kesaksian tentara Israel pada Kamis lalu, sebuah surat kabar Israel melaporkan bahwa para tentara Israel juga diizinkan untuk melakukan perusakan terhadap barang-barang milik penduduk sipil Gaza.
Kesaksian beberapa tentara dalam pengadilan Oranim Academic College di Tivon mengatakan bahwa para tentara diperbolehkan melakukan kekerasan selama operasi dijalankan.
Kesaksian tersebut termasuk penyataan seorang pemimpin infantri yang memaparkan seorang penembak jitu diizinkan melakukan serangan terhadap seorang ibu dan dua anaknya.
Jika terbukti benar, kesaksian para tentara tersebut dapat menyeret pemerintahan Israel ke dakwaan kejahatan perang.
Tentara Israel juga menyatakan mereka berhak melakukan penganiayaan selama introgasi dengan penduduk Gaza, jika diperlukan.
Seorang wartawan Aljazeera melaporkan dari Yerussalem, "Selama 22 hari serangan, militer Israel mengatakan mereka tidak melakukan pembunuhan terhadap penduduk sipil, namun kini untuk pertama kalinya sejak berakhirnya perang, tentara mereka sendiri melakukan serangan balik terhadap militer."
"Pernyataan para tentara tersebut sangat mematikan dan dapat menjadi masalah besar dalam militer Israel."
"Saat ini militer Israel mengatakan mereka akan melalui beberapa proses hukum berkaitan dengan "kecelakaan" yang mereka buat selama serangan."
"Satu hal penting yang perlu diingat, bahwa Israel tidak mengumumkan peraturan perang mereka, sehingga kesaksian para tentara sangat mungkin dapat menjadi senjata makan tuan."
Mikhael Manekin dari organisasi veteran tentara Israel telah mengumpulkan beberapa bukti selama perang Gaza.
"Kesaksian para tentara sama persis dengan apa yang kami temukan. Ketika mereka menceritakan kejahatan mereka, itulah yang sebenarnya terjadi,"katanya.
Salah seorang tentara bersaksi, "Ada sebuah rumah dengan keluarga didalamnya. Kami diperintahkan untuk mengumpulkan mereka dalam satu ruangan, dan pasukan yang lain memasuki ruangan tersebut ketika kami meninggalkannya. Beberapa hari kemudian kami mendapat perintah untuk membebaskan keluarga tersebut. Namun ketika kami menaiki tangga, kami melihat mereka dipaksa berdiri di atap rumah, dengan penembak jitu di sisi lain atap rumah."
"Seorang komandan pasukan membiarkan seorang ibu dan dua anaknya dan memberi tahu mereka agar berdiri di sebelah kanan. Mereka tidak mengerti, dan berdiri di sebelah kiri, namun dia (komandan) lupa memberi tahu bahwa dia telah membiarkan keluarga tersebut telah dibebaskan, dan tanpa perintah seorang penembak jitu menembak mati ibu dan kedua anaknya di tempat."
Terdapat pula kesaksian yang mengatakan komandan pasukan mengizinkan pasukan mereka untuk melakukan pembersihan rumah dan menembak penduduk tanpa peringatan terlebih dahulu.
Pengakuan para tentara Israel tentang perilaku brutal mereka dalam agresi ke Jalur Gaza kemarin tentu saja membuat panik militer Israel karena Menteri Pertahanan Israel Ehud Barak selalu membanggakan milter Israel sebagai militer yang "paling bermoral" di dunia.
"Kami punya militer yang paling bermoral di dunia. Mereka siap melaksakan perintah dari pemerintah. Saya meyakinkan bahwa setiap insiden yang dilakukan oleh setiap personel akan diselidiki," kata Barak seperti dikutip Radio Israel.
Israel seringkali mengelak kejahatan mereka dengan mengatakan mereka berusaha menghentikan roket yang diluncurkan kelompok pejuang Hamas di Jalur Gaza.
Pada 18 Januari lalu, gencatan senjata telah diucapkan setelah lebih dari 1.300 orang menjadi korban, termasuk ratusan anak-anak dan wanita. Sedang hanya tiga warga sipil dan sepuluh tentara Israel yang tewas.
Selama serbuan tersebut, militer Israel juga merubah ketetapan perang mereka dengan memberikan perintah kepada pasukan mereka untuk membunuh siapa saja tanpa terkecuali, dan menyebut siapapun sebagai teroris.
Danny Zamir, kepala pengadilan militer, pada Rabu lalu berpendapat bahwa dia tidak mengetahui apa maksud dari kesaksian para tentara tersebut.
Setelah mendengar kesaksian mereka, Zamir segera memberi tahu Gabi Askenazi mengenai kekhawatirannya akan adanya kerusakan moral dalam militer Israel.
Israel sendiri mengatakan mereka telah menjamin keamanan para tentara yang turut andil dalam operasi tersebut, menurut Perdana Menteri Israel yang telah mengundurkan diri, Ehud Olmert.
Olmert mengatakan dia telah meminta Menteri Kehakiman Daniel Friedman untuk memimpin komite antar-menteri untuk memberikan perlindungan kepada siapa saja yang terkait operasi tersebut.
Advokat militer Brigadir Jenderal Avichai Mendelblit memerintahkan agar unit investigasi Polisi Militer melakukan penyelidikan menyusul pengakuan para tentara Zionis yang ikut serta dalam agresi brutal Israel ke Jalur Gaza. Apalagi para tentara itu mengungkapkan bahwa mereka berani membantai warga sipil dan merusak bangunan-bangunan sipil karena mendapatkan perlindungan penuh dari para eselon militer Israel.
Sejumlah lembaga hak asasi manusia di Israel sendiri mendesak agar segera dilakukan penyelidikan atas agresi brutal Israel ke Gaza. Lembaga HAM Yesh Din dalam pernyataannya mengungkapkan, enam minggu setelah berakhirnya operasi militer Israel ke Gaza, sudah banyak pengakuan yang menguatkan dugaan kejahatan perang dan kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh pasukan, pejabat militer dan pejabat pemerintahan Israel.
"Tapi sampai saat ini, belum ada satu pun penyelidikan yang dilakukan," demikian pernyataan Yesh Din. (dikutip oleh SuaraMedia.com)
No comments:
Post a Comment