Aku pernah memperjuangkanmu saat ternyata kamu sedang memperjuangkan orang lain
Setiap kali pandanganku tak menjangkaumu, aku merindukanmu. Padahal ternyata, kau sedang ada untuk melepas rindu pada yang lain
Pada setiap larut aku mendapatimu di ruang kerjamu, aku mengkhawatirkanmu. Kedinginankah kamu? Laparkah kamu? Kesepiankah kamu? Tapi belakangan aku tahu, didetik yang sama, kau punya orang yang menemanimu dari balik telefon
Kepalaku pernah lama penuh bayanganmu. Satu minggu? Dua minggu? Tidak! Puluhan minggu! Dan kini aku sadar, bahkan aku tak pantas bertanya adakah kamu memikirkanku
Aku yang kata orang sangat tertutup, pernah mempercayakanmu sedikit ceritaku. Ah, kau terlalu asing untuk tau aku sedalam itu
I found it so hard to approach you, but then I realize its not because I am too bad at it, but because you are not open yourself for me
Kemarin, aku sendirian memperjuangkanmu, sendirian bersabar akan ketusnya pesanmu. Pun kini, aku sendirian menahan luka, sendirian menghapus memori akan binar wajahmu saat kau bersua dengannya via suara. Berjuang menahan diri untuk tidak terus menerus bersangka sedang apa kau di sana dengannya dan seberapa bahagia engkau
I will be okay and I shouldnt regret that at all. If I do so, one day I will regret for regretting it today. I am fine.
No comments:
Post a Comment